Editorial Ilmu Komputer & AI
Open AccessOA2025
Memikirkan Ulang Pendidikan Ilmu Komputer di Era GenAI
Opini ini berargumen bahwa GenAI dapat secara fundamental mengganggu pendidikan ilmu komputer dengan membuat praktik lebih efektif, lebih sedikit membutuhkan usaha, dan berbiaya lebih rendah. Kajian ini menggunakan 10 teori pedagogis dan kognitif yang dikelompokkan ke dalam Learning, Pedagogy, dan Competencies.
O. Hazzan; Yael Erez· ACM Transactions on Computing Education· 2025· DOI 10.1145/3732792
Masalah inti
Kemajuan pesat kecerdasan artifisial generatif (GenAI) telah memicu diskusi luas tentang potensinya untuk mentransformasi pendidikan, khususnya di bidang pendidikan ilmu komputer (CSE). Opini ini, yang ditulis oleh O. Hazzan dan Yael Erez serta diterbitkan di ACM Transactions on Computing Education, mengeksplorasi gagasan bahwa GenAI berpotensi secara fundamental mengganggu CSE. Para penulis menarik wawasan dari 10 teori dan model pedagogis dan kognitif untuk menganalisis gangguan ini. Mereka berargumen bahwa GenAI meningkatkan CSE dengan membuat praktik pendidikan lebih efektif, membutuhkan lebih sedikit usaha dan waktu, serta melakukannya dengan biaya lebih rendah—sifat-sifat yang secara kolektif menempatkan GenAI sebagai teknologi disruptif bagi CSE. Masing-masing dari 10 teori dan model berfungsi sebagai lensa untuk mengamati dan menafsirkan dampak GenAI terhadap CSE. Teori-teori ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori: Learning (Constructivism, Cognitive Load, dan Motivation), Pedagogy (Bloom’s Taxonomy, Assessment, Personalization/Diversity/Equity, dan Didactic Transposition), serta Competencies (KSA Model, Computational Thinking, dan Metacognition).
Inovasi
Karya ini adalah opini, bukan studi empiris. Para penulis mengadopsi pendekatan konseptual, menggunakan teori pedagogis dan kognitif yang mapan sebagai kerangka analitis untuk mengkaji potensi dampak GenAI terhadap pendidikan ilmu komputer. Metodologi ini melibatkan penerapan secara sistematis masing-masing dari 10 teori dan model pada konteks GenAI dalam CSE, dengan memanfaatkan keahlian para penulis dan literatur yang ada untuk mendukung argumen mereka. Teori-teori tersebut dikategorikan ke dalam tiga kelompok: Learning, Pedagogy, dan Competencies. Untuk setiap teori, para penulis mempertimbangkan bagaimana GenAI dapat meningkatkan atau mengganggu praktik pendidikan. Analisis terstruktur ini memungkinkan eksplorasi komprehensif atas potensi efek GenAI dari berbagai perspektif teoretis.
Pendahuluan
Kemajuan pesat kecerdasan artifisial generatif (GenAI) telah memicu diskusi luas tentang potensinya untuk mentransformasi pendidikan, khususnya di bidang pendidikan ilmu komputer (CSE). Opini ini, yang ditulis oleh O. Hazzan dan Yael Erez serta diterbitkan di ACM Transactions on Computing Education, mengeksplorasi gagasan bahwa GenAI berpotensi secara fundamental mengganggu CSE. Para penulis menarik wawasan dari 10 teori dan model pedagogis dan kognitif untuk menganalisis gangguan ini. Mereka berargumen bahwa GenAI meningkatkan CSE dengan membuat praktik pendidikan lebih efektif, membutuhkan lebih sedikit usaha dan waktu, serta melakukannya dengan biaya lebih rendah—sifat-sifat yang secara kolektif menempatkan GenAI sebagai teknologi disruptif bagi CSE. Masing-masing dari 10 teori dan model berfungsi sebagai lensa untuk mengamati dan menafsirkan dampak GenAI terhadap CSE. Teori-teori ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori: Learning (Constructivism, Cognitive Load, dan Motivation), Pedagogy (Bloom’s Taxonomy, Assessment, Personalization/Diversity/Equity, dan Didactic Transposition), serta Competencies (KSA Model, Computational Thinking, dan Metacognition).
Mengapa penting
Para penulis membahas implikasi analisis mereka, dengan berargumen bahwa GenAI memiliki karakteristik teknologi disruptif bagi CSE: meningkatkan efektivitas, mengurangi usaha dan waktu, serta menurunkan biaya. Mereka mencatat bahwa meskipun GenAI menawarkan peluang signifikan, teknologi ini juga menghadirkan tantangan, seperti kebutuhan akan strategi pedagogis baru dan risiko ketergantungan berlebihan pada AI. Ke-10 teori tersebut memberikan pandangan multifaset, menunjukkan bahwa dampak GenAI tidak monolitik tetapi bervariasi di berbagai aspek pembelajaran, pedagogi, dan pengembangan kompetensi. Para penulis menekankan bahwa pendidik harus secara bijak mengintegrasikan GenAI untuk memanfaatkan manfaatnya sekaligus memitigasi potensi kelemahannya. Mereka menyimpulkan bahwa GenAI siap secara fundamental membentuk ulang CSE, dan bahwa penelitian serta adaptasi yang berkelanjutan sangat penting untuk menavigasi transformasi ini.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten member…