Indonesia Perkuat Trade Partnership dengan Singapura & Malaysia: Fokus pada CPTPP dan Border Trade Update
Baca dalam 60 detik
- Akselerasi Bilateral: Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti memacu kerja sama ekonomi dengan Singapura dan Malaysia melalui rangkaian pertemuan di sela-sela AEM Retreat di Filipina.
- Ambisi CPTPP: Indonesia menegaskan komitmen aksesi pada kerangka kerja sama modern CPTPP guna mengintegrasikan ekonomi nasional secara lebih dalam di kawasan Indo-Pasifik.
- Normalisasi Perbatasan: Fokus utama dengan Malaysia mencakup optimalisasi Border Trade Agreement (BTA) 2023 dan percepatan aktivitas dagang di titik strategis Entikong-Tebedu.

Pemerintah Indonesia melalui Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, secara resmi memperkuat komitmen investasi dan perdagangan bilateral dengan Singapura serta Malaysia. Pertemuan strategis ini berlangsung di tengah agenda 32nd ASEAN Economic Ministers (AEM) Retreat di Taguig, Filipina, pada 13 Maret 2026, yang bertujuan untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi regional yang inklusif dan terbuka.
Dalam sesi bersama Deputy Prime Minister Singapura, Gan Kim Yong, Indonesia menyoroti performa impresif nilai perdagangan kedua negara yang tumbuh sebesar 14,6% dalam lima tahun terakhir. Tercatat, angka perdagangan melonjak dari US$16,85 miliar pada 2020 menjadi US$19,32 miliar pada 2025. Pemerintah menilai masih terdapat celah ekspansi yang luas, khususnya dalam upaya diversifikasi produk ekspor Indonesia agar memiliki nilai tambah (higher added value) yang lebih kompetitif di pasar global.
Selain isu bilateral, Jakarta juga membawa agenda aksesi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Langkah ini dipandang sebagai instrumen krusial bagi integrasi ekonomi Indo-Pasifik. Dialog tersebut juga mencakup progres negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang diprediksi akan menjadi pilar utama ekonomi digital di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang.
- Trade Value Singapura: Tumbuh 14,6% mencapai US$19,32 miliar (2025).
- Trade Value Malaysia: Mencatatkan total US$24,22 miliar di tahun 2025.
- Integrasi Kawasan: Komitmen aksesi CPTPP dan finalisasi DEFA.
- Border Focus: Normalisasi jalur dagang lintas batas Entikong-Tebedu.
Beralih ke hubungan dengan Malaysia, fokus dialihkan pada penguatan mekanisme Joint Trade and Investment Committee (JTIC). Penjajakan ini melibatkan diskusi mendalam mengenai implementasi Border Trade Agreement (BTA) 2023. Salah satu prioritas utama adalah mempercepat normalisasi perdagangan lintas batas di pos Entikong-Tebedu, yang diharapkan mampu menstimulasi ekonomi kerakyatan di wilayah perbatasan serta memperlancar arus barang antara kedua negara yang pada 2025 lalu telah mencapai nilai transaksi US$24,22 miliar.
| Negara Mitra | Volume Perdagangan (2025) | Fokus Utama Kerja Sama |
|---|---|---|
| Singapura | US$19,32 Miliar | CPTPP, DEFA, Added Value Products |
| Malaysia | US$24,22 Miliar | Border Trade (Entikong-Tebedu), JTIC, MIIC |
Ke depan, penguatan aliansi perdagangan ini diproyeksikan akan memberikan bantalan ekonomi yang kuat bagi Indonesia di tengah fluktuasi pasar global. Dengan mendorong transformasi ekspor ke sektor bernilai tambah tinggi dan mempererat konektivitas lintas batas, Indonesia berpeluang besar menjadi hub logistik dan investasi utama di Asia Tenggara, sekaligus mempercepat realisasi visi integrasi ekonomi ASEAN yang lebih mapan.



