Ekspansi Struktural BNPL: Perbankan Agresif Pacu Bisnis Paylater Sebagai Mesin Pertumbuhan Kredit Baru
Baca dalam 60 detik
- Akselerasi Portofolio: Baki debet Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan melonjak 24,2% YoY menjadi Rp28,3 triliun pada kuartal I-2026, didorong oleh 30,81 juta rekening pengguna aktif.
- Disrupsi Kartu Kredit: Kemudahan akses digital tanpa hambatan administratif membuat paylater kini beralih fungsi dari sekadar tren menjadi instrumen ekspansi struktural di neraca bank besar dan digital.
- Risiko Unsecured Loan: Meski menjanjikan margin tinggi, pertumbuhan masif ini membayangi kualitas aset perbankan jika tidak diimbangi manajemen risiko yang ketat terhadap nasabah konsumtif.

Industri perbankan nasional mencatatkan performa impresif pada segmen Buy Now Pay Later (BNPL) sepanjang kuartal I-2026, memposisikan layanan ini sebagai motor penggerak utama pertumbuhan kredit ritel di era digitalisasi.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi fenomena pergeseran preferensi nasabah ke arah layanan instan. Hingga Maret 2026, baki debet BNPL perbankan telah menembus angka Rp28,3 triliun. Lonjakan ini membuktikan bahwa bank-bank konvensional maupun digital sukses melakukan update pada strategi pembiayaan mereka untuk bersaing dengan platform teknologi finansial. Kemudahan akses yang hanya memerlukan beberapa klik di aplikasi mobile banking dinilai telah meruntuhkan hambatan psikologis yang selama ini melekat pada pengajuan kartu kredit konvensional.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu pemain yang mencetak rapor hijau di sektor ini. Raksasa swasta tersebut membukukan outstanding paylater sebesar Rp342 miliar dengan pertumbuhan basis pengguna mencapai 9% YoY. Kenaikan ini terutama dipicu oleh mobilitas masyarakat dan konsumsi ritel yang semakin tinggi. Senada dengan itu, Allo Bank juga melaporkan pertumbuhan outstanding lebih dari 20% dengan jangkauan lebih dari 2,3 juta nasabah. Bank-bank kini saling "duel" untuk menawarkan limit yang kompetitif sembari memastikan proses verifikasi tetap berlangsung cepat namun selektif.
- Baki Debet Nasional: Rp28,3 Triliun (Tumbuh 24,2% secara tahunan).
- Total Pengguna: 30,81 Juta Rekening di seluruh Indonesia.
- Faktor Pendorong: Permintaan transaksi ritel instan dan kemudahan prosedur tanpa agunan.
- Peluang Cross-Selling: Potensi integrasi data BNPL untuk pengajuan KKB dan KPR di masa depan.
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai perbankan sedang memasuki fase ekspansi struktural. BNPL diproyeksikan tidak hanya menjadi sumber pendapatan bunga, tetapi juga pintu masuk untuk melakukan cross-selling produk kredit yang lebih besar. Namun, ia memperingatkan bahwa status BNPL sebagai unsecured loan (kredit tanpa agunan) membawa risiko laten. Jika pertumbuhan ini didominasi oleh segmen konsumtif tanpa kenaikan pendapatan riil, perbankan berisiko menumpuk "kerapuhan" pada kualitas aset mereka di kemudian hari.
Ke depan, efisiensi operasional melalui jalur digital memungkinkan perbankan memacu skala bisnis BNPL tanpa membengkakkan biaya overhead. Fokus industri kini bergeser pada peningkatan kualitas utilisasi yang berkelanjutan. Manajemen risiko berbasis AI (Artificial Intelligence) akan menjadi kunci dalam menyaring profil risiko nasabah agar pertumbuhan profitabilitas tetap berjalan beriringan dengan tingkat NPL yang terjaga. Perbankan diharapkan terus melakukan reschedule pada kebijakan kredit mereka guna mengantisipasi dinamika ekonomi yang fluktuatif sepanjang sisa tahun 2026.
| Metrik Perbankan | Realisasi Q1-2025 | Realisasi Q1-2026 | Status Sentimen |
|---|---|---|---|
| Baki Debet (Outstanding) | Β± Rp22,7 Triliun | Rp28,3 Triliun | Bullish (+24,2%) |
| Jumlah Rekening Pengguna | Meningkat Pesat | 30,81 Juta | Ekspansif |
| Karakteristik Produk | Tren Baru | Ekspansi Struktural | Stabil |
| Profil Risiko | Moderat | High Risk/High Reward | Watchlist |
Menatap cakrawala 2026, sektor BNPL perbankan diprediksi akan terus mengalami konsolidasi sistemik. Langkah perbankan untuk tetap fight di segmen mikro-digital ini diharapkan mampu mendorong inklusi keuangan yang lebih sehat. Jika dikelola dengan prinsip kehati-hatian, *paylater* perbankan berpotensi menggeser dominasi kartu kredit dan menjadi standar baru dalam transaksi konsumer masa depan yang lebih inklusif dan efisien.



