Gelombang K-Pop Global: Basis Penggemar Tembus 100 Juta, Didorong Amerika dan Eropa
Baca dalam 60 detik
- Jumlah penggemar K-pop dan konten Korea lainnya di luar negeri mencapai 104,78 juta pada September 2020, naik 5,45 juta dari tahun sebelumnya.
- Pertumbuhan terbesar terjadi di Amerika dan Eropa, sementara basis penggemar di Asia justru mengalami penurunan pertama kali, terutama di China.
- Pandemi COVID-19 mendorong aktivitas daring yang mempersatukan 1.835 klub penggemar global, menjadi katalis utama ekspansi komunitas.

Fenomena Korean Wave atau Hallyu terus menunjukkan ekspansi yang signifikan. Lembaga Korea Foundation melaporkan bahwa jumlah penggemar produk budaya pop Korea—mulai dari K-pop, drama, hingga kuliner—di luar negeri telah menembus angka 100 juta jiwa. Tepatnya, per September 2020, tercatat 104,78 juta penggemar di 98 negara, meningkat sekitar 5,45 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Data yang dihimpun dari keanggotaan klub penggemar resmi di luar Korea Selatan ini menyoroti pergeseran geografis basis penggemar. Jika sebelumnya Asia mendominasi, kini pertumbuhan terbesar justru berasal dari Amerika dan Eropa. Di benua Amerika, jumlah penggemar melonjak 3,65 juta menjadi 15,8 juta. Amerika Serikat sendiri menyumbang tambahan 660.000 penggemar, sehingga totalnya mencapai 6,7 juta.
Para pengamat menilai pandemi COVID-19 justru menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ini. Pembatasan sosial mendorong perpindahan aktivitas komunitas ke ranah daring, sehingga 1.835 klub penggemar di seluruh dunia dapat tetap terhubung dan bahkan menjaring anggota baru. Konser virtual, fan meeting online, dan konten digital interaktif menjadi jembatan yang memperkuat ikatan antara idola dan penggemar lintas batas.
Namun, di sisi lain, basis penggemar di Asia untuk pertama kalinya mengalami penurunan. China menjadi negara dengan kontraksi terbesar, kehilangan sekitar 10 juta penggemar. Fenomena ini tidak lepas dari sentimen politik dan boikot informal terhadap produk Korea yang berlangsung sejak 2017, imbas dari penempatan sistem pertahanan rudal THAAD di Semenanjung Korea. Meski demikian, secara global, Hallyu tetap menunjukkan daya tarik yang kuat dan terus bertransformasi mengikuti dinamika zaman.
Ke depan, tantangan utama bagi industri konten Korea adalah menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan kebiasaan konsumsi pasca-pandemi. Inovasi dalam penyajian konten dan strategi keterlibatan penggemar akan menjadi kunci untuk mempertahankan posisi K-pop dan produk budaya Korea sebagai fenomena global yang berkelanjutan.



