Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Humaniora

Open AccessOA2025

Mendefinisikan Ulang Atribut Moral Guru Sekolah Menengah yang Unggul

Esai filosofis ini mendefinisikan ulang atribut moral guru sekolah menengah yang unggul dengan menggunakan etika deontologis Kantian dan teori perkembangan moral Kohlberg. Esai ini merumuskan 15 maksim sebagai imperatif kategoris untuk memandu perilaku guru yang dapat diterima secara moral dan menyediakan kerangka multidisiplin untuk pelatihan guru.
D. Jelovacยท Education sciencesยท 2025ยท DOI 10.3390/educsci15070875

Masalah inti

Esai ini membahas peran kritis guru sekolah menengah dalam perkembangan moral remaja selama sosialisasi sekunder. Esai ini berargumen bahwa guru berperan sebagai teladan utama dalam membentuk kesadaran moral siswa. Berlandaskan etika deontologis Kantian dan diinformasikan oleh teori perkembangan moral Kohlberg, penulis bertujuan untuk mempertimbangkan kembali dan mendefinisikan ulang atribut moral, kebajikan, dan kewajiban seorang guru sekolah menengah yang unggul. Karya ini merespons kebutuhan akan pemahaman menyeluruh tentang dimensi moral pengajaran, melampaui keterampilan pedagogis semata untuk menekankan landasan etis.

Inovasi

Esai ini menggunakan pendekatan filosofis dan multidisiplin, memadukan wawasan dari filsafat, psikologi, pedagogi, sosiologi, dan antropologi. Esai ini terutama bersandar pada etika deontologis Kantian untuk merumuskan maksim moral sebagai imperatif kategoris. Maksim-maksim ini dirancang untuk memandu perilaku guru yang dapat diterima secara moral. Metodologinya bersifat konseptual dan normatif, bertujuan menyediakan kerangka teoretis alih-alih temuan empiris. Penulis secara sistematis menurunkan 15 maksim yang merangkum kewajiban moral guru, dengan fokus pada fungsinya sebagai teladan dalam membentuk kesadaran moral siswa, sebagaimana diinformasikan oleh teori perkembangan moral Kohlberg.
Pendahuluan
Esai ini membahas peran kritis guru sekolah menengah dalam perkembangan moral remaja selama sosialisasi sekunder. Esai ini berargumen bahwa guru berperan sebagai teladan utama dalam membentuk kesadaran moral siswa. Berlandaskan etika deontologis Kantian dan diinformasikan oleh teori perkembangan moral Kohlberg, penulis bertujuan untuk mempertimbangkan kembali dan mendefinisikan ulang atribut moral, kebajikan, dan kewajiban seorang guru sekolah menengah yang unggul. Karya ini merespons kebutuhan akan pemahaman menyeluruh tentang dimensi moral pengajaran, melampaui keterampilan pedagogis semata untuk menekankan landasan etis.

Mengapa penting

Pembahasan menempatkan 15 maksim tersebut dalam konteks pendidikan moral dan profesionalisme guru yang lebih luas. Pembahasan ini menyoroti kompleksitas profesi guru, yang tidak hanya menuntut keahlian bidang studi tetapi juga integritas moral. Esai ini berargumen bahwa atribut moral guru sangat penting untuk sosialisasi sekunder yang efektif, karena remaja memandang mereka sebagai teladan. Dengan memadukan etika Kantian dan teori perkembangan Kohlberg, penulis menyediakan kerangka menyeluruh yang menjembatani cita-cita filosofis dengan persoalan pedagogis praktis. Implikasinya bagi pelatihan guru sangat signifikan: program pelatihan harus menumbuhkan kebajikan dan kewajiban moral ini. Esai ini ditutup dengan saran bahwa penelitian di masa depan harus menguji secara empiris dampak maksim-maksim ini terhadap perilaku guru dan hasil siswa.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ