Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial ilmu komputer

Open AccessOA2022

Sekolah melampaui stratifikasi: Barang internal, alienasi, dan sosiologi pendidikan yang diperluas

Guhin dan Klett berargumen bahwa paradigma stratifikasi dalam sosiologi pendidikan terlalu menekankan barang eksternal seperti keterampilan, modal, dan kredensial, serta mengabaikan barang internal seperti kebiasaan dan kebajikan. Mereka mengusulkan sosiologi pendidikan yang diperluas yang memasukkan alienasi dan kritik terhadap liberalisme prosedural dan meritokrasi.
J. Guhin; Joseph R. Klett· Theory and society· 2022· DOI 10.1007/s11186-022-09472-6

Masalah inti

Sosiologi pendidikan telah lama didominasi oleh paradigma stratifikasi yang berfokus pada bagaimana persekolahan mereproduksi ketimpangan sosial. Paradigma ini biasanya menekankan barang eksternal—hasil yang berasal dari praktik pendidikan, seperti keterampilan, kredensial, dan modal—alih-alih barang internal yang melekat pada praktik itu sendiri. Dengan menarik dari tradisi filosofis John Dewey dan Alasdair MacIntyre, Guhin dan Klett berargumen bahwa fokus ini telah menyebabkan pengabaian aspek penting pendidikan, termasuk pembentukan kebiasaan dan kebajikan. Mereka mengusulkan sosiologi pendidikan yang diperluas yang menanggapi barang internal secara serius dan memasukkan konsep alienasi untuk lebih memahami pengalaman siswa. Penulis menghubungkan argumen ini dengan kritik yang lebih luas terhadap liberalisme prosedural dan ideologi meritokrasi, yang menunjukkan bahwa paradigma stratifikasi mungkin secara tidak sengaja memperkuat ideologi bermasalah tersebut.

Inovasi

Artikel ini adalah kontribusi teoretis dan konseptual, bukan studi empiris. Penulis melakukan sintesis kritis atas literatur yang ada dari sosiologi pendidikan, filsafat, dan teori sosial. Mereka terutama menarik dari konsep kebiasaan John Dewey dan konsep kebajikan Alasdair MacIntyre untuk mengembangkan kerangka alternatif. Gagasan Dewey tentang kebiasaan merujuk pada predisposisi untuk bertindak yang dibentuk melalui pengalaman dan menjadi pusat pembelajaran dan pertumbuhan. Kebajikan MacIntyre adalah kualitas karakter yang memungkinkan individu mencapai barang internal—barang yang secara intrinsik memberi imbalan dan konstitutif bagi suatu praktik. Penulis membandingkan konsep-konsep ini dengan konsep sosiologis yang lebih umum digunakan seperti modal (Bourdieu), kredensial (Collins), dan habitus (Bourdieu). Mereka juga menempatkan argumen mereka dalam paradigma stratifikasi dan minat sosiologis yang diperbarui terhadap alienasi, khususnya yang dikembangkan oleh Marx dan teoretikus kritis selanjutnya. Metodologi ini bersifat interpretatif dan teoretis, bertujuan memperluas perangkat konseptual sosiologi pendidikan.
Pendahuluan
Sosiologi pendidikan telah lama didominasi oleh paradigma stratifikasi yang berfokus pada bagaimana persekolahan mereproduksi ketimpangan sosial. Paradigma ini biasanya menekankan barang eksternal—hasil yang berasal dari praktik pendidikan, seperti keterampilan, kredensial, dan modal—alih-alih barang internal yang melekat pada praktik itu sendiri. Dengan menarik dari tradisi filosofis John Dewey dan Alasdair MacIntyre, Guhin dan Klett berargumen bahwa fokus ini telah menyebabkan pengabaian aspek penting pendidikan, termasuk pembentukan kebiasaan dan kebajikan. Mereka mengusulkan sosiologi pendidikan yang diperluas yang menanggapi barang internal secara serius dan memasukkan konsep alienasi untuk lebih memahami pengalaman siswa. Penulis menghubungkan argumen ini dengan kritik yang lebih luas terhadap liberalisme prosedural dan ideologi meritokrasi, yang menunjukkan bahwa paradigma stratifikasi mungkin secara tidak sengaja memperkuat ideologi bermasalah tersebut.

Mengapa penting

Penulis membahas implikasi argumen mereka bagi sosiologi pendidikan. Mereka mengusulkan paradigma yang diperluas yang memasukkan barang internal, alienasi, dan kritik terhadap liberalisme prosedural. Liberalisme prosedural, yang berfokus pada prosedur yang adil dan aturan yang netral, sering gagal menjawab pertanyaan substantif tentang tujuan pendidikan dan hidup yang baik. Dengan mengabaikan barang internal, ia mereduksi pendidikan menjadi alat untuk daya saing ekonomi dan mobilitas sosial. Penulis menyarankan agar sosiolog pendidikan lebih memperhatikan bagaimana praktik pendidikan dapat menumbuhkan kebajikan dan kebiasaan yang secara intrinsik berharga, seperti rasa ingin tahu, kejujuran, dan solidaritas. Mereka juga menyerukan keterlibatan yang lebih mendalam dengan konsep alienasi, yang dapat menjelaskan bagaimana siswa menjadi terasing dari pembelajaran mereka sendiri dan dari satu sama lain. Akhirnya, mereka berargumen bahwa sosiologi pendidikan harus bergerak melampaui paradigma stratifikasi untuk mempertimbangkan bagaimana sekolah dapat menjadi tempat pembentukan etis dan pembaruan demokratis. Ini akan melibatkan studi tidak hanya tentang bagaimana pendidikan mereproduksi ketimpangan tetapi juga bagaimana ia dapat menumbuhkan barang internal yang menolak logika meritokrasi dan liberalisme prosedural.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…