70 Tahun Nihon Hidankyo: Seruan Tanpa Henti untuk Dunia Bebas Nuklir
Baca dalam 60 detik
- Organisasi penyintas bom atom Jepang, Nihon Hidankyo, menegaskan kembali komitmennya pada peringatan 70 tahun berdirinya.
- Kelompok peraih Nobel Perdamaian 2024 ini terus mengampanyekan penghapusan senjata nuklir melalui kesaksian para hibakusha.
- Peringatan ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat advokasi perlucutan senjata nuklir di kawasan Asia.

Nihon Hidankyo, organisasi penyintas bom atom Jepang, kembali menegaskan tekadnya untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir di tengah peringatan 70 tahun berdirinya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin, kelompok yang juga dikenal sebagai Konfederasi Jepang untuk Organisasi Penderita Bom A dan H ini menyerukan partisipasi aktif setiap warga dunia dalam membangun masyarakat yang bebas dari perang dan nuklir.
Didirikan di Nagasaki pada 10 Agustus 1956, Nihon Hidankyo telah menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak sosial dan ekonomi para hibakushaโsebutan bagi penyintas bom atomโbaik yang tinggal di Jepang maupun di luar negeri. Penghargaan Nobel Perdamaian yang diraih pada 2024 menjadi pengakuan internasional atas dedikasi mereka dalam menunjukkan melalui kesaksian langsung bahwa senjata nuklir tidak boleh digunakan lagi.
Sejarah kelam yang melatarbelakangi organisasi ini masih membekas. Diperkirakan sekitar 214.000 orang tewas akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus) pada 1945, menjelang akhir Perang Dunia II. Angka ini menjadi pengingat akan dampak kemanusiaan yang tak terukur dari penggunaan senjata pemusnah massal.
Bagi Indonesia, peringatan ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara yang pernah merasakan pahitnya konflik dan kini aktif dalam forum-forum internasional, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat suara dalam advokasi perlucutan senjata nuklir. Meski bukan negara pemilik nuklir, Indonesia dapat menjadi jembatan antara negara maju dan berkembang dalam mendorong dialog nonproliferasi di kawasan Asia, terutama mengingat dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Para analis menilai bahwa perjuangan Nihon Hidankyo tidak hanya relevan bagi Jepang, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Di tengah meningkatnya ketegangan global dan modernisasi senjata nuklir oleh beberapa negara, pesan organisasi ini menjadi semakin mendesak. Seperti diungkapkan dalam pernyataannya, "Setiap warga dunia yang akan membangun masyarakat manusia tanpa senjata nuklir dan perang. Kami akan terus menyerukannya selama kami hidup."
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan semangat ini ke dalam aksi nyata. Pertanyaan yang menggantung: mampukah komunitas internasional, termasuk Indonesia, mengambil peran lebih konkret dalam mendorong traktat perlucutan senjata nuklir yang mengikat? Atau akankah peringatan ini hanya menjadi seremonial belaka? Jawabannya bergantung pada kemauan politik dan tekanan publik yang berkelanjutan.



