Risiko Rantai Pasok: Peternak Ayam Desak Penundaan Monopoli Impor SBM via Berdikari
Baca dalam 60 detik
- Intervensi Tata Niaga: Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) meminta penangguhan kewajiban pembelian bungkil kedelai (SBM) melalui PT Berdikari guna menghindari potensi kelangkaan.
- Ancaman Efisiensi: Sektor perunggasan mengkhawatirkan harga beli yang tidak kompetitif, mengingat SBM berkontribusi hingga 22% dalam formulasi biaya pakan ternak nasional.
- Daya Saing Global: Kebijakan ini berisiko memperlemah posisi daging ayam lokal di tengah gempuran produk impor asal Brasil dan Amerika Serikat yang memiliki struktur biaya lebih rendah.

Para pelaku industri perunggasan nasional secara resmi mengajukan keberatan terhadap rencana percepatan implementasi pembelian Soybean Meal (SBM) melalui skema penugasan tunggal kepada BUMN, PT Berdikari (Persero).
Kebijakan yang sedianya dijadwalkan meluncur pada Maret 2026 ini memicu kekhawatiran sistemik di kalangan peternak mandiri dan pabrikan pakan. Sekretaris Jenderal GOPAN, Sugeng Wahyudi, menilai bahwa pemusatan distribusi bahan baku pakan kepada satu entitas negara memerlukan masa transisi dan uji kesiapan yang matang. Tanpa infrastruktur logistik yang mumpuni serta kontrak pengadaan yang transparan, kebijakan ini justru berisiko memicu hambatan operasional (bottleneck) yang berdampak langsung pada stabilitas pasokan protein hewani nasional.
- Komponen Biaya: SBM menyumbang 20% hingga 22% dari total formulasi pakan ayam konsumsi.
- Benchmarking Harga: Biaya produksi ayam domestik masih tertinggal dibandingkan standar efisiensi global asal AS dan Brasil.
- Status Penugasan: Pembelian via BUMN merupakan model baru yang membutuhkan validasi reliabilitas distribusi.
- Potensi Dampak: Jika terjadi disrupsi, harga daging ayam dan telur di tingkat konsumen akhir diproyeksikan melonjak secara eksponensial.
Secara teknis, efektivitas kebijakan ini menjadi pertaruhan besar bagi kredibilitas kementerian terkait dalam mengelola Neraca Komoditas. Meskipun pemerintah menargetkan visibilitas rantai pasok yang lebih baik, pelaku industri tetap skeptis terhadap kemampuan BUMN untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan skema impor mandiri atau melalui importir swasta. Keunggulan fight di pasar internasional sangat bergantung pada kemampuan negosiasi harga dan rute logistik yang efisien—hal yang selama ini menjadi keunggulan komparatif sektor swasta.
Pihak asosiasi menekankan bahwa keterlambatan pasokan bungkil kedelai walau hanya dalam hitungan hari dapat mengganggu siklus produksi ayam potong secara nasional. Dalam skenario terburuk, kenaikan harga bahan baku pakan akan mempersempit margin peternak yang sudah tertekan oleh volatilitas harga pasar. Oleh karena itu, diperlukan update regulasi yang lebih fleksibel, di mana peran BUMN sebaiknya diposisikan sebagai penyeimbang pasokan (buffer stock) alih-alih menjadi pemain tunggal dalam ekosistem impor SBM.
| Aspek Penilaian | Skema Impor Mandiri/Swasta | Skema Penugasan BUMN (Proyeksi) |
|---|---|---|
| Fleksibilitas Harga | Tinggi (Berdasarkan Kontrak Real-time) | Kaku (Tergantung Harga Pokok BUMN) |
| Keamanan Pasokan | Terfragmentasi namun Kompetitif | Terpusat (Risiko Single Point of Failure) |
| Dampak Inflasi | Terkendali via Kompetisi | Tinggi jika Efisiensi Logistik Lemah |
| Tujuan Kebijakan | Efisiensi Operasional Bisnis | Stabilitas dan Kontrol Pemerintah |
Menatap sisa tahun 2026, duel antara urgensi kedaulatan pangan dan realitas efisiensi industri akan menjadi sorotan utama. Pemerintah diharapkan melakukan reschedule implementasi hingga PT Berdikari mampu membuktikan reliabilitas operasionalnya. Langkah strategis ke depan harus menjamin bahwa proteksi terhadap industri hulu tidak mengorbankan daya beli masyarakat di sektor hilir, demi menjaga keseimbangan ekosistem perunggasan nasional tetap resilien menghadapi dinamika pasar global.



