Nikki Glaser: Stand-Up Comedy dan Seks, Sama-sama Tanpa Beban
Baca dalam 60 detik
- Komika Nikki Glaser menyamakan panggung stand-up dengan ranjang: sama-sama membebaskan dan memalukan jika diingat-ingat.
- Ia mengkritik label 'komika wanita lucu' yang kerap dijadikan alat legitimasi oleh kelompok manosphere.
- Pengalaman di Dancing With The Stars juga ia nilai memalukan, dengan komentar pedas juri Len Goodman.

Bagi Nikki Glaser, naik panggung stand-up comedy ibarat bercinta: penuh pelepasan, tanpa hambatan, dan enggan diingat-ingat. Komika berusia 42 tahun yang dikenal sebagai pembawa acara Golden Globe Awards itu mengaku memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda—satu di atas panggung, satu lagi di kehidupan nyata.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Glaser mengungkapkan bahwa saat tampil ia merasa bisa melakukan hal-hal yang tak akan pernah ia lakukan di depan teman atau keluarga. “Saya membuat suara, ekspresi, dan gerakan tubuh yang tidak akan saya lakukan di depan publik,” ujarnya. Namun, setelah pertunjukan, ia enggan mendengar umpan balik. “Rasanya seperti seseorang bertanya setelah bercinta, ‘Ingat saat kamu mengatakan itu?’ Tidak, tidak, tidak. Saya tidak ingin mendengarnya.”
Glaser menyebut ada semacam keterpisahan antara dirinya di panggung dan di luar panggung. Ia bahkan merasa malu dengan persona panggungnya. Meski senang penonton menikmati penampilannya, ia tidak mau menonton rekaman atau mendengar komentar orang lain. Sikap ini mencerminkan tekanan yang kerap dialami komika, terutama perempuan, yang harus tampil percaya diri namun rentan terhadap kritik.
Di luar soal panggung, Glaser juga menyoroti label “komika wanita lucu” yang melekat padanya. Ia merasa label itu kerap digunakan oleh kelompok manosphere—komunitas pria yang sering memusuhi feminisme—untuk membuktikan bahwa mereka tidak misoginis. “Mereka akan menyukai satu komika perempuan dan itu menjadi bukti bahwa mereka menyukai perempuan. Saya pernah menjadi yang terpilih, rasanya enak, tapi Anda tahu akan digantikan oleh yang berikutnya,” katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi dilema komika perempuan yang harus berjalan di atas tali antara diterima dan dieksploitasi.
Pengalaman pahit lainnya datang dari partisipasinya di Dancing With The Stars pada 2018. Dalam podcast Armchair Expert dengan Dax Shepard, Glaser menceritakan bagaimana produser memintanya untuk bersikap positif setelah menari, namun ia justru menjawab dengan sinis. “Saya bilang, ‘Saya seorang penari!’ dengan nada sarkastik. Lalu juri Len Goodman berkata, ‘Tidak, kamu bukan. Kamu terlihat seperti anak kuda yang berjuang berdiri.’ Sangat menyakitkan,” kenangnya. Momen ini menunjukkan bahwa meski terkenal, Glaser tetap rentan terhadap kritik tajam di industri hiburan.
Bagi penikmat komedi di Indonesia, pengakuan Glaser membuka jendela tentang realitas di balik panggung. Industri stand-up tanah air yang mulai tumbuh juga menghadapi tantangan serupa: tekanan untuk tampil beda, risiko label, dan kritik publik yang kadang melampaui batas. Pertanyaannya, apakah komika Indonesia juga merasakan keterpisahan antara panggung dan kehidupan nyata seperti yang dialami Glaser? Atau justru sebaliknya, mereka semakin menyatu dengan persona yang dibangun?



