GTA Klasik Makin Sulit Diakses, Rockstar Dianggap Lalai Jaga Warisan
Baca dalam 60 detik
- Sebagian besar seri GTA lawas tidak tersedia di platform modern, memicu kritik terhadap komitmen Rockstar dalam pelestarian game.
- Kebijakan Rockstar yang hanya fokus pada GTA 5 dan Online dinilai mengabaikan nilai sejarah dan potensi pendapatan dari katalog klasik.
- Para penggemar dan pengamat menuntut Rockstar merilis kembali game-game lama agar dapat diakses secara legal dan mudah.

Rockstar Games menghadapi sorotan tajam terkait minimnya ketersediaan seri Grand Theft Auto (GTA) klasik di platform konsol generasi terkini. Dari 16 judul GTA yang pernah dirilis, 11 di antaranya tidak dapat dimainkan di PlayStation 5, platform yang selama ini identik dengan waralaba tersebut. Situasi ini memicu pertanyaan tentang komitmen perusahaan dalam melestarikan warisan budayanya sendiri.
Kenyataan pahit ini terungkap dalam analisis yang diterbitkan Polygon, yang menyoroti absennya judul-judul penting seperti GTA 4, GTA 2, Liberty City Stories, Vice City Stories, hingga ekspansi The Lost and Damned dan The Ballad of Gay Tony. Hanya GTA 5, GTA Online, dan trilogi klasik era PS2 (GTA 3, Vice City, San Andreas) yang tetap dapat diakses di perangkat modern. Sementara itu, game 2D awal dan spin-off handheld justru terkatung-katung tanpa dukungan resmi.
Fenomena ini bukan hal baru di industri game, di mana karya seni sering kali tergerus oleh kemajuan teknologi setiap 7โ10 tahun. Namun, untuk seri sebesar GTA, kelalaian ini dianggap janggal. Bandingkan dengan The Legend of Zelda yang hanya kehilangan 6 dari 21 judul utamanya di Nintendo Switch 2, atau Final Fantasy yang cuma dua dari 16 game utamanya tidak bisa dimainkan di PS5. Rockstar dinilai tidak menunjukkan upaya serius untuk menjaga katalognya tetap hidup.
Kegagalan Rockstar merawat game klasiknya juga terlihat dari perilisan Grand Theft Auto: The Trilogy โ The Definitive Edition pada 2021. Remaster yang digarap pihak ketiga itu menuai kritik karena kualitas teknis yang buruk dan perubahan artistik yang tidak konsisten. Insiden ini memperlihatkan seolah Rockstar tidak peduli dengan warisan game lamanya, dan tidak menyangka penggemar akan bereaksi keras.
"Rockstar tampaknya malu dengan masa lalu GTA. Mereka tidak ingin memudahkan penggemar memainkan GTA 2 atau Vice City Stories karena tidak sesuai dengan visi GTA saat ini," tulis analisis tersebut.
Perubahan sikap Rockstar tidak lepas dari transformasi perusahaan. Jika pada 2000-an hingga awal 2010-an mereka rajin merilis game GTA dengan berbagai skala, kini fokus mereka beralih ke proyek raksasa tunggal seperti Red Dead Redemption 2 dan GTA Online yang mendatangkan pendapatan besar. Alhasil, GTA pun berubah dari merek yang selalu hadir menjadi acara langka yang dinanti.
Meski demikian, keputusan untuk tidak menghadirkan game lawas di platform modern dinilai sebagai langkah picik. Penggemar setia cenderung menghargai upaya menghidupkan kembali game yang terlupakan, sekaligus memperkuat hubungan emosional dengan waralaba. Nintendo, misalnya, tetap menyediakan Zelda 2: The Adventure of Link meski game itu dianggap penyimpangan, karena sadar manfaat jangka panjangnya.
Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar konsumsi berita hiburan. Komunitas gamer Tanah Air, yang merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, juga merasakan dampaknya. Banyak pemain muda yang ingin mengenal sejarah GTA melalui platform legal justru terhambat. Jika Rockstar membuka akses, potensi pendapatan dari pasar Indonesia bisa meningkat, sekaligus mendorong edukasi tentang evolusi desain game.
Ke depan, tekanan dari penggemar dan pengamat industri diprediksi terus menguat. Pertanyaannya, apakah Rockstar akan mengubah haluan dan mulai merilis game klasiknya secara resmi, atau tetap bertahan pada strategi eksklusivitas yang mengabaikan nilai sejarah?



