Ketegangan Memuncak, Trump Desak Inggris dan Sekutu Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mendesak Inggris Raya, Tiongkok, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengirimkan armada kapal perang ke Selat Hormuz guna mengamankan jalur pasokan minyak global dari ancaman blokade Iran.
- Penutupan efektif Selat Hormuz—yang menjadi jalur transit bagi sekitar 20 persen suplai minyak dunia—telah memicu gangguan perdagangan logistik internasional yang serius dan lonjakan harga energi secara drastis.
- Di tengah rencana pengawalan kapal komersial yang melintas, Trump juga melontarkan ancaman agresif bahwa militer AS siap melakukan serangan besar-besaran di sepanjang garis pantai untuk melumpuhkan armada kapal laut Iran.

Krisis geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin menegangkan. Melansir laporan BBC pada pertengahan Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mendesak Inggris Raya beserta sejumlah negara sekutu dan kekuatan ekonomi global lainnya untuk segera mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz. Permintaan ini dilontarkan di tengah eskalasi konflik antara koalisi AS-Israel dengan Iran yang telah menyebabkan gangguan parah pada jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan perlunya tindakan kolektif dari negara-negara yang pasokan energinya bergantung pada Selat Hormuz, termasuk secara spesifik menyebut Tiongkok, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan. Ia memperingatkan bahwa meski pihak AS mengklaim telah melumpuhkan sebagian besar infrastruktur militer Iran, ancaman asimetris seperti serangan drone, ranjau laut, maupun rudal jarak dekat masih sangat nyata dan berpotensi memicu lonjakan harga minyak global.
Berikut adalah perkembangan krusial dari situasi keamanan maritim di kawasan Teluk saat ini:
- Urat Nadi Minyak Dunia: Selat Hormuz merupakan titik sempit strategis yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak global (sekitar 20 juta barel per hari). Pemblokiran jalur ini oleh angkatan bersenjata Iran telah memberikan pukulan telak pada stabilitas perdagangan internasional.
- Ancaman Bombardir Pesisir: AS menyatakan komitmennya untuk segera mengawal kapal-kapal komersial yang melintas. Trump secara agresif menyatakan bahwa militer AS tidak akan segan untuk membombardir area pesisir secara masif dan menenggelamkan armada kapal Iran demi membuka kembali jalur logistik tersebut.
- Respons Negara Sekutu: Menanggapi seruan tersebut, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa mereka tengah melakukan pembicaraan intensif dengan para sekutu mengenai berbagai opsi perlindungan maritim di kawasan. Sementara itu, Prancis dilaporkan mulai menyiagakan sejumlah armada lautnya.
Langkah Amerika Serikat untuk membentuk koalisi maritim internasional ini menunjukkan betapa mendesaknya upaya mengamankan rantai pasok energi global dari pusaran konflik militer. Dunia kini menanti respons resmi dari negara-negara besar lainnya, apakah mereka bersedia mengambil risiko eskalasi untuk terjun langsung ke dalam zona konflik demi mengamankan kepentingan ekonomi strategis mereka masing-masing.
"Banyak negara, terutama mereka yang terdampak oleh upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz, akan mengirimkan kapal perang, bersama dengan Amerika Serikat, untuk menjaga selat tersebut tetap terbuka dan aman."



