Rupiah Melemah ke Rp17.400: BI Sebut Masih Selaras Tren Global
Baca dalam 60 detik
- Depresiasi Terukur: Pelemahan Rupiah sebesar 3,65% tercatat masih lebih tangguh jika dibandingkan dengan Peso Filipina (-6,58%) dan Baht Thailand (-5,04%).
- Intervensi Berlapis: Bank Indonesia aktif menjalankan strategi triple intervention guna memastikan volatilitas tetap terkendali di tengah tensi geopolitik global.
- Likuiditas Aman: Meski cadangan devisa sedikit terkoreksi ke USD 148,2 miliar, angka ini masih dua kali lipat lebih tinggi dari standar kecukupan internasional.

Nilai tukar Rupiah menembus level Rp17.426 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5). Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pergerakan ini merupakan dampak langsung dari gejolak geopolitik di Timur Tengah yang menekan hampir seluruh mata uang pasar berkembang (emerging markets).
Otoritas moneter menilai pelemahan ini bersifat eksternal dan sistemik, namun posisi Indonesia relatif lebih stabil dibandingkan banyak negara sejawat. Secara teknis, koreksi yang terjadi pada Rupiah mencerminkan penyesuaian pasar terhadap aset aman (*safe haven*) di tengah ketidakpastian global, bukan disebabkan oleh kerapuhan fundamental ekonomi domestik.
Perbandingan Pelemahan Mata Uang (%)
| Mata Uang | Persentase (%) |
|---|---|
| Peso Filipina | -6,58% |
| Baht Thailand | -5,04% |
| Rupee India | -4,32% |
| Rupiah Indonesia | -3,65% |
Untuk meredam fluktuasi yang berlebihan, BI mengoptimalkan intervensi di pasar valas melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI tetap melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional secara menyeluruh.
Meskipun cadangan devisa per akhir Maret 2026 tercatat turun menjadi USD 148,2 miliar akibat stabilisasi kurs dan pembayaran utang luar negeri, BI memastikan likuiditas tetap solid. Jumlah tersebut masih setara dengan 6 bulan pembiayaan impor, jauh melampaui ambang batas internasional yang sebesar 3 bulan.
Ke depan, arah kebijakan moneter akan terus fokus pada mitigasi risiko eksternal sembari menjaga pertumbuhan ekonomi. BI memproyeksikan stabilitas rupiah akan kembali menguat seiring dengan meredanya tensi geopolitik dan normalisasi kebijakan suku bunga global.



