Ekspansi Agresif Adira Finance: Piutang Pembiayaan Meroket 18% di Tengah Pengetatan Risiko
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan Double Digit: Adira Finance membukukan kenaikan piutang pembiayaan menjadi Rp 64,7 triliun per Maret 2026, dipicu oleh tingginya demand di segmen otomotif dan non-otomotif.
- Kualitas Aset Membaik: Di tengah ekspansi, perusahaan justru berhasil menekan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross ke level 1,9%, turun signifikan dari posisi 2,3% pada tahun sebelumnya.
- Strategi Selektif: Manajemen menerapkan underwriting ketat dan optimalisasi tim collection untuk menangkal dampak volatilitas geopolitik global terhadap daya beli konsumen.

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencatatkan performa impresif pada kuartal I-2026 dengan mengelola piutang pembiayaan sebesar Rp 64,7 triliun, tumbuh 18% secara tahunan di tengah tantangan makroekonomi global.
Akselerasi piutang ini merupakan hasil dari kombinasi perluasan basis pelanggan dan penguatan kolaborasi dengan mitra bisnis strategis. Meskipun ketidakpastian geopolitik global membayangi aktivitas bisnis, emiten berkode saham ADMF ini tetap mampu mengoptimalkan jaringan usahanya untuk menyerap kebutuhan pembiayaan masyarakat yang masih solid. Pertumbuhan ini mencerminkan resiliensi sektor pembiayaan, terutama didorong oleh *update* strategi perusahaan yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar.
Keputusan perusahaan untuk tetap ekspansif namun terukur didasari oleh metode *underwriting* yang berfokus pada *collateral base* dan kemampuan bayar konsumen. Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menyoroti bahwa diversifikasi portofolio menjadi kunci utama mengapa dampak gejolak ekonomi awal tahun ini masih relatif terbatas bagi perseroan. Hal ini membuktikan bahwa manajemen risiko yang disiplin mampu berjalan beriringan dengan target pertumbuhan agresif.
- Permintaan Konsisten: Penetrasi kuat pada segmen kendaraan bermotor dan pembiayaan multiguna.
- Optimalisasi Collection: Pemantauan intensif dan penanganan konsumen yang dipersonalisasi.
- Penurunan NPF: Keberhasilan menekan kredit bermasalah hingga 40 basis poin (bps) secara tahunan.
- Scale-up Jaringan: Ekspansi jangkauan usaha untuk menangkap peluang di wilayah potensial baru.
Data menunjukkan bahwa strategi penagihan yang lebih intensif memberikan dampak langsung pada kesehatan neraca keuangan. Penurunan rasio NPF ke level 1,9% merupakan indikator bahwa kualitas aset berada dalam kondisi yang sangat prima. Dibandingkan dengan rata-rata industri yang sering kali menghadapi tekanan saat suku bunga fluktuatif, Adira Finance menunjukkan efisiensi operasional yang lebih matang dalam mengelola mitigasi risiko sejak awal proses akuisisi nasabah.
| Indikator Kinerja | Maret 2025 | Maret 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total Piutang Dikelola | Rp 54,8 Triliun (Est.) | Rp 64,7 Triliun | +18% (YoY) |
| Rasio NPF Gross | 2,3% | 1,9% | -0,4% (Improvement) |
Ke depan, Adira Finance diproyeksikan akan terus menjaga ritme pertumbuhan yang sehat dengan tetap waspada terhadap perkembangan daya beli domestik. Sinkronisasi antara penggunaan teknologi data analitik untuk skoring kredit dan pendekatan personal dalam layanan pelanggan diharapkan menjadi motor penggerak utama perseroan dalam mempertahankan dominasi pasar multifinance hingga penghujung tahun 2026.



