Russell T Davies Garap Drama Gelap Tip Toe, Alan Cumming Jadi Incaran Utama Sejak Awal
Baca dalam 60 detik
- Russell T Davies menulis naskah Tip Toe dengan Alan Cumming sebagai pemeran utama, sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam proses kreatif serial televisi.
- Drama Channel 4 ini mengangkat tema radikalisasi dan kebencian terhadap komunitas LGBTQ+, dengan latar belakang kehidupan malam Manchester.
- Davies mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak media sosial pada generasi muda, terutama terkait meningkatnya ujaran kebencian terhadap kelompok queer dan transgender.

Russell T Davies, penulis skenario di balik kesuksesan Doctor Who, Queer As Folk, dan It's A Sin, kembali dengan proyek ambisius bertajuk Tip Toe. Dalam wawancara terbaru dengan The Big Issue, Davies mengungkapkan bahwa ia telah membayangkan Alan Cumming sebagai pemeran utama sejak proses penulisan naskah—sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam industri televisi.
Davies mengaku sengaja "menempelkan" nama besar pada naskahnya, sebuah strategi yang lazim di dunia film namun jarang diterapkan di televisi. "Kami memasang bintang di dalamnya. Anda sering mendengar orang berkata, 'Sigourney Weaver terikat pada film ini'—jadi kami pikir, mari kita coba," ujarnya. Hasilnya, Cumming berperan sebagai Leo, seorang pria gay yang mengelola bar di Canal Street, Manchester, sementara David Morrissey memerankan Clive, tetangganya yang seorang elektrisi pengangguran dan terradikalisasi hingga menjadikan Leo sasaran kebenciannya.
Cumming, yang dikenal vokal dalam isu LGBTQ+, mengaku banyak menemukan kesamaan dengan karakter Leo. "Ada begitu banyak hal yang bisa saya kaitkan dengan Leo sebagai pria queer paruh baya yang cukup dalam," katanya. Ia menambahkan bahwa meskipun serial ini merupakan risalah besar tentang kondisi sosial saat ini, Davies berhasil menyajikannya secara bernuansa, bukan sekadar polemik. "Saya sendiri sangat polemis, jadi saya tidak bisa mengklaim itu. Tapi Russell menangkap sesuatu yang brilian dengan karakter-karakter ini. Anda bisa melihat sudut pandang mereka—atau setidaknya bagaimana mereka sampai pada sudut pandang itu," jelas Cumming.
Bagi Davies, Tip Toe bukan sekadar drama, melainkan cerminan kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda. Ia mengaku takut melihat dunia yang akan diwarisi oleh keponakan kembar dari saudara perempuannya. "Saya melihat dunia yang diwarisi oleh si kembar dengan ketakutan—saya ngeri membayangkan saat dua bocah cantik itu masuk ke dunia online," ungkapnya. Davies menegaskan bahwa hak-hak gay sedang mengalami kemunduran, dan teman-teman transgender hidup dalam ketakutan absolut. Menurutnya, kebencian terhadap komunitas LGBTQ+ saat ini didorong oleh ujaran kebencian di media sosial, yang "memungkinkan kita untuk dibenci lagi."
Dalam konteks Indonesia, isu yang diangkat Davies relevan dengan meningkatnya diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas seksual di tanah air. Meskipun regulasi di Indonesia berbeda, fenomena radikalisasi dan ujaran kebencian di media sosial juga menjadi perhatian serius. Beberapa tahun terakhir, laporan tentang perundungan siber terhadap komunitas LGBTQ+ di Indonesia meningkat, seiring dengan maraknya konten intoleran di platform digital. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan kesejahteraan psikologis generasi muda yang terpapar konten kebencian.
Cumming, yang telah menonton Tip Toe bersama suaminya, Grant, dan keponakan mereka, mengaku lupa betapa mencekamnya serial tersebut bagi penonton. "Karena mereka tahu bagaimana akhirnya, tapi mereka tidak tahu kapan atau bagaimana," katanya. Davies sendiri berharap serial ini bisa memicu diskusi tentang bagaimana kebencian menyebar dan bagaimana masyarakat bisa melawannya. "Kami berdiri di tempat terbuka. Seolah-olah bidikan senapan diarahkan ke kami. Dan itu menakutkan," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Tip Toe mampu menggugah kesadaran publik akan bahaya radikalisasi dan ujaran kebencian, atau justru akan menjadi tontonan yang memperkuat polarisasi? Davies dan Cumming tampaknya optimis, namun mereka sadar bahwa perubahan tidak akan datang dalam semalam.



