Operasi Skala Global! Aparat Bantai 45 Ribu IP Jahat Sarang Ransomware
Baca dalam 60 detik
- INTERPOL bersama aparat penegak hukum dari 72 negara berhasil melumpuhkan lebih dari 45.000 alamat IP berbahaya yang digunakan untuk melancarkan serangan ransomware dan phishing.
- Melalui operasi sandi Synergia III yang dibantu oleh perusahaan keamanan siber swasta kepolisian sukses menangkap 94 tersangka dari berbagai belahan dunia.
- Operasi pembongkaran infrastruktur siber ini berhasil memukul mundur berbagai sindikat kejahatan mulai dari pembuat situs bank palsu di Makau hingga komplotan penipuan di Bangladesh dan Togo.

Halo, para admin jaringan dan pejuang keamanan siber! Ada kabar gahar dari dunia penegakan hukum digital nih. Mengutip laporan dari Cyber Security News pada 14 Maret 2026, gabungan aparat penegak hukum dari 72 negara baru saja sukses melakukan operasi sapu bersih skala global. Nggak tanggung-tanggung, mereka berhasil menumbangkan lebih dari 45.000 alamat IP dan server berbahaya yang selama ini jadi tulang punggung serangan ransomware di berbagai belahan dunia.
Operasi yang dikomandoi langsung oleh INTERPOL dengan sandi "Operation Synergia III" ini berlangsung senyap sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Alih-alih cuma nangkap kroco, operasi ini langsung membidik infrastruktur inti yang dipakai para peretas buat menanam Command-and-Control (C2) server mereka, menyebarkan malware mematikan, sampai bikin situs phishing untuk menjebak korban yang lengah.
Buat kalian yang kepo sedahsyat apa operasi gabungan ini, berikut rinciannya:
- Statistik Operasi: Selain melumpuhkan 45.000 lebih IP malicious, polisi juga menangkap 94 tersangka, menetapkan 110 orang dalam penyelidikan aktif, serta menyita 212 perangkat elektronik untuk proses forensik.
- Kolaborasi Swasta: INTERPOL nggak kerja sendirian. Mereka menggandeng raksasa cybersecurity seperti Group-IB, Trend Micro, dan S2W untuk melacak jejak intelijen ancaman (threat intelligence) secara akurat.
- Target Global: Operasi ini menggerebek sindikat penipuan bank di Makau (dengan 33.000 situs phishing), penipuan finansial di Bangladesh, hingga komplotan social engineering dan sextortion di Togo.
Keberhasilan ini jadi bukti nyata kalau kejahatan siber yang makin sophisticated di tahun 2026 cuma bisa dilawan dengan kolaborasi lintas negara dan bantuan pakar swasta. Jadi, buat para threat actor yang ngerasa aman sembunyi di balik jaringan proxy, mending mulai ketar-ketir deh karena aparat sekarang udah main takedown server sampai ke akar-akarnya!
"Menangkap satu peretas itu bagus, tetapi menghancurkan infrastruktur server tempat mereka bernaung adalah kunci utama untuk memenangkan perang siber secara absolut."



