Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial ilmu komputer

Open AccessOA2025

Resep dalam Bahaya: Sosiologi Antibiotik dan Resistensi Antimikroba di Lingkungan dengan Sumber Daya Terbatas

Komentar ini mengkaji pendorong sosiologis resistensi antimikroba (AMR) di lingkungan dengan sumber daya terbatas, menyoroti bagaimana keyakinan pasien, praktik peresepan, rantai pasok, dan kelemahan sistem kesehatan saling bersinggungan untuk memicu penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Kajian ini menyerukan intervensi berbasis komunitas yang disesuaikan untuk mengatasi dinamika sosial tersebut.
T. Melaku; Lidia Assegid· Discover Social Science and Health· 2025· DOI 10.1007/s44155-025-00225-1

Masalah inti

Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan publik global yang terus meningkat, terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas tempat akses ke layanan kesehatan dan obat-obatan yang tepat terbatas. Meskipun mekanisme biologis seperti mutasi genetik dan transfer gen horizontal merupakan pendorong AMR yang sudah mapan, kekuatan sosiologis juga memainkan peran besar dalam kemunculan dan penyebarannya. Namun, sosiologi penggunaan dan akses antibiotik di lingkungan dengan sumber daya terbatas sering diabaikan. Komentar ini membahas aspek sosiologis yang rumit—faktor sosiokultural, politik, dan ekonomi—yang berkontribusi terhadap penggunaan antibiotik yang suboptimal dan proliferasi AMR di lingkungan tersebut. Dengan mengacu pada berbagai laporan dari negara berpendapatan rendah dan menengah (LMIC), penulis berargumen bahwa keyakinan kesehatan pasien, praktik peresepan penyedia layanan, rantai pasok farmasi, dan kelemahan sistem kesehatan yang lebih luas saling bersinggungan untuk mendorong konsumsi antibiotik yang tidak tepat. Dampak disparitas sosial, kemiskinan, literasi kesehatan yang terbatas, dan ekonomi bayangan pasar obat yang tidak diatur melemahkan upaya untuk memastikan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab, sehingga hal ini menjadi sangat penting.

Inovasi

Karya ini adalah komentar, bukan studi empiris. Dengan demikian, karya ini tidak menggunakan pengumpulan data primer atau metode tinjauan sistematis. Sebaliknya, karya ini menyintesis literatur dan laporan yang ada dari negara berpendapatan rendah dan menengah untuk membangun argumen konseptual tentang dimensi sosiologis penggunaan antibiotik dan AMR. Penulis mengacu pada berbagai sumber untuk menggambarkan bagaimana faktor sosiokultural, politik, dan ekonomi membentuk pola konsumsi antibiotik dan berkontribusi terhadap resistensi. Pendekatan komentar ini bersifat interpretatif dan integratif, bertujuan menyoroti dinamika sosial yang terabaikan dan mengusulkan kerangka kerja untuk intervensi yang disesuaikan. Tidak ada strategi pencarian, kriteria inklusi, atau teknik analisis data spesifik yang dilaporkan, sesuai dengan format komentar.
Pendahuluan
Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan publik global yang terus meningkat, terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas tempat akses ke layanan kesehatan dan obat-obatan yang tepat terbatas. Meskipun mekanisme biologis seperti mutasi genetik dan transfer gen horizontal merupakan pendorong AMR yang sudah mapan, kekuatan sosiologis juga memainkan peran besar dalam kemunculan dan penyebarannya. Namun, sosiologi penggunaan dan akses antibiotik di lingkungan dengan sumber daya terbatas sering diabaikan. Komentar ini membahas aspek sosiologis yang rumit—faktor sosiokultural, politik, dan ekonomi—yang berkontribusi terhadap penggunaan antibiotik yang suboptimal dan proliferasi AMR di lingkungan tersebut. Dengan mengacu pada berbagai laporan dari negara berpendapatan rendah dan menengah (LMIC), penulis berargumen bahwa keyakinan kesehatan pasien, praktik peresepan penyedia layanan, rantai pasok farmasi, dan kelemahan sistem kesehatan yang lebih luas saling bersinggungan untuk mendorong konsumsi antibiotik yang tidak tepat. Dampak disparitas sosial, kemiskinan, literasi kesehatan yang terbatas, dan ekonomi bayangan pasar obat yang tidak diatur melemahkan upaya untuk memastikan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab, sehingga hal ini menjadi sangat penting.

Mengapa penting

Komentar ini berargumen bahwa mengatasi AMR di lingkungan dengan sumber daya terbatas memerlukan langkah melampaui pendekatan biomedis murni untuk memasukkan perspektif sosiologis. Persinggungan antara kemiskinan, literasi kesehatan yang terbatas, dan pasar obat yang tidak diatur menciptakan badai sempurna bagi penyalahgunaan. Misalnya, pasien mungkin tidak memiliki akses ke layanan kesehatan berkualitas yang terjangkau, sehingga mereka mengandalkan penyedia layanan informal atau pengobatan sendiri. Penyedia layanan, yang menghadapi keterbatasan sumber daya dan ekspektasi pasien, mungkin meresepkan antibiotik secara tidak tepat. Sementara itu, rantai pasok dan kerangka regulasi yang lemah memungkinkan obat di bawah standar beredar, semakin memicu resistensi.

Penulis menekankan bahwa intervensi harus disesuaikan dengan konteks lokal, mengatasi dinamika sosial yang bernuansa yang melanggengkan krisis. Ini termasuk pendidikan komunitas untuk meningkatkan literasi kesehatan, pelatihan dan dukungan bagi penyedia layanan kesehatan, memperkuat sistem regulasi, dan meningkatkan akses ke obat-obatan berkualitas yang terjangkau. Yang penting, upaya juga harus mengatasi determinan sosiokultural yang lebih luas, seperti kemiskinan dan ketidaksetaraan, yang membentuk penggunaan antibiotik. Komentar ini menyimpulkan bahwa pendekatan multifaset berbasis komunitas sangat penting untuk mengurangi AMR di komunitas dengan sumber daya terbatas.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…