Rafael Jodar: Bintang Muda Spanyol Siap Gebrak Wimbledon Usai Debut Gemilang
Baca dalam 60 detik
- Rafael Jodar, 19 tahun, melesat dari peringkat 800 ke 23 dunia dalam setahun, debut di Queen's dan bersiap untuk Wimbledon.
- Ia mengidolakan Rafael Nadal, tetapi namanya diwariskan secara turun-temurun; statistiknya di bawah tekanan dan pengembalian bola masuk jajaran elit ATP.
- Dengan absennya Carlos Alcaraz karena cedera, Jodar menjadi harapan baru Spanyol di Wimbledon, meski minim pengalaman di rumput.

Rafael Jodar, remaja Spanyol yang namanya identik dengan legenda Rafael Nadal, tiba di Queen's sebagai pemain peringkat 23 dunia—sebuah loncatan fenomenal dari posisi di luar 800 besar setahun lalu. Debutnya di turnamen ATP utama dan Grand Slam kini menjadi sorotan, terutama setelah ia menembus perempat final Prancis Terbuka 2026, hanya dihentikan oleh juara akhir Alexander Zverev.
Perjalanan Jodar ke panggung tenis dunia dimulai dari sistem universitas Amerika Serikat sebelum ia memutuskan menjadi profesional tahun lalu. Dalam waktu singkat, ia memenangi gelar ATP perdana di Marrakech, mencapai semifinal Barcelona, dan perempat final Madrid. Namun, pencapaian di Roland Garros-lah yang paling mencolok: ia menjadi pemain kelima abad ini yang mencapai perempat final Grand Slam pada debut utama. Kini, tantangan berikutnya adalah rumput Wimbledon, permukaan yang belum pernah ia jamah di level ATP.
Meski minim pengalaman di rumput, catatan Jodar di turnamen junior ITF menunjukkan potensi besar: ia memenangi sembilan dari sepuluh pertandingan pada 2024, termasuk gelar junior Roehampton tanpa kehilangan satu set pun. Satu-satunya kekalahan terjadi di perempat final junior Wimbledon, kalah straight set dari Naoya Honda. "Saya belum banyak bermain di rumput, tapi ini permukaan yang bisa saya kuasai," ujarnya kepada BBC Sport.
Statistik Jodar di ATP mengonfirmasi kemampuannya. Ia berada di peringkat kedua dalam konversi break point (44,7%), mengungguli Carlos Alcaraz (43,6%). Dalam rating 'return', ia hanya kalah dari Jannik Sinner, sementara persentase kemenangan poin pengembalian servis pertama (34,0%) menempatkannya di atas Sinner dan hanya di belakang Mariano Navone. Rating 'under pressure'-nya juga masuk dalam sepuluh besar, lebih baik dari lima pemain top 10 dunia.
Jodar mengidolakan Nadal, bukan karena nama, melainkan karena nilai-nilai yang diwariskan. "Rafa adalah panutan sejak kecil, tidak hanya di tenis tapi secara umum. Dia sangat rendah hati," katanya. Meski demikian, ia tidak merasa terbebani dengan ekspektasi sebagai 'Nadal baru'. Dengan absennya Alcaraz di Wimbledon karena cedera pergelangan tangan, perhatian publik Spanyol beralih ke Jodar. "Menjadi pemain muda yang berprestasi itu keren. Saya selalu siap untuk foto dan tanda tangan," ujarnya santai.
Pertanyaan besarnya: bisakah Jodar mengulang kejutan di Prancis Terbuka di permukaan rumput yang asing? Gaya agresif dari baseline dan ketenangan di momen kritis menjadi modal. Namun, lawan-lawan di Queen's dan Wimbledon akan menguji adaptasinya. Jika ia mampu melewati rintangan awal, bukan tidak mungkin nama Rafael Jodar akan disebut-sebut sejajar dengan para legenda Spanyol.