Editorial Kedokteran & Kesehatan
Open AccessOA2022
Epidemiologi Penyakit Ginjal Diabetik
Penyakit ginjal diabetik (DKD) menyerang 20–50% pasien diabetes tipe 2 dan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis dan penyakit ginjal stadium akhir di seluruh dunia, mencakup 50% kasus. Tinjauan ini memberikan pembaruan tentang diagnosis, epidemiologi, dan penyebab DKD.
E. Hoogeveen· Kidney and Dialysis· 2022· DOI 10.3390/kidneydial2030038
Masalah inti
Diabetes melitus telah mencapai proporsi pandemi, dengan 537 juta orang dewasa (11% dari populasi global) hidup dengan kondisi ini pada 2021. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 783 juta (12%) pada 2045, terutama didorong oleh prevalensi diabetes melitus tipe 2 (T2DM) yang terus meningkat. Akar penyebab lonjakan ini terkait erat dengan epidemi obesitas global, yang bersumber dari peningkatan konsumsi makanan olahan, berkurangnya aktivitas fisik, dan gaya hidup yang lebih sedentari—konsekuensi dari urbanisasi dan kemajuan teknologi. Di antara komplikasi diabetes yang paling merusak adalah penyakit ginjal diabetik (DKD), yang didefinisikan sebagai penyakit ginjal kronis pada seseorang dengan diabetes. DKD berkembang pada sekitar 20–50% pasien dengan T2DM dan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis dan penyakit ginjal stadium akhir di seluruh dunia, mencakup 50% kasus. Di luar dampak renalnya, DKD secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular serta menurunkan kualitas hidup terkait kesehatan. Tinjauan ini bertujuan memberikan pembaruan tentang diagnosis, epidemiologi, dan penyebab DKD.
Inovasi
Penelitian ini merupakan tinjauan naratif yang menyintesis bukti terkini tentang epidemiologi, diagnosis, dan penyebab penyakit ginjal diabetik. Para penulis melakukan pencarian literatur komprehensif untuk mengidentifikasi studi relevan tentang beban global diabetes dan DKD, kriteria diagnostik, dan mekanisme patofisiologis yang mendasarinya. Data tentang prevalensi, insidensi, dan tren diekstraksi dari studi epidemiologi skala besar dan registri. Tinjauan ini juga memasukkan temuan tentang hubungan antara DKD dan luaran kardiovaskular, serta dampaknya terhadap kualitas hidup. Metodologi mengikuti pendekatan standar untuk tinjauan naratif, yang bertujuan memberikan gambaran luas daripada meta-analisis sistematis. Tidak ada kriteria inklusi atau eksklusi spesifik yang dilaporkan, dan tinjauan ini tidak mencakup pengumpulan data primer. Sintesis berfokus pada indikator epidemiologi utama dan definisi klinis untuk menginformasikan praktik klinis dan strategi kesehatan masyarakat.
Pendahuluan
Diabetes melitus telah mencapai proporsi pandemi, dengan 537 juta orang dewasa (11% dari populasi global) hidup dengan kondisi ini pada 2021. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 783 juta (12%) pada 2045, terutama didorong oleh prevalensi diabetes melitus tipe 2 (T2DM) yang terus meningkat. Akar penyebab lonjakan ini terkait erat dengan epidemi obesitas global, yang bersumber dari peningkatan konsumsi makanan olahan, berkurangnya aktivitas fisik, dan gaya hidup yang lebih sedentari—konsekuensi dari urbanisasi dan kemajuan teknologi. Di antara komplikasi diabetes yang paling merusak adalah penyakit ginjal diabetik (DKD), yang didefinisikan sebagai penyakit ginjal kronis pada seseorang dengan diabetes. DKD berkembang pada sekitar 20–50% pasien dengan T2DM dan merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronis dan penyakit ginjal stadium akhir di seluruh dunia, mencakup 50% kasus. Di luar dampak renalnya, DKD secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular serta menurunkan kualitas hidup terkait kesehatan. Tinjauan ini bertujuan memberikan pembaruan tentang diagnosis, epidemiologi, dan penyebab DKD.
Mengapa penting
Temuan tinjauan ini menekankan peran kritis DKD dalam beban global penyakit ginjal. Hubungan kuat antara T2DM dan DKD menunjukkan bahwa upaya untuk menekan epidemi obesitas dan meningkatkan penatalaksanaan diabetes dapat berdampak substansial pada pengurangan insidensi DKD. Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk memperlambat progresi dan mencegah penyakit ginjal stadium akhir. Tinjauan ini juga menunjukkan perlunya perawatan terintegrasi yang menangani risiko renal dan kardiovaskular. Para penulis mencatat bahwa definisi DKD sebagai penyakit ginjal kronis pada seseorang dengan diabetes bersifat luas dan dapat mencakup pasien dengan penyakit ginjal non-diabetik, yang mempersulit estimasi epidemiologi. Penelitian mendatang harus berfokus pada identifikasi biomarker untuk deteksi dini dan pengembangan terapi bertarget. Dari perspektif kesehatan masyarakat, kebijakan yang bertujuan mempromosikan gaya hidup sehat, mengurangi konsumsi makanan olahan, dan meningkatkan aktivitas fisik sangat penting untuk memitigasi pandemi diabetes dan komplikasinya. Secara keseluruhan, DKD merupakan tantangan besar yang memerlukan pendekatan multifaset yang melibatkan klinisi, peneliti, dan pembuat kebijakan.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…