Editorial ilmu komputer
Open AccessOA2025
Alokasi Waktu Perawat Kesehatan Masyarakat di Lingkungan Keperawatan Pemerintah Daerah: Studi Waktu Prospektif Berbasis Laporan Sendiri
Penelitian ini mengukur bagaimana perawat kesehatan masyarakat di Jepang mengalokasikan waktu kerja mereka, mengungkap perbedaan signifikan antara perawat prefektur dan kotamadya serta menyoroti beban tugas administratif. Temuan ini menunjukkan perlunya realokasi beban kerja agar selaras dengan mandat masing-masing tingkat.
K. Yoshioka-Maeda; Hiroshige Matsumoto; C. Honda; Kazuya Taira; Noriko Hosoya; Miki Sato; Riho Iwasaki-Motegi; Yuka Sumikawa; H. Fujii; Takahiro Miura; Misa Shiomiยท Journal of Advanced Nursingยท 2025ยท DOI 10.1111/jan.70314
Masalah inti
Perawat kesehatan masyarakat (PHN) memainkan peran penting dalam kesehatan komunitas, namun alokasi waktu mereka untuk berbagai tugas masih kurang dipahami. Di Jepang, PHN bekerja di tingkat prefektur dan kotamadya, masing-masing dengan mandat administratif yang berbeda. PHN prefektur biasanya berfokus pada perencanaan dan koordinasi kesehatan regional, sedangkan PHN kotamadya memberikan layanan langsung seperti pemeriksaan kesehatan dan koordinasi individu. Namun, distribusi aktual aktivitas harian mereka belum diteliti secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana PHN mengalokasikan waktu mereka untuk berbagai tugas dan membandingkan pola penggunaan waktu antara PHN prefektur dan kotamadya, serta antar berbagai posisi jabatan. Memahami pola ini penting untuk mengoptimalkan perencanaan tenaga kerja dan memastikan PHN dapat berfokus pada layanan kesehatan masyarakat berdampak tinggi.
Inovasi
Penelitian ini menggunakan desain studi waktu prospektif berbasis laporan sendiri. Pesertanya adalah PHN dari dua kotamadya dan satu prefektur di Jepang. Mereka mencatat praktik harian dan alokasi waktu menggunakan Kintone, platform berbasis cloud. Data dikumpulkan selama suatu periode, menghasilkan 9.502 hari-orang data dari 121 peserta. Perbedaan alokasi waktu berdasarkan tingkat administratif (prefektur vs. kotamadya) dan posisi jabatan (manajer vs. non-manajer) dianalisis menggunakan model efek campuran linear untuk memperhitungkan pengukuran berulang dan pengelompokan. Penelitian ini mengikuti pedoman Strengthening the Reporting of Observational Studies in Epidemiology (STROBE). Uji ini terdaftar di UMIN Clinical Trials Registry (UMIN000051509).
Pendahuluan
Perawat kesehatan masyarakat (PHN) memainkan peran penting dalam kesehatan komunitas, namun alokasi waktu mereka untuk berbagai tugas masih kurang dipahami. Di Jepang, PHN bekerja di tingkat prefektur dan kotamadya, masing-masing dengan mandat administratif yang berbeda. PHN prefektur biasanya berfokus pada perencanaan dan koordinasi kesehatan regional, sedangkan PHN kotamadya memberikan layanan langsung seperti pemeriksaan kesehatan dan koordinasi individu. Namun, distribusi aktual aktivitas harian mereka belum diteliti secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana PHN mengalokasikan waktu mereka untuk berbagai tugas dan membandingkan pola penggunaan waktu antara PHN prefektur dan kotamadya, serta antar berbagai posisi jabatan. Memahami pola ini penting untuk mengoptimalkan perencanaan tenaga kerja dan memastikan PHN dapat berfokus pada layanan kesehatan masyarakat berdampak tinggi.
Mengapa penting
Temuan ini mengungkap perbedaan struktural dalam ekspektasi peran antara PHN prefektur dan kotamadya. PHN kotamadya lebih terlibat dalam pemberian layanan langsung dan dokumen, sedangkan PHN prefektur berfokus pada manajemen dan koordinasi. Proporsi waktu yang tinggi untuk tugas administratif, seperti dokumen permohonan, menunjukkan beban tersembunyi yang dapat mengurangi aktivitas klinis dan kesehatan komunitas. Manajer juga menghadapi pergeseran menjauh dari perawatan langsung, yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk mengawasi dan mendukung staf garis depan. Pola ini menegaskan perlunya realokasi beban kerja agar lebih selaras dengan mandat masing-masing tingkat. Strategi seperti prioritas tugas, integrasi alat teknologi informasi dan komunikasi (ICT), dan dukungan administratif yang lebih baik dapat mengurangi beban kerja non-klinis dan memungkinkan PHN berfokus pada layanan bernilai tambah berdampak tinggi yang mendorong kesetaraan kesehatan. Penelitian ini memberikan bukti kuantitatif pertama tentang alokasi waktu PHN di berbagai tingkat administratif dan posisi, menawarkan wawasan penting untuk perencanaan tenaga kerja dan penyediaan layanan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.
Siapa yang sebaiknya membaca
Praktisi kesehatan, peneliti klinis, dan pembaca Research Digest.
Membuka konten memberโฆ