Transformasi Wijaya Karya (WIKA) Berbuah Manis: Kontrak Baru Melesat 17,2% dan Margin Operasi Menguat di Q1-2026
Baca dalam 60 detik
- Ekspansi Portofolio: WIKA sukses mengamankan kontrak baru senilai Rp2,53 triliun pada kuartal pertama 2026, mencerminkan pemulihan sektor infrastruktur nasional.
- Efisiensi Operasional: Strategi transformasi mendorong lonjakan Gross Profit Margin ke level 9,1%, didukung oleh pemangkasan biaya usaha sebesar 10,5% secara tahunan (YoY).
- Deleveraging Asset: Perseroan menunjukkan disiplin finansial dengan mereduksi total utang sebesar Rp2,97 triliun guna memperkuat struktur permodalan dan kesehatan neraca.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan akselerasi kinerja signifikan pada Kuartal I-2026 dengan perolehan kontrak baru mencapai Rp2,53 triliun, tumbuh 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian impresif ini mempertegas posisi WIKA di tengah dinamika pasar konstruksi yang kompetitif. Hingga akhir Maret 2026, total order book atau kontrak berjalan perseroan kini menyentuh angka Rp33,89 triliun. Manajemen menyoroti bahwa pertumbuhan ini bukan sekadar angka, melainkan indikator positif geliat infrastruktur nasional serta hasil dari strategi pemilihan proyek yang lebih selektif dan berorientasi pada cash flow.
Data Kunci Performa Q1-2026:
- Kontrak Baru: Rp2,53 Triliun (Naik 17,2% YoY).
- Total Penjualan: Rp3,90 Triliun (Segmen Infrastruktur & Gedung dominan).
- Efisiensi Biaya: Penurunan biaya usaha sebesar 10,5%.
- EBITDA Operasi: Tumbuh 10,3% menjadi Rp104,9 Miliar.
Salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan terbaru adalah penguatan margin operasional. WIKA berhasil mengerek Gross Profit Margin (GPM) dari 7,4% pada Q1-2025 menjadi 9,1% pada periode ini. Peningkatan profitabilitas ini didorong oleh implementasi core operation yang lebih efisien serta integrasi teknologi dalam manajemen rantai pasok industri penunjang konstruksi.
Di sisi lain, emiten konstruksi pelat merah ini terus menunjukkan komitmen terhadap penyehatan neraca keuangan melalui program deleveraging. WIKA berhasil menurunkan total kewajiban sebesar Rp2,97 triliun atau setara 7,4%. Penurunan ini mencakup pelunasan utang kepada mitra kerja serta pengurangan utang berbunga secara konsisten, yang diharapkan dapat menekan beban bunga di masa mendatang dan meningkatkan profil kredit perusahaan.
Komparasi Indikator Keuangan (Q1-2025 vs Q1-2026)
| Metrik Keuangan | Q1-2025 | Q1-2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Gross Profit Margin (%) | 7,4% | 9,1% | +1.7 bps |
| Total Utang (Rp) | - | Turun Rp2,97 T | -7,4% |
| Biaya Usaha (Rp) | - | Efisiensi 10,5% | Hemat |
Memasuki sisa tahun 2026, WIKA diproyeksikan akan mempertahankan tren pertumbuhan melalui strategi excellent execution pada proyek-proyek strategis nasional. Fokus pada penguatan tata kelola (*Good Corporate Governance*) dan pengelolaan arus kas yang ketat menjadi kunci utama perseroan dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah fluktuasi ekonomi global, sembari terus memberikan nilai tambah optimal bagi para pemangku kepentingan.



