Resiliensi Pasar Berkembang: EBRD Revisi Naik Proyeksi Pertumbuhan di Tengah Turbulensi Tarif AS
Baca dalam 60 detik
- Anomali Perdagangan Global: Laporan terbaru menunjukkan bahwa pengalihan rute ekspor berhasil memitigasi dampak proteksionisme Amerika Serikat pada negara-negara transisi.
- Sektor AI Jadi Katalis: Negara-negara di kawasan Eropa Tengah mulai mengambil alih posisi China dalam rantai pasok perangkat keras komputasi dan server untuk pasar Amerika.
- Risiko Pengeluaran Defisit: Peningkatan anggaran militer akibat konflik di Ukraina dinilai berisiko menguras likuiditas publik yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jangka panjang.

LONDON β European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) melaporkan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang mengejutkan sebesar 3,4% di 40 negara wilayah operasionalnya pada Kamis (26/02). Meskipun terdapat kekhawatiran global mengenai kebijakan tarif agresif pemerintahan Donald Trump, data terbaru menunjukkan bahwa pasar berkembang mampu beradaptasi melalui reposisi jalur perdagangan. Lembaga keuangan tersebut kini secara optimis merevisi prospek pertumbuhan menjadi 3,6% untuk tahun berjalan dan 3,7% pada 2027, didorong oleh melandainya inflasi dan masifnya investasi infrastruktur di blok Eropa.
Fenomena menarik muncul di kawasan Eropa Tengah, di mana Hongaria, Republik Ceko, dan Polandia mencatat lonjakan ekspor produk teknologi tinggi. Ketajaman analisis EBRD menyoroti bahwa negara-negara ini secara efektif menggantikan peran China dalam memasok kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat, mulai dari prosesor hingga sistem server kompleks. Pergeseran ini menunjukkan bahwa proteksionisme AS tidak serta merta menghentikan arus perdagangan, melainkan menciptakan peluang baru bagi negara-negara yang memiliki basis manufaktur teknologi yang fleksibel.
Namun, stabilitas ini tetap berada dalam pengawasan ketat. Kepala Ekonom EBRD, Beata Javorcik, menilai bahwa ketidakpastian hukum terkait kewenangan eksekutif AS dalam menetapkan tarif pasca-April 2025 memaksa para pembuat kebijakan di negara berkembang untuk beroperasi dalam "mode darurat". Selain beban geopolitik, fokus fiskal saat ini terpecah oleh meningkatnya belanja pertahanan akibat konflik di Ukraina. Tantangannya terletak pada kualitas belanja publik; apakah anggaran dialokasikan untuk konsumsi militer jangka pendek atau infrastruktur ganda (dual-use) yang dapat menunjang standar hidup dan produktivitas nasional di tengah ancaman krisis demografi.
Ke depan, resiliensi ekonomi negara-negara berkembang akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola investasi publik di tengah rendahnya minat investasi swasta akibat volatilitas global. Meskipun revisi naik 0,2 poin persentase memberikan angin segar bagi pasar modal, masa depan isu ini tetap objektif pada penyelesaian sengketa dagang lintas Samudera Atlantik dan efektivitas reformasi struktural domestik. Fokus pada proyek pertumbuhan jangka panjang akan menjadi pembeda antara negara yang sekadar bertahan dari kejutan tarif dan negara yang mampu memanfaatkan pergeseran rantai pasok global secara permanen.



