Lumpuh Total: Raksasa Medtech Stryker Kena Serangan Cyber Pro-Iran, 200.000 Perangkat Dihapus Paksa
Baca dalam 60 detik
- Stryker lumpuh akibat serangan siber kelompok Handala pro-Iran (Maret 2026).
- Sebanyak 200.000 perangkat dihapus secara permanen menggunakan wiper malware.
- Peretas mengklaim mencuri 50 TB data sebagai aksi balasan geopolitik terhadap AS.

Dunia teknologi medis (medtech) global terguncang oleh salah satu serangan siber paling destruktif tahun ini. Berdasarkan laporan dari The Verge dan media teknologi utama per Kamis (12/3/2026), perusahaan raksasa asal AS, Stryker, lumpuh total akibat serangan siber masif yang dilancarkan oleh kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran, Handala. Serangan ini tidak menggunakan ransomware tradisional untuk meminta tebusan, melainkan menggunakan wiper malware gahar yang menghapus seluruh data secara permanen.
Kekacauan ini bermula sejak Rabu dini hari, di mana ribuan karyawan Stryker di seluruh dunia menyaksikan komputer dan ponsel perusahaan mereka terhapus secara otomatis dalam hitungan detik. Di tahun 2026, serangan ini tercatat sebagai eskalasi serius dalam perang siber geopolitik, di mana kelompok Handala mengklaim serangan tersebut sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap sebuah sekolah di Iran. Peretasan ini dilaporkan melumpuhkan operasi di 79 negara, memaksa ribuan staf pulang karena sistem manufaktur dan komunikasi internal tidak dapat digunakan sama sekali.
Berikut adalah rincian gahar mengenai kerusakan sistem yang dialami Stryker:
- Penghapusan Data Masif: Lebih dari 200.000 sistem, server, dan perangkat seluler (termasuk laptop Windows) dilaporkan telah dihapus (wiped) melalui akses Microsoft Intune.
- Pencurian Data Besar: Peretas mengklaim telah mengekstraksi 50 Terabyte (TB) data perusahaan yang sangat sensitif sebelum menghancurkan sistemnya.
- Deface Halaman Login: Logo kelompok Handala muncul di setiap portal login perusahaan, menandai keberhasilan infiltrasi mereka ke dalam Active Directory.
- Dampak Global: Operasi di pabrik besar seperti di Cork (Irlandia) hingga kantor pusat di Michigan terhenti, berdampak pada rantai pasok alat bedah dan ortopedi dunia.
Pihak Stryker telah mengonfirmasi adanya "gangguan jaringan global" dan menyatakan sedang berupaya memulihkan sistem dengan bantuan pakar keamanan siber dan penegak hukum. Meski Stryker mengklaim tidak ada indikasi ransomware, para analis menilai kerusakan akibat wiper malware jauh lebih sulit dipulihkan karena data fisik pada drive sering kali dihancurkan sepenuhnya. Serangan ini menjadi peringatan gahar bagi sektor infrastruktur kritis di tahun 2026 bahwa target ekonomi dan medis kini telah menjadi garis depan baru dalam konflik antarnegara yang semakin tidak terduga.
"Dalam era perang siber hibrida, menghancurkan data adalah senjata baru untuk melumpuhkan ekonomi tanpa melepaskan satu peluru pun."



