Oscar 2026 Sarat Pesan Politik: Dari Solidaritas Palestina Hingga Kritik Keras Kebijakan AS
Baca dalam 60 detik
- Ajang Oscar 2026 diwarnai oleh berbagai orasi dan kritik politik yang kuat dari para sineas dan aktor Hollywood, membuktikan peringatan awal dari sang pembawa acara, Conan O'Brien.
- Momen paling viral salah satunya adalah ketika aktor Javier Bardem dengan lantang menyerukan "Bebaskan Palestina" saat tampil di atas panggung, yang langsung mendapat apresiasi besar dari hadirin.
- Selain konflik Timur Tengah, para pemenang piala Oscar juga menyoroti isu-isu krusial lainnya di Amerika Serikat dan dunia, mulai dari krisis kemanusiaan akibat kebijakan imigrasi (ICE), bahaya kekerasan senjata api, perlindungan hak anak, hingga ancaman AI bagi pekerja industri kreatif.

Ajang Academy Awards ke-98 atau Oscar 2026 yang digelar pada Minggu (15/3/2026) malam tidak hanya dipenuhi oleh kemilau bintang Hollywood, tetapi juga sarat akan pesan dan kritik politik yang tajam. Melansir laporan The Guardian, pembawa acara Conan O'Brien sejak awal monolognya sudah memperingatkan penonton bahwa malam penganugerahan tahun ini akan terasa sangat politis. Peringatan tersebut terbukti benar seiring berjalannya acara.
Dominasi film-film bertema isu sosial yang kuat, seperti One Battle After Another karya Paul Thomas Anderson (pemenang Film Terbaik) dan Sinners arahan Ryan Coogler, sejalan dengan keberanian para pemenang di atas panggung. Salah satu momen paling disorot terjadi ketika aktor asal Spanyol, Javier Bardem, menyerukan pesan "Tidak untuk perang, dan bebaskan Palestina" saat membacakan nominasi Film Fitur Internasional Terbaik, yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari penonton di Dolby Theatre.
Berikut adalah deretan momen bernuansa politik dan aktivisme sosial yang mewarnai panggung Oscar tahun ini:
- Menyoroti Kekejaman Pemerintah: Tim di balik film dokumenter Mr Nobody Against Putin memanfaatkan pidato mereka untuk mengkritik pembunuhan yang dilakukan oleh lembaga imigrasi AS (ICE). Sementara itu, kreator dokumenter All the Empty Rooms menyuarakan keprihatinan mendalam atas epidemi kekerasan senjata api yang menewaskan anak-anak di Amerika Serikat.
- Seni sebagai Perlawanan: Sutradara Joachim Trier (Sentimental Value) memperingatkan publik untuk tidak memilih politisi yang mengabaikan masa depan anak-anak. Di sisi lain, para pembuat film dari Timur Tengah hadir di karpet merah mengenakan pin penyeru "gencatan senjata permanen" untuk konflik Israel-Gaza.
- Keberagaman dan Ancaman AI: Malam itu juga merayakan keberagaman dengan kemenangan bersejarah para aktor kulit hitam dan sineas Asia. Selain itu, panggung Oscar turut menjadi wadah melayangkan kritik terhadap penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang dianggap mengancam eksistensi dan seni para pekerja film di Hollywood.
Pergeseran Oscar tahun ini menunjukkan bahwa Hollywood semakin sulit mengabaikan realitas global yang kelam. Alih-alih hanya menjadi malam perayaan industri film, panggung terbesar sinema dunia ini kini turut bertransformasi menjadi megafon raksasa untuk menyuarakan ketidakadilan sosial, krisis kemanusiaan, dan kecemasan generasi masa depan.
"Semua orang yang menonton saat ini, di seluruh dunia, sangat sadar bahwa ini adalah masa-masa yang sangat kacau dan menakutkan... ini adalah produk dari ribuan orang yang berbicara bahasa berbeda, bekerja keras untuk membuat sesuatu yang indah." - Conan O'Brien dalam monolognya.



