Surplus Neraca Dagang Indonesia Cetak Rekor 69 Bulan Beruntun, Sektor Non-Migas Jadi Anchor
Baca dalam 60 detik
- Konsistensi Luar Biasa: Indonesia mempertahankan tren positif neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan capaian surplus sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026.
- Performa Ekspor Tangguh: Meskipun impor melonjak signifikan, ekspor non-migas—terutama lemak nabati dan nikel—berhasil mengompensasi defisit sektor energi sebesar US$2,27 miliar.
- Sinyal Ekspansi Industri: Kenaikan tajam impor barang modal (+35,32%) mengindikasikan adanya geliat investasi dan penguatan kapasitas produksi manufaktur domestik di awal tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia berhasil mengamankan surplus neraca perdagangan sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026. Capaian ini menandai perpanjangan rekor surplus selama 69 bulan berturut-turut, sebuah prestasi konsistensi makroekonomi yang bertahan sejak fase awal pandemi global tahun 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyoroti bahwa motor utama penggerak surplus kali ini adalah performa solid dari perdagangan non-migas. Sektor ini membukukan surplus impresif senilai US$3,22 miliar, yang secara efektif menambal defisit di sektor minyak dan gas (migas) sebesar US$2,27 miliar. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap ekspor komoditas unggulan dan produk manufaktur masih menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional yang andal.
Secara rinci, total ekspor Januari 2026 menyentuh angka US$22,16 billion, tumbuh 3,39% (yoy). Lonjakan paling signifikan terlihat pada komoditas lemak dan minyak nabati/hewani yang melesat 46,05%, disusul oleh produk nikel yang tumbuh 42,04%. Di sisi lain, nilai impor juga mengalami akselerasi tajam sebesar 18,21% (yoy) menjadi US$21,21 miliar. Menariknya, pertumbuhan impor didominasi oleh barang modal yang melonjak 35,32% serta bahan baku/penolong sebesar 14,67%. Dalam perspektif ekonomi, tren ini seringkali dinilai sebagai sinyal positif *rebound* industri manufaktur yang sedang mempersiapkan ekspansi produksi.
- Total Surplus: US$0,95 Miliar (Januari 2026).
- Kontributor Utama: Lemak & Minyak Nabati (US$3,10 M), Bahan Bakar Mineral (US$2,16 M), Besi & Baja (US$1,51 M).
- Mitra Dagang Terkuat: Amerika Serikat (Surplus US$1,55 M) dan India (Surplus US$1,07 M).
- Defisit Terbesar: Tiongkok (US$2,47 M) dan Australia (US$0,96 M).
| Komponen Perdagangan | Nilai (Januari 2026) | Pertumbuhan (yoy) |
|---|---|---|
| Total Ekspor | US$22,16 Miliar | +3,39% |
| Total Impor | US$21,21 Miliar | +18,21% |
| Impor Barang Modal | - | +35,32% |
| Ekspor Nikel & Turunannya | - | +42,04% |
Menatap sisa tahun 2026, tantangan utama terletak pada pengelolaan defisit migas yang kian melebar serta menjaga keseimbangan dagang dengan mitra besar seperti Tiongkok. Meskipun lonjakan impor barang modal menjanjikan peningkatan kapasitas industri di masa depan, volatilitas harga komoditas global tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai. Pemerintah diproyeksikan akan terus mendorong hilirisasi lebih lanjut untuk memastikan nilai tambah ekspor tetap tinggi guna mempertahankan *surplus streak* yang bersejarah ini.



