Rupiah Tembus Rp17.400: Bank Indonesia Tegaskan Pelemahan Masih Terkendali di Jalur Emerging Markets
Baca dalam 60 detik
- Resiliensi Relatif: Meski rupiah menyentuh level psikologis baru di Rp17.426 per dolar AS, tingkat depresiasinya (3,65%) masih lebih rendah dibandingkan mata uang regional seperti Peso Filipina dan Baht Thailand.
- Intervensi Triple Intervention: Bank Indonesia mengaktifkan seluruh instrumen moneter (Spot, DNDF, dan pasar sekunder SBN) untuk meredam volatilitas akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
- Cadangan Devisa Solid: Walaupun terjadi penurunan ke angka USD 148,2 miliar, posisi likuiditas valas nasional masih jauh di atas standar kecukupan internasional, memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas.

Bank Indonesia (BI) secara resmi menanggapi tekanan hebat yang menimpa nilai tukar rupiah, yang pada perdagangan Selasa (5/5) terpantau menembus level psikologis baru di angka Rp17.426 per dolar AS. Tekanan ini dinilai sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu pelarian modal ke aset aman (safe haven).
Fenomena pelemahan rupiah ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Otoritas moneter menekankan bahwa koreksi nilai tukar ini merupakan bagian dari tren global di mana mata uang pasar berkembang (emerging markets) mengalami tekanan serupa terhadap keperkasaan dolar AS. Meskipun angka Rp17.400 terlihat mengkhawatirkan secara nominal, secara persentase, stabilitas domestik diklaim masih jauh lebih terjaga dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia maupun Amerika Latin.
Data Kunci: Komparasi Depresiasi Regional
Berdasarkan data Bank Indonesia, berikut adalah tingkat pelemahan mata uang terhadap dolar AS sejak awal konflik Timur Tengah:
| Mata Uang | Persentase Pelemahan (%) |
|---|---|
| Peso Filipina | -6,58% |
| Baht Thailand | -5,04% |
| Rupee India | -4,32% |
| Rupiah Indonesia | -3,65% |
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini masih berada dalam koridor fundamentalnya. BI mengambil langkah proaktif dengan menerapkan strategi intervensi berlapis atau triple intervention. Langkah ini mencakup intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan valas.
Dari sisi ketahanan eksternal, meskipun cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sebesar USD 3,7 miliar pada akhir Maret 2026 menjadi USD 148,2 miliar, stok devisa tersebut masih sangat memadai. Cadangan ini setara dengan pembiayaan 6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional yang minimal hanya sebesar 3 bulan impor.
Melihat ke depan, dinamika nilai tukar rupiah akan sangat bergantung pada durasi ketegangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global. Bank Indonesia diproyeksikan akan terus menempuh kebijakan moneter yang bersifat pre-emptive dan forward-looking guna mencegah volatilitas berlebih yang dapat mengganggu momentum pemulihan ekonomi nasional.



