Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial ilmu komputer

Open AccessOA2025

Kedudukan Budaya dalam Teori Hubungan Internasional

Kajian ini menelaah bagaimana budaya terpinggirkan dalam teori hubungan internasional arus utama dan mengargumentasikan perlunya perspektif budaya untuk memahami urusan global secara lebih baik.
Ekram Yawar Mohammad· EuroGlobal Journal of Linguistics and Language Education· 2025· DOI 10.69760/egjlle.2500191

Masalah inti

Pada awal abad ketiga, budaya telah muncul sebagai topik sentral di berbagai disiplin humaniora, termasuk sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan hubungan internasional. Globalisasi telah mengintensifkan hubungan politik, ekonomi, sosial, dan budaya di seluruh dunia, mendekatkan masyarakat yang berjauhan. Budaya dengan demikian menjadi unsur yang paling langsung, paling jelas, dan paling nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya hal ini membuat hubungan antara budaya dan ranah seperti kekuatan ekonomi dan politik menjadi nyata di tingkat internasional, menarik perhatian para peneliti di bidang politik internasional dan hubungan internasional. Namun, sebagian besar sumber dalam hubungan internasional, yang dipengaruhi oleh realisme, idealisme, neorealisme, dan neoliberalisme, mengkaji perkembangan internasional terutama dari perspektif keamanan, politik, dan ekonomi, sering kali mengabaikan aspek budaya. Kajian ini bertujuan mengevaluasi teori-teori utama hubungan internasional dari perspektif budaya, dengan berargumentasi bahwa perhatian pada aspek budaya memudahkan pemahaman urusan dunia.

Inovasi

Kajian ini memakai pendekatan teoretis dan analitis, meninjau dan mengevaluasi teori-teori utama hubungan internasional—realisme, idealisme, neorealisme, dan neoliberalisme—melalui lensa budaya. Kajian ini menyintesiskan literatur yang ada untuk menyoroti pengabaian faktor budaya dalam paradigma-paradigma tersebut dan untuk menunjukkan bagaimana perspektif budaya dapat memperkaya analisis isu-isu internasional. Metodologinya kualitatif, berdasarkan pemeriksaan kritis atas asumsi inti setiap teori mengenai budaya dan perannya dalam membentuk perilaku negara serta hasil-hasil internasional.
Pendahuluan
Pada awal abad ketiga, budaya telah muncul sebagai topik sentral di berbagai disiplin humaniora, termasuk sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan hubungan internasional. Globalisasi telah mengintensifkan hubungan politik, ekonomi, sosial, dan budaya di seluruh dunia, mendekatkan masyarakat yang berjauhan. Budaya dengan demikian menjadi unsur yang paling langsung, paling jelas, dan paling nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya hal ini membuat hubungan antara budaya dan ranah seperti kekuatan ekonomi dan politik menjadi nyata di tingkat internasional, menarik perhatian para peneliti di bidang politik internasional dan hubungan internasional. Namun, sebagian besar sumber dalam hubungan internasional, yang dipengaruhi oleh realisme, idealisme, neorealisme, dan neoliberalisme, mengkaji perkembangan internasional terutama dari perspektif keamanan, politik, dan ekonomi, sering kali mengabaikan aspek budaya. Kajian ini bertujuan mengevaluasi teori-teori utama hubungan internasional dari perspektif budaya, dengan berargumentasi bahwa perhatian pada aspek budaya memudahkan pemahaman urusan dunia.

Mengapa penting

Temuan ini menunjukkan bahwa memasukkan budaya ke dalam teori hubungan internasional sangat penting untuk pemahaman urusan dunia yang lebih menyeluruh. Perspektif budaya dapat menjelaskan isu-isu seperti politik identitas, soft power, dan peran norma serta nilai dalam membentuk perilaku internasional. Kajian ini berargumentasi bahwa meskipun teori-teori tradisional memberikan wawasan berharga tentang kekuatan material dan kepentingan ekonomi, teori-teori itu mengabaikan dimensi ideasional dan budaya yang semakin menonjol pada era pasca-Perang Dingin. Peralihan kultural dalam hubungan internasional tidak akan menggantikan teori-teori yang ada, melainkan melengkapinya, dengan menawarkan kerangka yang lebih bernuansa dan holistik untuk menganalisis politik global. Hal ini berimplikasi pada pengembangan teoretis maupun diplomasi praktis, karena para pembuat kebijakan harus menavigasi dunia tempat faktor budaya terkait erat dengan hasil politik dan ekonomi.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…