AI & Data Science · Nature News
Mengapa Sains Takkan Ada Tanpa Alkimia, Rasa Ingin Tahu, dan Tulisan Hebat: Buku-buku Singkat
Books in Brief dari Nature menyoroti empat judul baru yang merayakan fondasi sains yang tak terduga: peran alkimia dalam kimia, pentingnya ekologi hutan kelp, seni bercerita sains, dan nilai penelitian yang digerakkan rasa ingin tahu.

### Akar Alkimia Kimia Modern
Dalam *The Age of Alchemy* (Profile, 2026), penulis sains Kit Chapman menyajikan sejarah hidup yang menantang pengabaian alkimia sebagai pseudosains belaka. Ia berargumen bahwa kimia “takkan pernah ada” tanpa pendahulu mistisnya. Buku ini dibuka dengan anekdot yang hidup: pada 1901, kimiawan Frederick Soddy, saat menemukan peluruhan radioaktif thorium menjadi radium, dengan bersemangat berteriak kepada kolaboratornya Ernest Rutherford, “Ini transmutasi!” Rutherford membalas tajam, “Demi Mike, Soddy, jangan sebut itu transmutasi. Mereka akan memenggal kepala kita sebagai alkimiawan.” Saat itu, alkimia telah jatuh dalam reputasi buruk, namun para praktisinya—banyak di antaranya ilmuwan serius—meletakkan dasar bagi penyelidikan kimia modern. Narasi Chapman melacak bagaimana teknik alkimia, seperti distilasi dan kristalisasi, serta pencarian filosofisnya untuk mengubah materi, secara langsung menginformasikan perkembangan kimia. Buku ini adalah pengingat bahwa kemajuan ilmiah sering muncul dari asal-usul yang tampak tidak ortodoks, dan bahwa gagasan pinggiran hari ini bisa menjadi prinsip dasar esok.
### Hutan Kelp: Amazon Bawah Laut
*Forest of the Sea* karya David Helvarg (Island, 2026) menyoroti hutan kelp air dingin, yang ia catat “sama misteriusnya bagi kebanyakan orang seperti kedalaman Palung Mariana.” Namun ekosistem bawah laut ini mencakup area yang lebih luas daripada hutan hujan Amazon dan memperkaya perairan di sekitar banyak garis pantai dunia. Helvarg, seorang jurnalis, penulis, dan konservasionis laut, menunjukkan bahwa hutan kelp menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan, bersama mangrove, rawa garam, dan lamun, menghasilkan 20% oksigen dunia. Meskipun signifikansinya global, hutan kelp menghadapi kehancuran manusia yang terus berlanjut akibat polusi, pemanasan perairan, dan pemanenan berlebihan. Buku perintis Helvarg ini sekaligus perayaan atas hutan tersembunyi ini dan seruan untuk melindunginya. Dengan menjalin penelitian ilmiah dan narasi personal, ia membangun argumen kuat mengapa habitat laut ini layak mendapat perhatian yang sama seperti rekan-rekan terestrialnya. Buku ini berfungsi sebagai seruan bertindak, mendesak pembaca untuk mengakui peran vital kelp dalam menopang kehidupan di Bumi.
### Keahlian Bercerita Sains
Disunting oleh jurnalis sains Siri Carpenter, *The Best Science Stories and How They Work* (Univ. Chicago Press, 2026) menawarkan pandangan yang mencerahkan tentang cara menyusun jurnalisme sains berkualitas tinggi. Carpenter menulis dalam pengantarnya, “Terlalu mudah salah menganggap jurnalisme sains sebagai sesuatu yang ada dalam gelembung.” Untuk memecah gelembung itu, kumpulan ini mencetak ulang 11 artikel sains beragam dari penulis berbeda, yang diterbitkan di surat kabar, majalah, dan jurnal, termasuk *Nature*. Setiap artikel disertai komentar dari penulis sains lain dan wawancara antara penulis dan komentator. Format ini memberikan pandangan di balik layar yang langka tentang proses editorial dan kreatif yang membentuk kisah sains yang memikat. Buku ini bukan sekadar antologi tetapi kelas master dalam seni penulisan sains, menunjukkan cara menerjemahkan penelitian kompleks menjadi narasi yang menarik tanpa mengorbankan akurasi. Buku ini menegaskan bahwa penulisan sains yang hebat sangat penting bagi pemahaman publik dan kepercayaan pada sains, dan bahwa kisah terbaik sering muncul dari kolaborasi dan umpan balik kritis.
### Rasa Ingin Tahu sebagai Kekuatan Penggerak
*Lost in Curiosity* karya Roberta Kwok (Sourcebooks, 2026) melengkapi koleksi ini dengan perayaan penelitian yang digerakkan rasa ingin tahu. Meskipun teks artikel lengkapnya terpotong, judulnya saja menunjukkan penyelaman mendalam tentang bagaimana eksplorasi yang tampak tanpa tujuan dapat menghasilkan penemuan terobosan. Kwok, seorang penulis sains, kemungkinan memprofilkan para peneliti yang mengikuti minat mereka tanpa tujuan praktis langsung, hanya untuk menemukan wawasan yang mengubah bidang mereka. Buku ini sejalan dengan gerakan yang berkembang untuk membela penelitian dasar terhadap tuntutan dampak ekonomi langsung. Dengan menyoroti kisah para ilmuwan yang “tersesat” dalam rasa ingin tahu mereka, Kwok membangun argumen persuasif bahwa kebebasan untuk menjelajah bukan kemewahan melainkan kebutuhan untuk inovasi. Di era pendanaan ketat dan evaluasi yang digerakkan metrik, *Lost in Curiosity* menjadi pengingat tepat waktu bahwa beberapa kemajuan ilmiah terpenting berasal dari mengajukan pertanyaan yang tidak diajukan orang lain, semata-mata karena pertanyaan itu menarik.
### Jaring Sains dan Budaya yang Saling Terhubung
Bersama-sama, keempat buku ini menggambarkan bahwa sains bukanlah usaha yang terisolasi melainkan upaya yang sangat manusiawi yang dibentuk oleh sejarah, lingkungan, komunikasi, dan rasa ingin tahu. *The Age of Alchemy* menunjukkan bahwa kimia modern muncul dari tradisi yang pernah diejek; *Forest of the Sea* mengungkap bahwa ekosistem vital tetap sebagian besar tidak dikenal; *The Best Science Stories and How They Work* menunjukkan bahwa cara kita menceritakan sains sama pentingnya dengan sains itu sendiri; dan *Lost in Curiosity* menjunjung dorongan intrinsik untuk memahami. Setiap judul, dengan caranya sendiri, berargumen bahwa sains berkembang ketika ia merangkul akar interdisipliner yang berantakan dan ketika ia mengomunikasikan keajaibannya secara efektif. Seperti yang dicatat Siri Carpenter, jurnalisme sains tidak boleh ada dalam gelembung—dan sains juga tidak. Buku-buku ini secara kolektif membangun argumen kuat untuk rasa ingin tahu, bercerita, dan kesadaran sejarah sebagai komponen penting dari usaha ilmiah. Mereka mengingatkan kita bahwa tanpa alkimia, rasa ingin tahu, dan tulisan hebat, sains seperti yang kita kenal tidak akan ada.
Poin kunci
- Alkimia adalah pendahulu penting bagi kimia modern, dan para praktisinya menyumbangkan teknik serta gagasan yang mendasar.
- Hutan kelp mencakup area yang lebih luas daripada hutan hujan Amazon dan menghasilkan 20% oksigen dunia, namun terancam oleh aktivitas manusia.
- Jurnalisme sains berkualitas tinggi memerlukan keahlian, kolaborasi, dan pemahaman narasi, seperti yang diilustrasikan dalam kumpulan yang disunting Siri Carpenter.
- Penelitian yang digerakkan rasa ingin tahu, meskipun sering diremehkan, adalah mesin vital penemuan ilmiah.
- Sains adalah upaya manusia yang terjalin erat dengan sejarah, budaya, dan komunikasi.
Sumber: Nature News ↗