Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Ilmu Komputer & AI

Open AccessOA2026

Menjembatani Celah Satu Jam Pertama: Evaluasi Keandalan AI dan Kekurangan Tolok Ukur dalam Respons Insiden Siber untuk Penegak Hukum

Survei sistematis arsitektur pendukung keputusan untuk petugas lini pertama, menyoroti batasan AI saat ini dan kebutuhan akan tolok ukur khusus penegak hukum.
Roshin Sleeba C; Hiran V Nath· 2026· DOI 10.48550/arXiv.2609.12681

Masalah inti

Satu jam pertama setelah insiden siber sangat kritis bagi penyidikan penegak hukum. Tindakan yang diambil petugas lini depan selama periode ini dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan penyidikan. Kesalahan kecil, sering kali akibat sifat volatil artefak digital, dapat menyebabkan kesalahan prosedural, penyusutan bukti, dan penuntutan yang terganggu. Makalah ini membahas kesenjangan dalam alat pendukung keputusan yang dirancang khusus untuk petugas lini pertama dengan kemampuan teknis terbatas dan infrastruktur forensik yang tidak konsisten. Makalah ini menyurvei secara sistematis arsitektur yang ada—playbook, Large Language Model (LLM), kerangka Retrieval-Augmented Generation (RAG), dan sistem Agentic AI—dan mengevaluasi kesesuaiannya untuk konteks penegak hukum. Penulis menyoroti kebutuhan akan solusi yang selaras dengan persyaratan yudisial dan menjaga integritas bukti sejak jam pertama.

Inovasi

Survei ini mengungkapkan bahwa sistem berbasis RAG muncul sebagai solusi perantara yang relatif layak karena adaptabilitas bahasa alaminya, yang memungkinkan petugas mengajukan kueri dalam bahasa sederhana. Namun, faktor risiko signifikan teridentifikasi: sensitivitas prompt dapat menyebabkan keluaran yang tidak konsisten, dan potensi halusinasi yang meyakinkan dalam konteks hukum menjadi tantangan besar. Playbook tradisional bersifat kaku dan mungkin tidak beradaptasi dengan insiden yang dinamis. LLM, meskipun fleksibel, kurang memiliki landasan pada pengetahuan hukum dan prosedural yang spesifik. Sistem Agentic AI, meskipun menjanjikan untuk otomatisasi, belum matang untuk penggunaan penegak hukum yang berisiko tinggi. Tolok ukur keamanan siber saat ini dinilai tidak memadai untuk menangkap persyaratan keselamatan dan hukum spesifik penegak hukum, terutama terkait jam pertama kejahatan siber.
Satu jam pertama setelah insiden siber sangat kritis bagi penyidikan penegak hukum. Tindakan yang diambil petugas lini depan selama periode ini dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan penyidikan. Kesalahan kecil, sering kali akibat sifat volatil artefak digital, dapat menyebabkan kesalahan prosedural, penyusutan bukti, dan penuntutan yang terganggu. Makalah ini membahas kesenjangan dalam alat pendukung keputusan yang dirancang khusus untuk petugas lini pertama dengan kemampuan teknis terbatas dan infrastruktur forensik yang tidak konsisten. Makalah ini menyurvei secara sistematis arsitektur yang ada—playbook, Large Language Model (LLM), kerangka Retrieval-Augmented Generation (RAG), dan sistem Agentic AI—dan mengevaluasi kesesuaiannya untuk konteks penegak hukum. Penulis menyoroti kebutuhan akan solusi yang selaras dengan persyaratan yudisial dan menjaga integritas bukti sejak jam pertama.
Studi ini melakukan survei sistematis terhadap arsitektur pendukung keputusan untuk petugas lini pertama kejahatan siber. Arsitektur tersebut dikategorikan menjadi empat jenis: playbook tradisional, LLM, kerangka RAG, dan sistem Agentic AI. Analisis ini secara kritis mempertimbangkan kendala praktis seperti kemampuan teknis petugas yang terbatas dan infrastruktur forensik yang tidak konsisten. Penulis mengevaluasi setiap kategori berdasarkan kemampuannya membantu pada jam pertama, dengan fokus pada adaptabilitas bahasa alami, faktor risiko seperti sensitivitas prompt dan halusinasi, serta keselarasan dengan persyaratan hukum dan keselamatan. Selain itu, makalah ini meninjau tolok ukur keamanan siber saat ini untuk menilai kecukupannya bagi kebutuhan penegak hukum, khususnya terkait ketahanan kueri naif dan pelestarian bukti.

Mengapa penting

Analisis ini menegaskan kesenjangan kritis antara alat pendukung keputusan AI yang ada dan kebutuhan petugas lini pertama penegak hukum. Sifat volatil bukti digital berarti bahwa bahkan kesalahan prosedural kecil dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Sistem RAG menawarkan keseimbangan antara fleksibilitas dan akurasi tetapi memerlukan pengamanan yang kuat terhadap sensitivitas prompt dan halusinasi. Penulis berargumen untuk tolok ukur evaluasi baru yang berfokus pada ketahanan kueri naif—memastikan sistem dapat menangani kueri yang tidak tepat atau non-teknis—dan pelestarian bukti, sehingga panduan berbasis AI selaras dengan proses peradilan yang wajib. Tolok ukur semacam itu perlu memasukkan standar hukum, persyaratan rantai kustodi, dan kendala praktis pemolisian lini depan. Makalah ini menyimpulkan bahwa tanpa tolok ukur tersebut, alat AI berisiko melemahkan penyidikan alih-alih mendukungnya.

Siapa yang sebaiknya membaca

Praktisi dan peneliti ilmu komputer

Membuka konten member…