IHSG Ambruk 1,27% ke 7.445 pada Sesi I: Barito Group Jadi Top Losers LQ45
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh Sektor Kompak Melemah: Dari total 11 sektor di Bursa Efek Indonesia, hanya satu sektor yang bertahan hijau, sementara sektor perindustrian menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 2,42%.
- Barito Renewables Pimpin Pelemahan LQ45: BREN ambruk 8,52% menjadi Rp4.940, disusul DSSA (-4,38%) dan BRPT (-3,98%)—tiga emiten Barito Group menjadi pemberat utama indeks.
- Aktivitas Perdagangan Masih Padat: Volume transaksi mencapai 32,42 miliar saham dengan nilai Rp11,69 triliun, namun sentimen negatif mendominasi dengan 445 saham terperosok dibandingkan hanya 227 yang menguat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan sesi pertama Kamis (23/4/2026) setelah sempat dibuka menghijau. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG ambruk 1,27% ke level 7.445,96. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan mayoritas indeks sektoral—10 dari 11 sektor di BEI tercatat merosot. Sektor yang mengalami koreksi paling dalam antara lain perindustrian (-2,42%), barang baku (-1,96%), barang konsumen non-primer (-1,77%), teknologi (-1,50%), infrastruktur (-1,15%), energi (-1,11%), dan kesehatan (-0,64%).
Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 32,42 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp11,69 triliun. Sentimen negatif mendominasi lantai bursa: sebanyak 445 saham menjadi pemberat laju IHSG, sementara hanya 227 saham yang menguat dan 145 saham stagnan. Di tengah tekanan ini, emiten-emiten Grup Barito menjadi sorotan utama karena menempati posisi teratas sebagai top losers di indeks LQ45. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin koreksi dengan ambruk 8,52% ke Rp4.940 per saham, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang melemah 4,38% ke Rp2.400, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun 3,98% ke Rp2.170.
Dari perspektif analisis teknikal dan sentimen pasar, koreksi IHSG sebesar 1,27% dalam satu sesi menunjukkan tekanan jual yang cukup signifikan, terutama pada saham-saham dengan kapitalisasi besar. Pelemahan yang meluas hingga ke 10 sektor mengindikasikan bahwa tekanan bersifat sistemik, bukan hanya terbatas pada emiten tertentu. Yang menarik, meskipun IHSG tertekan, nilai transaksi masih tercatat di atas Rp11 triliun—menunjukkan bahwa likuiditas pasar tetap terjaga, namun dominasi aksi jual lebih kuat dibandingkan aksi beli. Emiten Grup Barito (BREN, DSSA, BRPT) yang menjadi top losers LQ45 patut mendapat perhatian karena ketiganya mengalami koreksi di atas 3,9% dalam satu sesi, mengindikasikan potensi tekanan profit taking atau respons terhadap sentimen negatif di sektor energi dan infrastruktur.
"445 saham turun vs 227 saham naik—rasio 2:1, menunjukkan tekanan jual yang dominan di hampir seluruh lini." — Data perdagangan BEI sesi I
Ke depan, investor perlu mencermati pergerakan IHSG pada sesi kedua. Level psikologis 7.400 menjadi support krusial yang jika ditembus dapat memicu tekanan jual lebih lanjut. Di sisi lain, top gainers seperti JPFA (+3,85%), BBTN (+3,53%), dan MEDC (+2,65%) menunjukkan bahwa masih ada sektor-sektor yang diminati pasar di tengah pelemahan umum. Bagi investor jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi mengingat minimnya katalis positif baik dari dalam negeri maupun global. Sementara bagi investor jangka panjang, koreksi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi pada saham-saham fundamental yang harganya sudah mulai menarik. Yang jelas, pergerakan IHSG Kamis ini akan sangat tergantung pada sentimen pelaku pasar menjelang penutupan.



