Editorial Humaniora
Open AccessOA2022
Relevansi Filsafat Moral Buya Hamka terhadap Tantangan Pendidikan 4.0
Digest ini mengkaji filsafat moral Buya Hamka dan relevansinya yang berkelanjutan terhadap tantangan Pendidikan 4.0, dengan argumen bahwa keduanya bertujuan membentuk individu yang beradab dan menyempurnakan diri. Studi ini menyoroti peran penting keluarga, guru, dan masyarakat dalam membentuk karakter mulia di tengah disrupsi teknologi.
N. Zahra; Mohamad Ali; Hakimuddin Salim· Proceedings of the International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies (ICIMS 2022)· 2022· DOI 10.2991/assehr.k.220708.036
Masalah inti
Kemajuan teknologi yang pesat pada Revolusi Industri Keempat telah mengubah pendidikan, memunculkan paradigma Pendidikan 4.0. Paradigma ini menekankan literasi digital, adaptabilitas, dan inovasi, namun juga menimbulkan tantangan signifikan bagi perkembangan moral dan karakter peserta didik. Dalam konteks ini, filsafat moral Buya Hamka—seorang ulama, filsuf, dan pendidik Islam Indonesia yang terkemuka—menawarkan kerangka yang tak lekang waktu untuk menjawab tantangan tersebut. Makalah ini bertujuan mendeskripsikan filsafat moral Buya Hamka dan mengkaji relevansinya terhadap tantangan Pendidikan 4.0. Studi ini berpijak pada penelitian kepustakaan, dengan bersumber pada buku, jurnal, dan dokumen tertulis lainnya, serta menggunakan pendekatan filosofis-historis. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan verifikasi keabsahan data untuk memastikan reliabilitas dan validitas. Penelitian ini menetapkan bahwa tujuan keberadaan manusia adalah memanusiakan manusia dan mencapai kesempurnaan diri untuk memperoleh kemerdekaan, karena manusia adalah makhluk sosial yang harus selalu hidup dalam masyarakat. Lebih lanjut, filsafat moral Buya Hamka tetap relevan terhadap kesulitan pendidikan era 4.0, karena keduanya bertujuan menghasilkan individu yang beradab. Pendidikan 4.0 berperan signifikan dalam membentuk karakter mulia, terutama dalam keluarga, khususnya orang tua, guru, dan masyarakat.
Inovasi
Studi ini menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan, dengan memanfaatkan berbagai sumber tertulis termasuk buku, jurnal akademik, dan dokumen lainnya. Penulis menerapkan pendekatan filosofis-historis untuk menganalisis filsafat moral Buya Hamka dan relevansinya terhadap Pendidikan 4.0. Analisis data dilakukan dengan teknik reduksi data, dilanjutkan dengan penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan reliabilitas dan validitas studi, peneliti memverifikasi keabsahan data melalui triangulasi sumber serta kritik internal dan eksternal secara kritis. Pendekatan filosofis-historis memungkinkan penulis mengontekstualisasikan pemikiran Hamka baik dalam lingkungan historisnya maupun dalam wacana pendidikan kontemporer. Teknik reduksi data melibatkan pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, dan transformasi informasi mentah dari literatur untuk menarik kesimpulan yang bermakna. Ketelitian metodologis ini memastikan bahwa temuan berpijak pada kerangka interpretatif yang kokoh, memberikan dasar yang kuat bagi relevansi filsafat moral Hamka terhadap tantangan pendidikan modern.
Pendahuluan
Kemajuan teknologi yang pesat pada Revolusi Industri Keempat telah mengubah pendidikan, memunculkan paradigma Pendidikan 4.0. Paradigma ini menekankan literasi digital, adaptabilitas, dan inovasi, namun juga menimbulkan tantangan signifikan bagi perkembangan moral dan karakter peserta didik. Dalam konteks ini, filsafat moral Buya Hamka—seorang ulama, filsuf, dan pendidik Islam Indonesia yang terkemuka—menawarkan kerangka yang tak lekang waktu untuk menjawab tantangan tersebut. Makalah ini bertujuan mendeskripsikan filsafat moral Buya Hamka dan mengkaji relevansinya terhadap tantangan Pendidikan 4.0. Studi ini berpijak pada penelitian kepustakaan, dengan bersumber pada buku, jurnal, dan dokumen tertulis lainnya, serta menggunakan pendekatan filosofis-historis. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan verifikasi keabsahan data untuk memastikan reliabilitas dan validitas. Penelitian ini menetapkan bahwa tujuan keberadaan manusia adalah memanusiakan manusia dan mencapai kesempurnaan diri untuk memperoleh kemerdekaan, karena manusia adalah makhluk sosial yang harus selalu hidup dalam masyarakat. Lebih lanjut, filsafat moral Buya Hamka tetap relevan terhadap kesulitan pendidikan era 4.0, karena keduanya bertujuan menghasilkan individu yang beradab. Pendidikan 4.0 berperan signifikan dalam membentuk karakter mulia, terutama dalam keluarga, khususnya orang tua, guru, dan masyarakat.
Mengapa penting
Analisis ini mengungkap adanya konvergensi antara filsafat moral Buya Hamka dan tujuan Pendidikan 4.0. Meskipun Pendidikan 4.0 menekankan kecakapan teknologi dan inovasi, ia juga menuntut fondasi moral yang kuat untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi melayani tujuan manusia yang paling mulia. Konsep Hamka tentang kesempurnaan diri (insan kamil) dan peradaban masyarakat (masyarakat madani) sejalan dengan tujuan akhir pendidikan: menghasilkan individu yang utuh yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Peran keluarga, khususnya orang tua, sangat krusial dalam menanamkan nilai-nilai moral sejak usia dini. Guru dan masyarakat juga berperan vital dalam memperkuat nilai-nilai tersebut. Dalam konteks Pendidikan 4.0, di mana media digital dan interaksi daring semakin membentuk pikiran generasi muda, bimbingan dari orang dewasa yang berlandaskan moral menjadi semakin kritis. Filsafat Hamka menyediakan kerangka untuk mengintegrasikan pendidikan moral ke dalam kurikulum digital, memastikan bahwa siswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis tetapi juga mengembangkan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, relevansi filsafat moral Hamka terletak pada kemampuannya memanusiakan pendidikan di tengah disrupsi teknologi, menumbuhkan keseimbangan antara kemajuan intelektual dan integritas moral.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…