Manchester United Tunjuk Eva Olid: Pelatih Tanpa Pengalaman WSL, Jawaban atas Ambisi yang Dipertanyakan?
Baca dalam 60 detik
- Klub raksasa Inggris resmi menggaet pelatih asal Spanyol, Eva Olid, dengan kontrak dua tahun plus opsi perpanjangan.
- Olid dianggap sebagai sosok pengembang pemain muda, sesuai arah baru klub, meski belum teruji di kompetisi elite Eropa.
- Langkah ini memicu tanda tanya besar tentang keseriusan United dalam bersaing di papan atas WSL musim ini.

Manchester United resmi menunjuk Eva Olid sebagai manajer anyar tim putri dengan kontrak dua tahun plus opsi perpanjangan satu musim. Keputusan ini diumumkan hanya sepekan setelah Marc Skinner hengkang secara mutual consent, meninggalkan kursi panas yang langsung diisi pelatih asal Spanyol berusia 40 tahun itu. Dengan kurang dari sebulan menuju laga pembuka WSL, langkah cepat ini menjadi sinyal kuat sekaligus taruhan besar bagi klub.
Olid datang dengan reputasi yang nyaris tanpa sorotan di panggung Eropa. Karier kepelatihannya selama lima tahun di Hearts, klub Skotlandia, menjadi satu-satunya bukti nyata. Ia berhasil membawa tim yang sempat terpuruk di dasar klasemen menjadi juara Scottish Women's Premier League (SWPL) musim laluโprestasi pertama dalam sejarah klub. Namun, torehan itu belum cukup untuk menjawab keraguan publik: apakah ia sanggup menghadapi tekanan mingguan WSL yang jauh lebih kompetitif?
Manajemen United menilai Olid memenuhi kriteria utama yang mereka cari: spesialis pengembangan pemain muda. Sumber internal klub menyebut, kemampuan Olid dalam meningkatkan performa individu menjadi pertimbangan krusial. Filosofi ini sejalan dengan arah baru klub yang ingin membangun skuad berbasis talenta muda. Meski begitu, pengamat menilai lompatan dari liga Skotlandia ke WSL adalah ujian yang sama sekali berbeda, baik dari segi intensitas maupun kualitas lawan.
Keputusan ini juga memunculkan pertanyaan lama: seberapa besar ambisi United terhadap tim putrinya? Kepergian Skinner yang diiringi kritik suporter tentang minimnya investasi membuat penunjukan Olid menjadi sorotan tajam. Olid sendiri menyambut tugas ini dengan antusias. "Kesempatan menjadi pelatih kepala Manchester United Women adalah mimpi yang menjadi kenyataan," ujarnya. "Skuad ini sudah memiliki banyak talenta, dan saya bersemangat untuk membantu mereka mencapai potensi maksimal."
Data dari musim lalu menunjukkan gaya bermain yang diusung Olid di Hearts cukup menarik. Timnya tercatat unggul dalam penguasaan bola dengan rata-rata 56,8 persen, tertinggi keempat di liga. Namun, mereka tidak sekadar menguasai bola; Hearts juga produktif dalam serangan balik cepat, hanya satu tim yang lebih banyak melepaskan tembakan dari skema tersebut. Keseimbangan ini menghasilkan 71 peluang emas, tertinggi ketiga di divisi, dengan xG per tembakan 0,116 yang juga menempati peringkat ketiga. Tanpa bola, mereka tampil disiplin dan terorganisir, hanya kebobolan 35 peluang emas sepanjang musim.
Bagi penggemar sepak bola putri di Indonesia, penunjukan Olid menjadi cermin bagaimana klub-klub Eropa mulai berani memberi ruang bagi pelatih dengan profil non-mainstream. Di tengah gencarnya perkembangan WSL yang semakin kompetitif, langkah United ini bisa menjadi studi kasus menarik: apakah kesuksesan di liga kecil bisa menjadi batu loncatan ke panggung terbesar? Atau justru menjadi bumerang yang mempertegas kesenjangan kualitas antar liga?
Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Olid. Ia harus segera membangkitkan skuad yang ditinggalkan banyak pemain, memadukan talenta muda, dan mempersiapkan tim menghadapi laga pembuka yang krusial. Pertanyaan besarnya: mampukah ia membawa filosofi Spanyol yang mengedepankan penguasaan bola dan pressing tinggi ke tengah dominasi tim-tim seperti Chelsea dan Arsenal? Atau akankah ia justru menjadi korban ekspektasi yang terlalu tinggi? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: semua mata kini tertuju pada langkah pertama Olid di panggung WSL.



