Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2025
Pendekatan Tak Ingin Tahu terhadap Populisme Asia Timur: Mengapa Kajian tentang Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan Sering Diabaikan dalam Ilmu Politik
Artikel ini meninjau dua hingga tiga dekade penelitian tentang populisme di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, dan menemukan bahwa penggunaan standar politik lokal sebagai baseline implisit membuat populisme Asia Timur tampak kurang menonjol dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat, sehingga memicu ketidakpedulian akademik. Para penulis menyerukan baseline yang konsisten atas perilaku politik yang lazim secara lokal untuk mengintegrasikan kasus-kasus ini ke dalam debat global.
A. Klein; Frédéric Krumbein; Hannes B. Mosler· Journal of East Asian Studies· 2025· DOI 10.1017/jea.2024.19
Masalah inti
Demokrasi Asia Timur (East Asian democracies/EAD) di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mendapat perhatian yang sangat sedikit dari komunitas ilmu politik internasional yang mengkaji populisme. Meskipun merupakan demokrasi yang dinamis dengan sistem kepartaian yang kompetitif, kasus-kasus ini sering diabaikan dalam studi komparatif. Artikel ini menyelidiki mengapa hal itu terjadi dengan menganalisis dua hingga tiga dekade terakhir penelitian tentang populisme EAD. Para penulis mencari petunjuk untuk menjelaskan kurangnya minat tersebut, dan menemukan persoalan seperti konseptualisasi yang eklektik, data yang kurang optimal, kategorisasi yang inovatif, analitik biner, bahkan bias politik. Faktor-faktor ini dapat melemahkan daya persuasi penelitian di mata kolega yang kritis. Namun, temuan kuncinya adalah bahwa semua kajian tentang EAD secara implisit merujuk pada standar politik lokal sebagai baseline untuk mengidentifikasi dan melabeli perilaku yang diduga populis. Dalam perbandingan langsung, ciri-ciri populis politikus Asia Timur tampak kurang menonjol dibandingkan 'populis godam' seperti Donald Trump, Hugo Chávez, atau Boris Johnson. Akibatnya, para sarjana yang mengkaji kelompok terakhir mungkin kurang ingin tahu tentang kelompok pertama. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang harus digunakan sebagai baseline untuk mengukur fenomena yang berpotensi populis. Para penulis berargumen untuk menerapkan apa yang secara lokal dianggap sebagai perilaku politik standar dan menyimpulkan bahwa praktik semacam itu berpotensi menarik lebih banyak perhatian pada kasus-kasus dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Inovasi
Para penulis melakukan tinjauan sistematis atas literatur tentang populisme di demokrasi Asia Timur selama dua hingga tiga dekade terakhir. Mereka menganalisis berbagai kajian dari jurnal dan buku ilmu politik, dengan fokus pada bagaimana populisme dikonseptualisasikan, diukur, dan diinterpretasikan dalam konteks Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Tinjauan ini mengidentifikasi pola dan jebakan umum dalam penelitian yang ada. Persoalan metodologis utama meliputi konseptualisasi yang eklektik, di mana definisi populisme sangat beragam dan sering diadaptasi secara ad hoc; data yang kurang optimal, seperti ketergantungan pada sumber yang terbatas atau tidak representatif; kategorisasi yang inovatif, yang kadang menghasilkan klasifikasi idiosinkratik; analitik biner, yang mereduksi fenomena kompleks menjadi dikotomi yang simplistis; dan bias politik, di mana komitmen normatif peneliti dapat memengaruhi temuan mereka. Para penulis juga menelaah baseline implisit yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku populis. Mereka menemukan bahwa sebagian besar kajian membandingkan politikus Asia Timur dengan ideal politik demokrasi liberal yang tidak dinyatakan secara eksplisit, yang sering kali berasal dari kasus-kasus Barat. Hal ini menghasilkan penilaian yang miring, di mana populis Asia Timur tampak moderat sebagai perbandingan. Metodologi ini melibatkan analisis isi kualitatif atas literatur terpilih, dengan mengekstraksi dan membandingkan definisi, operasionalisasi, dan kesimpulan. Para penulis tidak melakukan penelitian empiris orisinal, melainkan menyintesiskan keilmuan yang ada untuk mendiagnosis keadaan bidang ini.
Pendahuluan
Demokrasi Asia Timur (East Asian democracies/EAD) di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mendapat perhatian yang sangat sedikit dari komunitas ilmu politik internasional yang mengkaji populisme. Meskipun merupakan demokrasi yang dinamis dengan sistem kepartaian yang kompetitif, kasus-kasus ini sering diabaikan dalam studi komparatif. Artikel ini menyelidiki mengapa hal itu terjadi dengan menganalisis dua hingga tiga dekade terakhir penelitian tentang populisme EAD. Para penulis mencari petunjuk untuk menjelaskan kurangnya minat tersebut, dan menemukan persoalan seperti konseptualisasi yang eklektik, data yang kurang optimal, kategorisasi yang inovatif, analitik biner, bahkan bias politik. Faktor-faktor ini dapat melemahkan daya persuasi penelitian di mata kolega yang kritis. Namun, temuan kuncinya adalah bahwa semua kajian tentang EAD secara implisit merujuk pada standar politik lokal sebagai baseline untuk mengidentifikasi dan melabeli perilaku yang diduga populis. Dalam perbandingan langsung, ciri-ciri populis politikus Asia Timur tampak kurang menonjol dibandingkan 'populis godam' seperti Donald Trump, Hugo Chávez, atau Boris Johnson. Akibatnya, para sarjana yang mengkaji kelompok terakhir mungkin kurang ingin tahu tentang kelompok pertama. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang harus digunakan sebagai baseline untuk mengukur fenomena yang berpotensi populis. Para penulis berargumen untuk menerapkan apa yang secara lokal dianggap sebagai perilaku politik standar dan menyimpulkan bahwa praktik semacam itu berpotensi menarik lebih banyak perhatian pada kasus-kasus dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Mengapa penting
Para penulis berargumen bahwa penggunaan baseline lokal secara implisit adalah faktor paling signifikan yang menjelaskan ketidakpedulian ilmuwan politik terhadap populisme Asia Timur. Mereka mengusulkan agar para sarjana secara eksplisit mengadopsi apa yang secara lokal dianggap sebagai perilaku politik standar sebagai baseline untuk mengukur populisme. Hal ini akan memungkinkan penilaian yang lebih akurat atas fenomena populis di Asia Timur dan memfasilitasi perbandingan dengan kawasan lain. Pembahasan ini bersinggungan dengan debat yang lebih luas tentang pengukuran populisme, dan menyoroti perlunya refleksivitas tentang baseline. Para penulis menyarankan bahwa penggunaan standar lokal dapat mengungkap bahwa populis Asia Timur mungkin lebih signifikan daripada yang diperkirakan sebelumnya, karena mereka menyimpang dari norma lokal dengan cara yang penting bagi tata kelola demokrasi. Mereka juga menyerukan ketelitian metodologis yang lebih besar, termasuk konseptualisasi yang lebih baik, pengumpulan data yang lebih baik, dan penghindaran analitik biner. Artikel ini menyimpulkan bahwa adopsi pendekatan baseline lokal berpotensi menarik lebih banyak perhatian pada kasus-kasus dari Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, serta memperkaya kajian populisme global. Para penulis menekankan bahwa ini bukan soal eksepsionalisme, melainkan soal mengakui pentingnya konteks dalam politik komparatif. Mereka juga mencatat bahwa bias politik harus diminimalkan untuk memastikan analisis yang objektif. Secara keseluruhan, analisis ini menegaskan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan bernuansa dalam mengkaji populisme di luar kanon Barat.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…