Surplus Neraca Dagang RI Rekor 70 Bulan Beruntun: AS Jadi Jangkar Ekspor Utama
Baca dalam 60 detik
- Konsistensi Eksplosif: Indonesia mencatatkan tren positif perdagangan selama hampir enam tahun tanpa terputus sejak Mei 2020, dengan angka surplus Februari mencapai US$ 1,27 miliar.
- Pergeseran Mitra Strategis: Amerika Serikat menggeser dominasi mitra lain sebagai penyumbang surplus terbesar (US$ 3,53 miliar), mengompensasi defisit kronis dari perdagangan dengan China.
- Tantangan Manufaktur: Meski ekspor non-migas tetap tangguh, terjadi penurunan nilai surplus bulanan yang mengindikasikan tekanan pada komoditas andalan seperti CPO dan bahan bakar mineral.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 menembus US$ 1,27 miliar, sekaligus memperpanjang rekor kemenangan beruntun selama 70 bulan di tengah fluktuasi ekonomi global.
Pencapaian ini menunjukkan ketangguhan fundamental ekonomi domestik yang mampu menjaga stabilitas ekspor meski dihadapkan pada dinamika pasar internasional yang menantang. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyoroti bahwa motor penggerak utama surplus kali ini berasal dari sektor non-migas yang menyumbangkan angka US$ 2,19 miliar. Walaupun secara nominal angka ini mengalami moderasi dibandingkan Januari, sektor manufaktur dan komoditas seperti lemak nabati (CPO) serta besi baja tetap menjadi *top performer* di pasar global.
Menariknya, peta kekuatan mitra dagang Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan. Amerika Serikat kini tampil sebagai *anchor* surplus bagi Indonesia dengan kontribusi akumulatif Januari-Februari mencapai US$ 3,53 miliar. Produk-produk seperti mesin elektrik, pakaian rajutan, dan alas kaki asal Indonesia mendapatkan momentum besar di pasar Paman Sam, memberikan *update* positif bagi diversifikasi pasar ekspor RI agar tidak terlalu bergantung pada satu kawasan saja.
- Mitra Surplus Terbesar: Amerika Serikat (US$ 3,53 Miliar), India (US$ 2,33 Miliar), dan Filipina (US$ 1,50 Miliar).
- Mitra Defisit Terbesar: China (US$ 5,23 Miliar) akibat tingginya impor mesin dan kendaraan.
- Kinerja Migas: Masih mencatatkan defisit sebesar US$ 920 juta, didominasi oleh ketergantungan impor minyak mentah.
- Total Surplus Kumulatif: Tercatat US$ 2,23 Miliar (Mengalami normalisasi dibanding periode yang sama tahun lalu).
Namun, pemerintah dan pelaku usaha perlu mewaspadai tren penurunan surplus non-migas yang mulai membayangi. Penurunan dari US$ 3,22 miliar di bulan Januari menjadi US$ 2,19 miliar di Februari mengindikasikan adanya pelemahan permintaan atau koreksi harga komoditas global. Di sisi lain, *duel* dagang dengan China masih menyisakan lubang defisit yang cukup dalam, mencapai US$ 5,23 miliar, yang dipicu oleh ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku dan barang modal dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
| Kategori Komoditas | Status Neraca | Nilai (Februari 2026) |
|---|---|---|
| Non-Migas (CPO, Besi Baja, Mineral) | Surplus | US$ 2,19 Miliar |
| Migas (Minyak Mentah & Hasil Olahan) | Defisit | US$ 920 Juta |
| Total Neraca Perdagangan | Total Surplus | US$ 1,27 Miliar |
Secara forward-looking, keberlanjutan surplus perdagangan ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian moneter global. Pemerintah diproyeksikan akan terus mendorong hilirisasi industri untuk mengurangi impor barang modal serta memperluas penetrasi ke pasar non-tradisional. Tantangan utama di kuartal berikutnya adalah menjaga momentum ekspor ke Amerika Serikat sembari menekan laju defisit dengan China melalui substitusi impor yang lebih agresif.



