Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ekonomi & Bisnis

Open AccessOA2024

Teori Nilai Kerja dalam Konteks Kecerdasan Buatan: Sebuah Tinjauan Historis dan Klasik

Artikel ini meninjau perdebatan tentang apakah teori nilai kerja masih berlaku pada era kecerdasan buatan, dengan argumen bahwa ekonomi politik Marxis klasik tetap menawarkan daya penjelas. Artikel ini melacak respons historis terhadap klaim bahwa mesin menciptakan nilai dan bahwa teori tersebut sudah usang.
Xu Zhang; Mengmeng Yu· International Critical Thought· 2024· DOI 10.1080/21598282.2024.2431466

Masalah inti

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang teori nilai kerja dalam konteks kecerdasan buatan menjadi fokus perhatian sosial. Babak diskusi baru, yang berpusat pada topik-topik termasuk “penciptaan nilai dalam konteks kecerdasan buatan,” “penerapan teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan” dan “tren perkembangan kecerdasan buatan dan tenaga kerja manusia” sedang berlangsung di kalangan akademik. Isu intinya adalah apakah teori nilai kerja klasik telah menjadi usang pada era kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, konsensus masih belum tercapai pada sejumlah isu teoretis utama. Sehubungan dengan itu, kajian ini, yang bertujuan melacak sejarah atas dasar kesadaran masalah, menemukan bahwa sejak 1980-an komunitas ekonomi telah merespons secara ilmiah asersi, yang dibuat dalam konteks revolusi teknologi baru, bahwa “mesin menciptakan nilai” dan bahwa “teori nilai kerja klasik tidak lagi berlaku.” Selama bertahun-tahun, gagasan dan penjelasan baru telah diajukan. Dengan meninjau karya klasik, dan bersandar pada kerangka teoretis ekonomi politik Marxis, artikel ini meninjau ulang makna teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan, dengan maksud memperdalam pemahaman tentang teori nilai kerja Marx, menjernihkan keraguan mengenai keberlakuannya, dan meningkatkan daya penjelas praktis dari isinya.

Inovasi

Kajian ini mengadopsi pendekatan tinjauan historis dan klasik, dengan melacak evolusi perdebatan sejak 1980-an. Kajian ini secara sistematis menelaah respons di kalangan komunitas ekonomi terhadap asersi bahwa “mesin menciptakan nilai” dan bahwa teori nilai kerja klasik tidak lagi berlaku. Analisis ini berpijak pada kerangka teoretis ekonomi politik Marxis, dengan meninjau ulang makna teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan. Metode ini melibatkan dasar kesadaran masalah, meninjau karya klasik dan menyintesiskan gagasan serta penjelasan baru yang telah diajukan selama bertahun-tahun.
Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang teori nilai kerja dalam konteks kecerdasan buatan menjadi fokus perhatian sosial. Babak diskusi baru, yang berpusat pada topik-topik termasuk “penciptaan nilai dalam konteks kecerdasan buatan,” “penerapan teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan” dan “tren perkembangan kecerdasan buatan dan tenaga kerja manusia” sedang berlangsung di kalangan akademik. Isu intinya adalah apakah teori nilai kerja klasik telah menjadi usang pada era kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, konsensus masih belum tercapai pada sejumlah isu teoretis utama. Sehubungan dengan itu, kajian ini, yang bertujuan melacak sejarah atas dasar kesadaran masalah, menemukan bahwa sejak 1980-an komunitas ekonomi telah merespons secara ilmiah asersi, yang dibuat dalam konteks revolusi teknologi baru, bahwa “mesin menciptakan nilai” dan bahwa “teori nilai kerja klasik tidak lagi berlaku.” Selama bertahun-tahun, gagasan dan penjelasan baru telah diajukan. Dengan meninjau karya klasik, dan bersandar pada kerangka teoretis ekonomi politik Marxis, artikel ini meninjau ulang makna teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan, dengan maksud memperdalam pemahaman tentang teori nilai kerja Marx, menjernihkan keraguan mengenai keberlakuannya, dan meningkatkan daya penjelas praktis dari isinya.

Mengapa penting

Artikel ini meninjau ulang makna teori nilai kerja pada era kecerdasan buatan, dengan tujuan memperdalam pemahaman tentang teori nilai kerja Marx, menjernihkan keraguan mengenai keberlakuannya, dan meningkatkan daya penjelas praktis dari isinya. Artikel ini berargumen bahwa teori nilai kerja klasik tidak menjadi usang; sebaliknya, teori itu tetap berlaku dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjawab perubahan teknologi kontemporer. Pembahasan ini menyoroti pentingnya mempertahankan perspektif kritis terhadap klaim bahwa mesin menciptakan nilai, dan menegaskan relevansi ekonomi politik Marxis yang berkelanjutan dalam menganalisis tren perkembangan kecerdasan buatan dan tenaga kerja manusia.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…