Arthur Hayes kembali dengan prediksi berani: perang di Timur Tengah bukan hanya tentang geopolitik, melainkan lonceng kematian bagi kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
Berdasarkan analisis terbaru dari Bitcoin Ethereum News per Maret 2026, Arthur Hayes berpendapat bahwa serangan di Iran dan penutupan jalur maritim akan menyebabkan lonjakan harga minyak yang tidak terkendali. Dalam skenario normal, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi ini. Namun, Hayes berargumen bahwa ekonomi global saat ini terlalu rapuh untuk suku bunga yang lebih tinggi. Ia memprediksi bahwa The Fed akan terpaksa melakukan "pivot" atau pelonggaran moneter darurat untuk menyuntikkan likuiditas ke pasar, yang secara efektif mendevaluasi dolar dan mendorong investor mencari perlindungan dalam aset keras seperti Bitcoin.
Mekanisme "War-driven Rally":
- Guncangan Suplai: Minyak mahal = biaya produksi global naik secara vertikal.
- Intervensi Pemerintah: Untuk menjaga daya beli masyarakat selama krisis, pemerintah cenderung mensubsidi atau mencetak uang lebih banyak.
- Likuiditas ke Kripto: Saat suplai fiat (dolar/euro) bertambah, namun jumlah Bitcoin tetap tetap, harga Bitcoin secara matematis akan meroket terhadap mata uang tersebut.
Secara objektif, teori Hayes ini mengandung risiko moral yang tinggi. Ia melihat krisis kemanusiaan dan geopolitik sebagai katalis ekonomi bagi sistem moneter alternatif. Meskipun pandangan ini kontroversial, sejarah menunjukkan bahwa setiap kali terjadi krisis sistemik yang mengancam likuiditas pasar, bank sentral cenderung memilih jalur pencetakan uang sebagai solusi jangka pendek. Bagi pemegang Bitcoin, tesis Hayes ini memberikan narasi yang kuat mengapa BTC bisa menembus level psikologis baru di tengah kekacauan dunia tahun 2026.




