CIMB Group Agresif Garap Segmen Affluent ASEAN: Targetkan Kontribusi NOII 34% Lewat Strategi Wealth Update
Baca dalam 60 detik
- Ekspansi Regional: CIMB Group memperluas penetrasi layanan wealth management di Asia Tenggara guna menangkap potensi pertumbuhan populasi kelas atas yang diproyeksi mendominasi 70% pasar pada 2030.
- Fokus Profitabilitas: Melalui strategi Forward30, bank menargetkan peningkatan fee-based income dan optimalisasi dana murah (CASA) dengan mengintegrasikan layanan konsultasi berbasis AI dan insight pasar global.
- Indonesia Jadi Market Utama: Peluncuran layanan Private Wealth di Indonesia menandai ambisi CIMB untuk mendominasi pasar nasabah high net-worth dengan dana kelolaan mulai dari Rp5 miliar.

CIMB Group Holdings Berhad resmi mengumumkan percepatan ekspansi bisnis di segmen affluent dan wealth management se-ASEAN, sebuah langkah strategis untuk memperkokoh struktur pendapatan non-bunga (NOII) di tengah lonjakan populasi kelas menengah-atas di kawasan tersebut.
Langkah masif ini merupakan bagian dari peta jalan strategi Forward30, di mana CIMB berupaya mengamankan porsi pendapatan berbasis komisi yang lebih stabil. CEO Group Consumer Banking CIMB, Haniz Nazlan, menyoroti tren demografi di Asia Tenggara yang kian menguntungkan industri perbankan. Populasi kelas affluent diperkirakan tumbuh konsisten di level 5%β6% per tahun. Dengan proyeksi bahwa kelompok ini akan menguasai hampir 70% total populasi pada 2030, perbankan melihat adanya kebutuhan mendesak untuk transformasi layanan dari sekadar transaksi menjadi model konsultasi yang komprehensif.
Pertumbuhan kekayaan ini tidak hanya didorong oleh kenaikan pendapatan rutin, tetapi juga oleh masifnya aktivitas kewirausahaan dan fenomena intergenerational wealth transfer. Dinamika ini menuntut perbankan untuk menyediakan solusi finansial yang lebih kompleks, mencakup aspek proteksi, instrumen investasi yang terdiversifikasi, hingga manajemen aset lintas negara.
- π Target NOII: Kontribusi pendapatan non-bunga diproyeksikan mencapai 33%β34% pada 2030.
- π° Dana Pihak Ketiga: Tercatat sebesar RM 524,4 miliar (per Des 2025), tumbuh 5,4% YoY.
- π Rasio CASA: Menjaga basis dana murah di level 42,7% untuk efisiensi biaya dana.
- π€ Teknologi: Implementasi AI untuk portofolio monitoring dan rekomendasi real-time.
Dalam ekosistem regionalnya, CIMB memosisikan Singapura sebagai *hub wealth* utama. Kantor pusat di Singapura berfungsi sebagai basis *treasury* bagi korporasi multinasional sekaligus pusat layanan investasi lintas batas yang mencakup perencanaan pensiun dan pendidikan internasional. Di Indonesia sendiri, optimisme senada disampaikan oleh Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga. Menurutnya, Indonesia adalah pasar yang sangat potensial seiring meningkatnya permintaan akan penasihat keuangan profesional dari nasabah high net-worth.
Secara teknis, CIMB memperkuat kapabilitas *advisory* melalui dukungan Chief Investment Office (CIO) dan optimalisasi *Relationship Manager* (RM) yang didukung oleh teknologi kecerdasan buatan. Hal ini memungkinkan bank untuk memberikan ulasan portofolio yang lebih presisi dan personal kepada nasabah. Integrasi antara platform digital dan keahlian manusia ini diharapkan menjadi kunci pembeda dalam memenangkan persaingan di pasar *wealth* ASEAN yang semakin kompetitif.
| Indikator Keuangan | Realisasi (Des 2025) | Target (2030) |
|---|---|---|
| Total Dana Pihak Ketiga (DPK) | RM 524,4 Miliar | Pertumbuhan Agresif |
| Kontribusi Non-Interest Income | ~20-25% (Est) | 33% - 34% |
| Rasio CASA (Dana Murah) | 42,7% | Peningkatan Stabilitas |
Menatap masa depan, fokus CIMB pada segmen *affluent* tidak hanya akan mendongkrak pendapatan jangka pendek, tetapi juga membangun loyalitas nasabah melalui skema *inheritance planning* (warisan). Dengan jaringan regional yang kuat di Malaysia, Singapura, dan Indonesia, CIMB berada pada posisi strategis untuk menjadi pemain dominan dalam lanskap manajemen kekayaan di Asia Tenggara hingga dekade mendatang.



