Target Digeruduk Orang Tua Gara-Gara Event Kartu Pokémon, Siapa Salah?
Baca dalam 60 detik
- Target menggelar perayaan 30 tahun Pokémon TCG pada 27 September, tetapi acara berujung kekecewaan karena ratusan orang tua mengira ini acara keluarga.
- Kesalahpahaman muncul dari tangkapan layar internal yang menyebut 'family day' dan gambar buatan komunitas restock yang dianggap sebagai promosi resmi.
- Insiden ini menjadi pelajaran bagi peritel lain, termasuk Best Buy yang akan menggelar acara serupa, agar tidak menuai protes serupa.

Target menggelar perayaan 30 tahun Pokémon Trading Card Game (TCG) pada 27 September 2025, namun acara tersebut berubah menjadi kekacauan setelah ratusan orang tua yang mengira ini adalah acara keluarga pulang dengan kekecewaan. Mereka mengeluh karena anak-anak mereka tidak mendapatkan kartu yang dijanjikan, sementara antrean panjang dan persediaan terbatas membuat suasana memanas.
Acara yang digelar di sejumlah gerai Target di Amerika Serikat itu sejatinya menawarkan voucher pembelian dua tin Pokémon bagi 100 pengunjung pertama, plus goodie bag berisi kartu promo Mewtwo, buku sejarah Pokémon, dan kit menggambar. Namun, informasi yang beredar di media sosial menyebut acara ini sebagai 'family event' atau hari keluarga, sehingga banyak orang tua datang dengan ekspektasi anak-anak mereka akan diprioritaskan.
Seorang orang tua yang membawa anak berusia enam tahun mengaku tiba 30 menit sebelum acara dimulai dan mendapati antrean sudah lebih dari 200 orang. "Ini menyedihkan. Orang dewasa harus sadar diri dan berhenti merusak segalanya," tulisnya di Reddit. Di Facebook, orang tua lain menuturkan anaknya pulang dengan mata sembab karena tidak mendapat kartu sama sekali. "Target seharusnya malu," ujarnya.
Kemarahan orang tua sebenarnya berakar pada kesalahpahaman besar. Target tidak pernah secara resmi menyebut acara ini sebagai 'family event'. Di situs webnya, peritel hanya mengundang publik untuk merayakan 30 tahun Pokémon. Namun, jelang pengumuman resmi, beredar tangkapan layar komunikasi internal Target yang menyebut acara sebagai 'family day'. Gambar itu tidak dimaksudkan untuk publik dan dibuat sebelum rencana final. Kelompok restock TCG juga membuat gambar palsu yang menyerupai promosi resmi, memperkuat anggapan keliru tersebut.
Selain itu, kurangnya perencanaan dari pihak orang tua turut memperburuk situasi. Penggemar kartu veteran tahu bahwa antrean untuk perilisan Target bisa dimulai sejak dini hari. Datang ke gerai tanpa mengecek terlebih dahulu atau tiba tepat saat acara dimulai hampir dipastikan gagal. Setiap gerai Target memiliki kebijakan berbeda; ada yang membagikan tiket sejak toko dibuka, ada yang tidak menerima kartu promo, dan ada yang tidak mengadakan giveaway sama sekali. Tanpa riset kecil, kekecewaan anak-anak sulit dihindari.
"Target seharusnya malu," tulis seorang orang tua di Facebook setelah anaknya pulang tanpa kartu.
Insiden ini bukan pertama kali terjadi. Perilisan kartu Pokémon edisi terbatas sering memicu kerumunan besar dan keluhan dari pembeli yang merasa dirugikan. Namun, kasus di Target menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas antara peritel dan konsumen, terutama ketika melibatkan anak-anak. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi saat perilisan produk edisi terbatas, seperti sneaker atau gadget, di mana informasi yang simpang siur di media sosial dapat memicu antrean panjang dan kekecewaan.
Bagi pembaca di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa informasi resmi dari penyelenggara harus selalu dicek. Komunitas penggemar sering kali menjadi sumber informasi pertama, tetapi tidak selalu akurat. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga dapat mendorong peritel untuk memberikan keterangan yang transparan terkait acara promosi, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
Ke depan, Best Buy dijadwalkan menggelar acara serupa untuk merayakan 30 tahun Pokémon TCG. Pelajaran dari Target bisa menjadi acuan: apakah Best Buy akan memperjelas mekanisme, membatasi jumlah pengunjung, atau justru mengulang kesalahan yang sama? Yang jelas, antusiasme terhadap Pokémon tidak menunjukkan tanda-tanda surut, dan peritel harus siap menghadapi gelombang penggemar yang tidak ingin kehilangan momen bersejarah.



