Crisis Hilirisasi: Harga Sulfur Meroket Hingga US$1.300, Produksi MHP Terancam Shut Down
Baca dalam 60 detik
- Operasional Terpangkas: Huayou Cobalt melalui Huafei Nickel & Cobalt resmi memangkas 50% kapasitas produksi di IWIP akibat kelangkaan sulfur dan lonjakan biaya bahan baku penolong.
- Cost Shock: Harga sulfur melambung ekstrem dari US$275 menjadi kisaran US$1.300 per ton, memicu kenaikan biaya operasional fasilitas HPAL hingga hampir 200%.
- Strategi Mitigasi: Para raksasa nikel, termasuk PT Vale Indonesia (INCO), mulai menguji coba penggunaan pirit sebagai substitusi sulfur impor guna menjaga stabilitas cost of production.

Jakarta β Industri hilirisasi nikel Indonesia, khususnya fasilitas *High Pressure Acid Leaching* (HPAL), kini menghadapi ancaman penghentian operasional massal menyusul kelangkaan pasokan dan lonjakan harga sulfur global yang dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah per 29 April 2026.
Ketidakpastian rantai pasok global telah memaksa raksasa industri seperti Huayou Cobalt untuk mengambil langkah drastis dengan melakukan *maintenance* mendadak pada lini produksi Huafei Nickel & Cobalt di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Langkah ini efektif memangkas setengah dari output MHP (*Mixed Hydroxide Precipitate*) mereka. Tingginya harga sulfur, yang merupakan reagen vital dalam proses pelarutan nikel dan kobalt, telah merusak kelayakan ekonomi proyek-proyek strategis nasional tersebut secara fundamental.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyoroti bahwa kenaikan harga sulfur yang mencapai level US$1.300 per ton adalah kondisi yang tidak *sustainable* secara bisnis. Tekanan ini semakin diperparah oleh kebijakan domestik terkait kenaikan royalti dan revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM). Kombinasi faktor eksternal dan kebijakan lokal ini menciptakan *perfect storm* yang membuat biaya operasional membengkak mendekati angka 200% dalam waktu singkat.
Data Kunci Krisis Sulfur 2026
- Harga Eksisting: US$ 960 β US$ 1.300 per ton (Naik dari US$ 275 pada 2025).
- Dampak Produksi: Pemangkasan 50% kapasitas di lini produksi Huafei (IWIP).
- Komponen Biaya: Kenaikan biaya operasional HPAL mencapai hampir 200%.
- Risiko Industri: Potensi *permanent closure* pada fasilitas pengolahan yang tidak efisien.
Di tengah ancaman *production cut*, beberapa emiten mulai menyiapkan skenario alternatif. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, melakukan langkah proaktif dengan menguji coba pencampuran pirit yang berasal dari residu tambang emas sebagai substitusi sulfur. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor sulfur dari Timur Tengah yang saat ini sangat rentan terhadap gangguan *supply chain*. Meski stok internal INCO diklaim masih aman untuk durasi enam minggu ke depan, uji coba teknikal dan lingkungan terus dipercepat guna mengantisipasi krisis yang berkepanjangan.
| Aspek Terdampak | Detail Dampak |
|---|---|
| Bahan Baku HPAL | Sulfur langka & harga melambung tinggi di pasar global. |
| Output Produk | Penurunan produksi MHP yang berdampak pada suplai baterai EV. |
| Strategi Mitigasi | Substitusi pirit dan optimasi beban operasional mesin. |
Melihat tren ke depan, masa depan hilirisasi nikel Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan industri melakukan diversifikasi sumber bahan baku penolong. Ketergantungan tinggi pada satu kawasan pemasok terbukti menjadi titik lemah yang mematikan. Integrasi pengolahan bijih pirit domestik diproyeksikan menjadi solusi paling "elok" secara teknis dan ekonomis, sekaligus memperkuat struktur biaya industri smelter dalam menghadapi volatilitas geopolitik yang sulit diprediksi.



