Dolly Parton Meninggal, Perang Warisan: Manajer vs Keponakan di Balik Layar
Baca dalam 60 detik
- Dolly Parton meninggal 25 Agustus 2025 di usia 80 tahun setelah berjuang melawan kanker, memicu sengketa hukum antara manajer lama dan keponakannya.
- She's Alive LLC yang dikelola manajer Danny Nozell menuduh Bryan Seaver melakukan pemerasan dan ancaman, sementara Bryan membantah dan menyebutnya sebagai obrolan emosional saat berduka.
- Publik menanti bagaimana warisan budaya dan aset Dolly Parton akan dikelola, termasuk museum yang akan dibuka 29 September dan program literasi Imagination Library.

Kepergian ikon country Dolly Parton pada 25 Agustus 2025 di usia 80 tahun tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memicu perseteruan hukum antara manajer lamanya, Danny Nozell, dan keponakannya sendiri, Bryan Seaver. Sengketa ini mencuat ke publik setelah She's Alive LLC, perusahaan yang mengelola kepentingan bisnis Parton dan dikendalikan Nozell, mengajukan gugatan yang menuduh Bryan melakukan pemerasan dan perilaku mengancam. Pengadilan Tennessee pun mengeluarkan perintah penahanan sementara terhadap Bryan.
Bryan, yang telah menjabat sebagai kepala keamanan Parton selama lebih dari dua dekade, diberhentikan dari posisinya pekan lalu. Setelah pemecatan itu, ia menyatakan tekadnya untuk memenuhi arahan terakhir Parton: melindungi keluarga. "Kami tetap teguh untuk menjalankan perintah terakhirnya guna melindungi keluarganya, dan kami menolak diintimidasi oleh pihak-pihak yang kami yakini bertindak dengan itikad buruk dan berniat mengambil keuntungan dari kehidupan seseorang yang dengan sukarela memberi begitu banyak," ujarnya.
Dalam dokumen pengadilan, She's Alive LLC menuduh Bryan melancarkan "kampanye ancaman yang tidak senonoh, disengaja, dan meningkat" terhadap orang-orang yang terkait dengan estate. Bryan disebut memanfaatkan pengalamannya sebagai kontraktor militer dan akses terhadap senjata dalam serangkaian pesan. Salah satu pesan yang disertakan dalam berkas pengadilan berbunyi, "Yang saya lakukan hanyalah perang... semua orang harus khawatir tentang apa yang mungkin saya lakukan." Pesan lain menyebut, "Uangnya lebih baik lebih besar dari yang bisa saya hasilkan di tempat lain atau saya akan menghancurkan semua orang. Saya akan menjadi tangan pembalasan untuk seluruh keluarga saya."
Bryan membantah bahwa pesan-pesan itu merupakan ancaman. Kepada TMZ, ia mengatakan, "Tidak ada dalam gugatan ini yang merupakan ancaman dan sebagian besar komentar saya pertahankan." Ia menambahkan bahwa komunikasi tersebut adalah obrolan pribadi dengan Danny yang ia anggap teman. "Saya berbicara terus terang secara pribadi dengan Danny yang saya pikir teman saya, dan dia menganggap dirinya gangster. Banyak dari pesan-pesan ini adalah obrolan kemarahan dua orang yang menangis bersama di telepon saat kami berduka," ujarnya.
Sumber yang berbicara kepada Page Six mengungkapkan kekhawatiran bahwa Danny memiliki ambisi terhadap properti dan warisan Dolly. "Dia ingin keluarga keluar dari gambaran, dan ingin mengubah rumahnya menjadi Graceland," klaim sumber tersebut. Sumber itu juga menyebut bahwa Dolly dan Danny sebelumnya bekerja sama dengan baik, tetapi menambahkan, "Danny tidak memiliki hati seperti Dolly." Klaim tentang niat Danny ini belum dibuktikan di pengadilan.
Di tengah perseteruan, saudara-saudari Dolly angkat bicara. Freida Parton menulis di media sosial, "Tidak ada seorang pun di antara keluarga Parton/Owens yang memperebutkan estate Dolly. Kami semua mencintai Bryan, seperti kami semua saling mencintai." Stella Parton menambahkan di Facebook, "Semua keluarga memiliki pergulatan yang sama karena kita semua hidup di dunia ini menjalani pengalaman manusia." Ia menegaskan, "Kami masih utuh dan terus maju karena anak-anak dan cucu-cucu kami mencari kekuatan dan bimbingan dari kami selama masa kehilangan dan kebingungan ini."
Terlepas dari konflik, rencana untuk melestarikan dan memperluas warisan budaya Dolly terus berjalan. Museum Dolly's Life of Many Colors akan dibuka di Nashville pada 29 September, sementara koleksi boneka Dolly edisi terbatas yang disetujui sebelum kematiannya telah terjual habis. Proyek museum ini adalah salah satu dari beberapa usaha yang dikembangkan Dolly di akhir hidupnya.
Karier Dolly Parton membentang selama tujuh dekade dan menghasilkan lagu-lagu abadi seperti "Jolene", "9 to 5", "Coat of Many Colors", dan "I Will Always Love You" yang menjadi hits global bagi Whitney Houston. Ia juga membintangi film komedi tahun 1980 "9 to 5" bersama Jane Fonda dan Lily Tomlin, sementara kerajaan bisnisnya meliputi Dollywood di Tennessee serta berbagai usaha pariwisata dan hiburan. Filantropinya melalui Imagination Library, program literasi yang telah mendistribusikan jutaan buku untuk anak-anak, menjadi bagian utama dari kehidupan publiknya. Setelah kematiannya, keluarga meminta penggemar untuk menyumbang ke program tersebut alih-alih mengirim bunga.
Bagi publik Indonesia, kisah Dolly Parton ini menjadi cermin tentang pentingnya perencanaan warisan dan perlindungan aset intelektual seniman. Di Indonesia, banyak legenda musik yang karya dan warisannya kurang terkelola dengan baik setelah meninggal, sehingga berpotensi menimbulkan sengketa antar ahli waris atau pihak ketiga. Kasus Dolly dapat mendorong kesadaran akan perlunya pengelolaan estate yang profesional, termasuk museum dan yayasan, agar nilai budaya dan ekonomi tetap lestari. Selain itu, kisah ini menyoroti bagaimana konflik keluarga bisa menjadi tontonan publik yang mengancam reputasi warisan itu sendiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah warisan Dolly Parton akan tetap utuh sebagai warisan budaya yang dinikmati semua orang, atau justru terpecah oleh pertempuran hukum yang berkepanjangan. Akankah keluarga dan manajer mampu menyelesaikan perbedaan mereka demi menghormati keinginan Dolly, atau akankah warisannya menjadi pelajaran pahit tentang betapa rapuhnya warisan ketika tidak ada penerus yang jelas?



