Editorial Humaniora
Open AccessOA2025
Agama, Kekuasaan, dan Identitas Nasional: Peran Ganda Islam dalam Sejarah dan Modernisasi Maladewa
Studi ini mengkaji peran ganda Islam di Maladewa, yang berfungsi sebagai fondasi identitas nasional sekaligus sumber konflik sosial. Studi ini menelusuri bagaimana politisasi agama melemahkan inklusivitas dan memperburuk ekstremisme di tengah globalisasi.
Jia-Yu Cui; Tao Liยท Religionsยท 2025ยท DOI 10.3390/rel16020201
Masalah inti
Maladewa menyajikan studi kasus yang menarik tentang hubungan rumit antara agama, kekuasaan, dan identitas nasional. Penelitian ini menyelidiki bagaimana Islam, sebagai agama negara, membentuk lintasan sejarah bangsa dan modernisasinya yang sedang berlangsung. Ketegangan utamanya terletak pada fungsi ganda Islam: ia menjadi batu penjuru identitas nasional yang bersatu sekaligus memicu konflik sosial dan perpecahan politik. Studi ini bertujuan membedah paradoks tersebut, menelusuri bagaimana narasi 'negara 100% Muslim' dilegalkan dan dilembagakan dalam struktur kekuasaan, menjadi pilar legitimasi negara. Sebaliknya, studi ini mengkaji bagaimana politisasi dan homogenisasi agama mengikis inklusivitas sosial, menumbuhkan ekstremisme agama dan ketegangan dalam menghadapi globalisasi. Dengan menganalisis pengalaman Maladewa, para penulis berupaya menerangi perspektif teoretis yang lebih luas tentang interaksi antara agama, kekuasaan, dan identitas nasional, memosisikan Maladewa sebagai mikrokosmos kebangkitan agama global dan interaksi geopolitik.
Inovasi
Studi ini memakai pendekatan kualitatif dan interdisipliner, dengan bersandar pada analisis sejarah, pemeriksaan hukum, dan penyelidikan sosio-politik. Studi ini menelusuri evolusi Islam di Maladewa dari akar historisnya hingga perannya saat ini, menganalisis reformasi hukum dan perubahan kelembagaan utama yang memantapkan posisi agama dalam aparatur negara. Metodologinya melibatkan tinjauan kritis atas sumber primer, termasuk ketentuan konstitusi, kitab undang-undang, dan narasi resmi, bersama literatur sekunder tentang sejarah, politik, dan masyarakat Maladewa. Para penulis memakai kerangka teoretis yang mengintegrasikan konsep dari studi agama, ilmu politik, dan sosiologi untuk menelusuri bagaimana agama mengalami transformasi diri melalui negosiasi kekuasaan dan reformasi hukum. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang bernuansa tentang bagaimana agama tradisional berinteraksi dengan negara modern, membentuk kerangka dinamis tata kelola nasional. Analisisnya dikontekstualisasikan dalam tren global kebangkitan agama dan dinamika geopolitik, memberikan lensa komparatif untuk menafsirkan kasus Maladewa.
Pendahuluan
Maladewa menyajikan studi kasus yang menarik tentang hubungan rumit antara agama, kekuasaan, dan identitas nasional. Penelitian ini menyelidiki bagaimana Islam, sebagai agama negara, membentuk lintasan sejarah bangsa dan modernisasinya yang sedang berlangsung. Ketegangan utamanya terletak pada fungsi ganda Islam: ia menjadi batu penjuru identitas nasional yang bersatu sekaligus memicu konflik sosial dan perpecahan politik. Studi ini bertujuan membedah paradoks tersebut, menelusuri bagaimana narasi 'negara 100% Muslim' dilegalkan dan dilembagakan dalam struktur kekuasaan, menjadi pilar legitimasi negara. Sebaliknya, studi ini mengkaji bagaimana politisasi dan homogenisasi agama mengikis inklusivitas sosial, menumbuhkan ekstremisme agama dan ketegangan dalam menghadapi globalisasi. Dengan menganalisis pengalaman Maladewa, para penulis berupaya menerangi perspektif teoretis yang lebih luas tentang interaksi antara agama, kekuasaan, dan identitas nasional, memosisikan Maladewa sebagai mikrokosmos kebangkitan agama global dan interaksi geopolitik.
Mengapa penting
Analisis ini menggali implikasi temuan tersebut untuk memahami interaksi rumit antara agama, kekuasaan, dan identitas nasional. Pengalaman Maladewa menggambarkan bagaimana agama dapat mengalami transformasi diri melalui negosiasi kekuasaan dan reformasi hukum, beradaptasi untuk melayani kepentingan negara sekaligus mempertahankan otoritas tradisionalnya. Ketegangan antara agama tradisional dan negara modern tidak statis, melainkan dinamis, membentuk kerangka tata kelola yang terus-menerus menegosiasikan tuntutan-tuntutan yang bersaing. Studi ini berargumen bahwa politisasi agama, meskipun awalnya mempersatukan, pada akhirnya merusak kohesi sosial dengan mengecualikan keberagaman dan menumbuhkan ekstremisme. Hal ini memiliki signifikansi teoretis yang lebih luas: ia menantang asumsi tentang agama sebagai murni integratif atau memecah belah, dan sebaliknya menunjukkan potensi gandanya. Maladewa berfungsi sebagai mikrokosmos kebangkitan agama global dan interaksi geopolitik, menawarkan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan dan akademisi. Para penulis menyarankan bahwa memahami dualitas ini sangat penting untuk menavigasi tantangan pluralisme agama dan pembangunan negara di dunia kontemporer.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ