Malaysia Bawa Memori 2019 ke SUGBK, Syahmi Safari: Indonesia Kini Berbeda
Baca dalam 60 detik
- Bek Malaysia, Syahmi Safari, menyebut kemenangan dramatis 3-2 di SUGBK pada 2019 sebagai modal psikologis jelang bentrokan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.
- Hanya dua pemain dari skuad 2019 yang tersisa di tim Malaysia, menandakan regenerasi besar-besaran di kubu Harimau Malaya.
- Laga di SUGBK menjadi penentu siapa yang berhak memuncaki klasemen sementara, dengan kedua tim sama-sama mengoleksi tiga poin dari laga perdana.

Bek Timnas Malaysia, Muhammad Syahmi Safari, secara terbuka membangkitkan kenangan kemenangan 3-2 atas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada 2019 sebagai senjata psikologis menjelang duel matchday kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (28/9/2026) malam WIB. Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa Harimau Malaya tidak datang ke Jakarta sekadar untuk bertahan, melainkan menargetkan kemenangan yang bisa mengubah peta persaingan grup.
Laga bertajuk Derbi Serumpun ini bukan sekadar bentrokan gengsi. Baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama mengantongi tiga poin dari pertandingan pertama. Malaysia memuncaki klasemen berkat selisih gol setelah menaklukkan Bangladesh 3-0, sementara Indonesia menempel ketat di posisi kedua usai menundukkan Singapura 2-0 lewat gol Ragnar Oratmangoen dan eksekusi penalti Ole Romeny. Kemenangan di SUGBK akan memberi satu tim kendali penuh atas Grup A, sementara kekalahan bisa membuat langkah mereka ke fase berikutnya jauh lebih terjal.
Syahmi, yang kini memperkuat Johor Darul Ta'zim, mengakui bahwa memori 2019 masih membekas kuat. Meski saat itu hanya menghangatkan bangku cadangan, ia merasakan langsung atmosfer SUGBK yang ia sebut sebagai salah satu pengalaman terbaik dalam kariernya. "Saya masih ingat betul momen itu. Meski tidak bermain, saya bisa merasakan intensitas dan tekanan luar biasa dari puluhan ribu suporter," ujarnya kepada Bernama. Namun, pemain berusia 28 tahun itu juga menyadari bahwa lanskap kekuatan kedua tim telah berubah drastis. "Kami harus realistis. Indonesia sekarang jauh berbeda, begitu pula Malaysia. Laga nanti akan sangat sengit," tambahnya.
Menariknya, rombongan Malaysia yang datang ke Jakarta nyaris seluruhnya wajah baru. Hanya Syahmi dan bek naturalisasi La'Vere Corbin-Ong yang masih bertahan dari skuad 2019. Pergantian generasi ini menunjukkan bahwa pelatih Pau Marti Vicente tengah membangun fondasi baru, meski tetap membawa serta pengalaman dari mereka yang pernah merasakan pahit-manis bersaing dengan Indonesia. Di sisi lain, Timnas Indonesia juga mengalami transformasi besar, dengan komposisi pemain yang jauh berbeda dari tujuh tahun silam.
Bagi publik Indonesia, duel ini lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Derbi Serumpun selalu memuat dimensi emosional dan sosial yang kental, terlebih ketika dimainkan di hadapan puluhan ribu pendukung di SUGBK. Kemenangan atas Malaysia tidak hanya bernilai tiga poin, tetapi juga menjadi penegasan superioritas regional yang sering menjadi tolok ukur keberhasilan program pembinaan. Sebaliknya, kekalahan akan memicu gelombang kritik terhadap arah pengembangan tim nasional, terutama menjelang kompetisi-kompetisi besar berikutnya.
Dari kacamata taktik, pertemuan ini akan menguji ketajaman lini serang Indonesia yang di laga perdana tampil efektif lewat Oratmangoen dan Romeny. Malaysia, dengan modal kemenangan telak atas Bangladesh, diprediksi mengandalkan transisi cepat dan disiplin bertahan. Kehadiran Syahmi di lini belakang menjadi kunci untuk meredam tekanan suporter tuan rumah yang dikenal mampu mengguncang mental pemain lawan. Pengalaman bermain di SUGBK, meski hanya sebagai cadangan, setidaknya memberi gambaran bagi Syahmi tentang apa yang harus diantisipasi.
Pertanyaan besarnya, apakah memori 2019 masih relevan sebagai pemicu motivasi, atau justru menjadi beban psikologis karena komposisi kedua tim sudah berubah total? Yang jelas, laga nanti malam akan menjadi ujian sesungguhnya bagi klaim Syahmi bahwa Malaysia siap mengulang sejarah. Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan emas untuk membalikkan narasi dan membuktikan bahwa era baru Skuad Garuda telah benar-benar dimulai.



