Jeff Bezos dan Konsorsium Dikabarkan Segera Kuasai Sepertiga Saham Liverpool: Valuasi Tembus Rp95 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium yang digawangi Jeff Bezos dan Eduardo Saverin dikabarkan hampir mencapai kesepakatan membeli 33% saham Liverpool, dengan valuasi klub mencapai US$5,9 miliar.
- Kesepakatan ini akan menjadi salah satu valuasi tertinggi dalam sejarah akuisisi klub sepak bola, menandai era baru kepemilikan asing di Premier League.
- Jika terealisasi, investasi ini berpotensi mengubah peta persaingan klub-klub Eropa dan membuka peluang bagi investor Asia, termasuk Indonesia, untuk bermain di level tertinggi.

Kabar mengejutkan datang dari Premier League: konsorsium yang dipimpin oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos, dikabarkan hampir menyelesaikan kesepakatan untuk membeli sekitar sepertiga saham Liverpool FC. Menurut laporan sejumlah media Inggris, nilai transaksi ini akan mematok valuasi klub Merseyside tersebut pada angka fantastis, sekitar US$5,9 miliar atau setara Rp95 triliun.
Laporan yang pertama kali diungkapkan oleh Sky News menyebutkan bahwa konsorsium ini tidak hanya berisi Bezos, tetapi juga melibatkan Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook. Yang menarik, konsorsium ini digawangi oleh Amit Bhatia, menantu dari taipan baja Lakshmi Mittal, yang sebelumnya pernah memegang saham di klub divisi dua Inggris, Queens Park Rangers. Jika kesepakatan ini terwujud, Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool sejak 2010, diperkirakan akan mengumumkannya dalam pekan ini.
Kabar ini muncul di tengah periode transisi yang dihadapi Liverpool. Setelah sukses merebut gelar Premier League pada 2025, tim asuhan Arne Slot harus kehilangan mesin gol mereka, Mohamed Salah, yang memutuskan hengkang. Di sisi lain, Michael Edwards, arsitek di balik kesuksesan Liverpool meraih gelar liga pertama dalam 30 tahun pada 2020, juga telah meninggalkan jabatannya sebagai CEO sepak bola di FSG pada Juli lalu.
FSG sendiri selama ini dikenal sebagai pemilik yang hati-hati dalam mengelola keuangan klub. Namun, mereka telah membuka peluang bagi investor eksternal untuk masuk, meski tetap ingin memegang kendali penuh. Nilai investasi yang dilaporkan ini menunjukkan betapa nilai Liverpool telah melonjak tajam selama 16 tahun kepemilikan FSG. Ketika diakuisisi pada 2010, klub dibeli dengan harga sekitar ยฃ300 juta, dan kini valuasinya melonjak lebih dari 14 kali lipat.
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki resonansi tersendiri. Investasi besar dari tokoh global seperti Bezos ke klub Premier League menunjukkan bahwa sepak bola Eropa masih menjadi lahan subur bagi para konglomerat teknologi. Fenomena ini juga bisa menjadi pelajaran bagi pengelola klub-klub Indonesia yang tengah berbenah, terutama dalam hal profesionalisme manajemen dan pengembangan nilai aset. Jika Liverpool yang sudah mapan saja masih membutuhkan suntikan dana segar untuk bersaing, klub-klub Indonesia tentu perlu lebih kreatif dalam mencari sumber pendanaan.
Para analis menilai langkah Bezos ini bukan sekadar investasi finansial, melainkan juga strategi untuk memperluas pengaruh di industri olahraga global. Dengan masuknya Bezos, Liverpool berpotensi mendapatkan akses ke teknologi mutakhir, seperti analisis data dan pengalaman penggemar digital, yang selama ini menjadi keunggulan Amazon. Ini bisa menjadi pembeda bagi Liverpool dalam persaingan ketat dengan klub-klub kaya lainnya seperti Manchester City dan Chelsea.
Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana reaksi para penggemar Liverpool. Sebagian suporter mungkin khawatir bahwa keterlibatan miliarder teknologi akan mengubah identitas klub yang selama ini dijunjung tinggi. Di sisi lain, ada juga yang berharap investasi ini akan membawa Liverpool ke level yang lebih tinggi, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.
Belum ada komentar resmi dari pihak Liverpool maupun FSG terkait kabar ini. Namun, jika kesepakatan ini benar-benar terwujud, ini akan menjadi salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris, dan bisa menjadi preseden bagi klub-klub lain untuk membuka diri pada investor luar. Akankah langkah ini menjadi awal dari era baru di mana konglomerat teknologi menguasai sepak bola Eropa? Kita tunggu saja perkembangannya.



