Marotta Buka Suara: Inter Tak Bisa Ikut Gila-Gilaan Belanja Pemain seperti Premier League
Baca dalam 60 detik
- Presiden Inter Milan Beppe Marotta mengakui kesenjangan finansial dengan Premier League dan menolak gaya belanja tak terkendali.
- Inter gagal merekrut Marco Palestra yang memilih Chelsea, serta calon pemain lain gagal tes medis, menambah frustrasi bursa transfer.
- Marotta menekankan solusi non-finansial seperti kreativitas dan kompetensi, serta proyek stadion baru untuk modernisasi klub.

Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, secara terang-terangan mengakui bahwa klubnya tidak mampu bersaing secara finansial dengan klub-klub Premier League. Dalam wawancara dengan Globo TV saat tur pramusim di Australia, Marotta menegaskan bahwa strategi membuang uang secara berlebihan bukanlah jawaban untuk mengejar ketertinggalan dari liga kaya Inggris.
Pernyataan itu muncul di tengah musim panas yang penuh frustrasi bagi juara Serie A tersebut. Inter gagal mengamankan Marco Palestra yang akhirnya bergabung dengan Chelsea, sementara Anan Khalaili batal bergabung karena gagal tes medis. Kegagalan ini mempertegas betapa sulitnya Inter bersaing di pasar transfer yang dikuasai oleh kekuatan finansial Premier League.
“Pada 1980-an dan 1990-an, Serie A menjadi acuan sepak bola dunia,” ujar Marotta. “Kini keseimbangan telah bergeser dan kesenjangan ekonomi sangat terlihat. Kami tidak bisa menjembatani jarak itu dengan menghabiskan uang dalam jumlah gila. Respons kami harus berbeda: kreativitas, kompetensi, dan motivasi. Gagasan bahwa siapa yang paling banyak mengeluarkan uang otomatis menang adalah kebalikan dari olahraga.”
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, pernyataan Marotta mungkin terdengar familiar. Dominasi Premier League di layar kaca dan platform streaming Tanah Air membuat klub-klub Italia semakin terpinggirkan. Namun di balik itu, Inter tengah membangun fondasi jangka panjang. Marotta yang naik jabatan dari direktur umum menjadi presiden setelah Oaktree mengambil alih dari Suning, menekankan pentingnya nilai-nilai klub.
“Seorang manajer hebat mengajari saya bahwa presiden memiliki dua hak fundamental: memilih orang yang diajak bekerja dan menetapkan nilai-nilai yang ingin dibangun di klub,” katanya. “Kami selaras dengan pemilik baru dan mampu meluncurkan proyek penting seperti stadion baru, yang merupakan langkah menentukan untuk membuat Inter semakin modern.”
Meski demikian, Inter tetap memasang target tinggi untuk musim depan. “Ekspektasi selalu sama, Inter berpartisipasi di setiap kompetisi dengan tujuan meraih hasil maksimal,” tambah Marotta. “Klub ini telah memenangkan banyak trofi sepanjang sejarah, dan itu menggambarkan identitas kami. Kami terbiasa menang, tetapi di balik setiap kemenangan ada semangat, perjuangan, etos kerja, dan rasa memiliki.”
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Inter bertahan di papan atas Eropa tanpa mengikuti gaya belanja Premier League? Dengan pendekatan yang mengedepankan kreativitas dan infrastruktur, Marotta optimis. Namun persaingan di Liga Champions yang semakin ketat mungkin menjadi ujian sesungguhnya bagi filosofi klub berjuluk Nerazzurri itu.



