Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ilmu Sosial

Open AccessOA2025

Polarisasi Sosial, Kebebasan Akademik, dan Janji Sosiologi Dialogis

Sari Hanafi berargumen bahwa respons ilmu-ilmu sosial terhadap modernitas lanjut ditandai oleh 'Liberalisme Simbolik'—secara klasik liberal tetapi secara politik tidak liberal—yang mengarah pada polarisasi hierarkis dan ancaman terhadap kebebasan akademik. Ia mengkaji budaya pembatalan di AS dan Inggris, termasuk studi kasus tentang perang Gaza.
Sari Hanafi· Dialogues in Sociology· 2025· DOI 10.1177/29768667251339789

Masalah inti

Dalam karyanya yang terbaru, Sari Hanafi memperkenalkan konsep "Liberalisme Simbolik" untuk menggambarkan kombinasi khas yang teramati dalam respons ilmu-ilmu sosial terhadap patologi modernitas lanjut: secara klasik liberal tetapi secara politik tidak liberal. Kerangka ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana polarisasi sosial kontemporer terwujud, terutama melalui polarisasi hierarkis yang memperlebar jarak antara berbagai elite. Hanafi berargumen bahwa fenomena ini meresap luas, memengaruhi kampus universitas dan media, tempat kebebasan akademik semakin tercekik dan debat ditandai oleh intoleransi. Menariknya, intoleransi semacam itu tidak terbatas pada satu spektrum politik; baik Kiri maupun Kanan menunjukkannya, meskipun dengan kadar yang berbeda, seperti terlihat dalam penerimaan "budaya pembatalan." Pendahuluan ini menguraikan cakupan analisis, yang mencakup contoh-contoh terutama dari Amerika Serikat dan Inggris, serta studi kasus terkait perang di Gaza saat ini.

Inovasi

Hanafi menggunakan pendekatan konseptual dan ilustratif, dengan mengandalkan argumen teoretis dan studi kasus untuk menopang klaimnya. Metodologinya melibatkan pendefinisian "Liberalisme Simbolik" dan penelusuran manifestasinya dalam ilmu-ilmu sosial kontemporer. Ia memakai contoh dari negara-negara demokrasi liberal, khususnya Amerika Serikat dan Inggris, untuk menunjukkan penyebaran budaya pembatalan. Selain itu, studi kasus tentang perang di Gaza berfungsi untuk mengilustrasikan bagaimana dinamika ini berlangsung dalam konteks yang sangat terpolarisasi. Analisisnya bersifat kualitatif, berfokus pada tren yang dapat diamati di lingkungan akademik dan media, dan tidak mengandalkan data kuantitatif. Pendekatannya bersifat komparatif, menyoroti persamaan dan perbedaan dalam cara intoleransi terwujud di berbagai kubu politik dan konteks nasional.
Pendahuluan
Dalam karyanya yang terbaru, Sari Hanafi memperkenalkan konsep "Liberalisme Simbolik" untuk menggambarkan kombinasi khas yang teramati dalam respons ilmu-ilmu sosial terhadap patologi modernitas lanjut: secara klasik liberal tetapi secara politik tidak liberal. Kerangka ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana polarisasi sosial kontemporer terwujud, terutama melalui polarisasi hierarkis yang memperlebar jarak antara berbagai elite. Hanafi berargumen bahwa fenomena ini meresap luas, memengaruhi kampus universitas dan media, tempat kebebasan akademik semakin tercekik dan debat ditandai oleh intoleransi. Menariknya, intoleransi semacam itu tidak terbatas pada satu spektrum politik; baik Kiri maupun Kanan menunjukkannya, meskipun dengan kadar yang berbeda, seperti terlihat dalam penerimaan "budaya pembatalan." Pendahuluan ini menguraikan cakupan analisis, yang mencakup contoh-contoh terutama dari Amerika Serikat dan Inggris, serta studi kasus terkait perang di Gaza saat ini.

Mengapa penting

Konsep "Liberalisme Simbolik" dari Hanafi menyediakan lensa kritis untuk memahami paradoks lembaga-lembaga liberal yang mengadopsi praktik tidak liberal. Polarisasi hierarkis antara para elite memperburuk paradoks ini, karena berbagai faksi bersaing untuk mendominasi dan menekan pandangan yang berlawanan. Penyebaran budaya pembatalan, yang didorong oleh Kiri maupun Kanan, mencerminkan krisis toleransi yang lebih luas di demokrasi liberal. Krisis ini bukan sekadar soal kepatutan politik, melainkan bersumber dari perpecahan struktural dan ideologis yang lebih dalam. Studi kasus tentang Gaza menyoroti bagaimana konflik internasional dapat memperkuat dinamika ini, mengubah ruang akademik menjadi medan pertempuran bagi pergulatan ideologis. Seruan Hanafi untuk "sosiologi dialogis" muncul sebagai respons, yang mengadvokasi praktik sosiologis yang menumbuhkan dialog sejati lintas perbedaan, alih-alih melanggengkan polarisasi. Pendekatan ini menekankan refleksivitas, saling pengertian, dan rekonstruksi ruang publik bersama tempat kebebasan akademik dapat berkembang.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…