Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2022
Pengaruh Platonis pada Antropologi Kristen Awal: Implikasinya terhadap Teologi Kebangkitan Orang Mati
Artikel ini mengkaji antropologi filosofis Platonis yang mendasari pandangan Kristen awal tentang pribadi manusia sebagai gabungan jiwa dan tubuh, dan berargumen bahwa adopsi yang disengaja ini menciptakan ketegangan antara koherensi teologis dan keyakinan Kristen praktis mengenai kebangkitan orang mati.
Justin Nnaemeka Onyeukaziriยท Philosophia: International Journal of Philosophyยท 2022ยท DOI 10.46992/pijp.23.1.a.3
Masalah inti
Tujuan karya ini adalah menyelidiki antropologi filosofis yang mendasari antropologi umat Kristen Awal. Menarik untuk mengetahui mengapa antropologi Kristen secara intelektual dan praktis cenderung pada antropologi filosofis tradisi Platonis daripada tradisi teologis-filosofis bangsa Ibrani alkitabiah dalam Perjanjian Lama. Dewasa ini penekanan pada antropologi Kristen adalah bahwa pribadi manusia merupakan integrasi tubuh dan jiwa. Berlawanan dengan posisi ini, penulis berpendapat bahwa antropologi Kristen, khususnya pada periode umat Kristen awal (di sini dipahami sebagai periode dalam lima abad pertama Masehi), secara fundamental memahami pribadi manusia sebagai gabungan jiwa dan tubuh, yang merupakan penggunaan antropologi Platonis secara sadar. Artikel ini mengamati bahwa, terkait doktrin kebangkitan orang mati, terdapat dikotomi antara koherensi teologis dan praktik Kristen yang sebenarnya mengenai konsepsi Kristen tentang pribadi manusia. Karena itu, karya ini berargumen bahwa pengaruh Platonis pada antropologi filosofis Kristen Awal adalah tindakan yang disengaja untuk memberikan landasan yang lebih rasional bagi problematika teologis tentang kebangkitan orang mati dan tentang tubuh yang dibangkitkan. Ini menjelaskan mengapa pemikiran teologis sekaligus filosofis Aquinas, meskipun secara dominan berlandaskan Aristotelian, tidak dapat sepenuhnya "mengaristoteleskan" antropologi filosofisnya.
Inovasi
Penulis menggunakan analisis historis-filosofis terhadap teks-teks Kristen awal dan filsafat Platonis. Metodologi ini melibatkan pemeriksaan komparatif atas pandangan antropologis tradisi Ibrani alkitabiah dan tradisi Platonis, dengan fokus pada bagaimana para pemikir Kristen awal (dalam lima abad pertama Masehi) mengadopsi dan mengadaptasi dualisme Platonis. Studi ini juga mempertimbangkan implikasi teologis dari adopsi tersebut bagi doktrin kebangkitan, khususnya ketegangan antara gabungan jiwa-tubuh dan kebangkitan tubuh. Analisis bersifat tekstual dan interpretatif, dengan mengacu pada sumber-sumber primer dari penulis Kristen awal dan dialog-dialog Plato, serta kajian sekunder tentang sejarah pemikiran Kristen.
Pendahuluan
Tujuan karya ini adalah menyelidiki antropologi filosofis yang mendasari antropologi umat Kristen Awal. Menarik untuk mengetahui mengapa antropologi Kristen secara intelektual dan praktis cenderung pada antropologi filosofis tradisi Platonis daripada tradisi teologis-filosofis bangsa Ibrani alkitabiah dalam Perjanjian Lama. Dewasa ini penekanan pada antropologi Kristen adalah bahwa pribadi manusia merupakan integrasi tubuh dan jiwa. Berlawanan dengan posisi ini, penulis berpendapat bahwa antropologi Kristen, khususnya pada periode umat Kristen awal (di sini dipahami sebagai periode dalam lima abad pertama Masehi), secara fundamental memahami pribadi manusia sebagai gabungan jiwa dan tubuh, yang merupakan penggunaan antropologi Platonis secara sadar. Artikel ini mengamati bahwa, terkait doktrin kebangkitan orang mati, terdapat dikotomi antara koherensi teologis dan praktik Kristen yang sebenarnya mengenai konsepsi Kristen tentang pribadi manusia. Karena itu, karya ini berargumen bahwa pengaruh Platonis pada antropologi filosofis Kristen Awal adalah tindakan yang disengaja untuk memberikan landasan yang lebih rasional bagi problematika teologis tentang kebangkitan orang mati dan tentang tubuh yang dibangkitkan. Ini menjelaskan mengapa pemikiran teologis sekaligus filosofis Aquinas, meskipun secara dominan berlandaskan Aristotelian, tidak dapat sepenuhnya "mengaristoteleskan" antropologi filosofisnya.
Mengapa penting
Penulis berargumen bahwa pengaruh Platonis pada antropologi Kristen awal berfungsi memberikan landasan yang lebih rasional bagi problematika teologis tentang kebangkitan orang mati dan tentang tubuh yang dibangkitkan. Pengaruh ini menciptakan ketegangan: sementara doktrin kebangkitan menyiratkan pemulihan seluruh pribadi, dualisme jiwa-tubuh Platonis cenderung merendahkan tubuh dan menekankan keabadian jiwa. Artikel ini mengusulkan bahwa ketegangan ini tetap ada dalam teologi Kristen, seperti terlihat pada ketidakmampuan Aquinas untuk sepenuhnya mengintegrasikan hylomorphism Aristotelian ke dalam antropologinya. Pembahasan ini menyoroti implikasi bagi antropologi Kristen kontemporer, yang sering menekankan integrasi tubuh dan jiwa, dan menyerukan penilaian ulang secara kritis terhadap warisan Platonis dalam terang koherensi alkitabiah dan teologis.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ