ADHI Rancang Strategi Recovery: Fokus Divestasi dan Efisiensi Paska Rugi Rp5,4 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Koreksi Fundamental: PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan rugi bersih sebesar Rp5,4 triliun pada 2025 akibat penyesuaian nilai aset non-operasional dan penurunan nilai realisasi bersih di sektor properti.
- Restrukturisasi Portofolio: Emiten pelat merah ini tengah mengkaji opsi divestasi aset strategis dan penataan anak usaha guna memperkuat likuiditas serta mengembalikan fokus pada bisnis inti konstruksi.
- Akselerasi Arus Kas: Perusahaan memprioritaskan percepatan penagihan piutang dari proyek strategis nasional, termasuk LRT Jabodebek dan Tol Aceh-Sigli, sebagai mesin penggerak modal kerja di tahun 2026.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) resmi memulai langkah penyehatan neraca keuangan di kuartal II-2026 paska mencatatkan lonjakan rugi bersih sebesar 6.127% secara tahunan (yoy) pada tahun buku 2025. Manajemen kini membidik penguatan struktur modal melalui skema divestasi aset dan efisiensi operasional guna memitigasi tekanan ekonomi makro yang berdampak pada lini bisnis properti perusahaan.
Pembengkakan kerugian hingga mencapai Rp5,4 triliun tersebut dipicu oleh biaya non-operasional yang signifikan. Faktor utama berasal dari penyesuaian nilai wajar aset serta pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) pada anak usaha di sektor properti dan kontraktor gedung. Penurunan daya beli masyarakat dan perlambatan pasar real estat nasional memaksa perusahaan melakukan evaluasi ulang terhadap Net Realizable Value (NRV) aset mereka berdasarkan penilaian independen. Hal ini selaras dengan tren industri konstruksi nasional yang tengah melakukan pembersihan laporan keuangan (clean up) sebelum memasuki fase merger BUMN Karya.
Sekretaris Perusahaan ADHI, Rozi Sparta, menyoroti bahwa tahun 2026 akan menjadi periode transformasi kualitas bisnis. Fokus utama perseroan saat ini adalah mengamankan arus kas melalui percepatan pencairan piutang pada proyek-proyek infrastruktur raksasa. Langkah ini dinilai krusial untuk memperbaiki rasio likuiditas yang sempat tertekan seiring penurunan pendapatan sebesar 27,6% menjadi Rp9,67 triliun pada tahun lalu.
- Bottom Line: Rugi Bersih Rp5,4 Triliun (Lonjakan 6.127% yoy).
- Top Line: Pendapatan turun dari Rp13,35 T menjadi Rp9,67 T.
- Faktor Eksternal: Tekanan sektor properti dan proses kepailitan sejumlah pelanggan di sektor gedung.
- Faktor Internal: Penyesuaian nilai wajar aset paska review fundamental oleh Danantara.
Di sisi lain, proses integrasi BUMN Karya yang kini dipantau oleh Danantara memberikan arah baru bagi ADHI. Terdapat rencana sistematis untuk melakukan penataan ulang anak usaha agar tidak terjadi tumpang tindih portofolio. Strategi divestasi aset non-inti yang tengah dikaji diharapkan mampu memberikan suntikan dana segar tanpa harus menambah beban utang baru. Pengamat menilai bahwa langkah refocusing ke bisnis konstruksi murni akan memberikan competitive advantage bagi ADHI dalam memenangkan tender proyek infrastruktur di masa depan.
| Indikator Keuangan | FY 2024 | FY 2025 | Persentase Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan Usaha | Rp 13,35 Triliun | Rp 9,67 Triliun | -27,6% (Penurunan) |
| Laba (Rugi) Bersih | (Data Terlampir) | (Rp 5,4 Triliun) | +6.127% (Kenaikan Rugi) |
| Fokus Strategi 2026 | Divestasi & Penagihan Piutang LRT/Tol Sigli | Peningkatan Likuiditas | |
Melihat prospek ke depan, ADHI diproyeksikan akan lebih selektif dalam memilih proyek dengan skema pembayaran yang lebih pasti (milestone-based). Keberhasilan manajemen dalam mengeksekusi rencana divestasi dan mempercepat penagihan piutang PSN akan menjadi penentu utama apakah emiten ini mampu melakukan turnaround performa di akhir tahun 2026. Sinergi di bawah payung Danantara diharapkan menjadi katalis positif bagi stabilisasi harga saham dan kepercayaan investor di pasar modal.



