Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2022
Kedokteran, Nilai, dan Pengetahuan di Klinik Hewan: Pertanyaan untuk dan dari Antropologi Medis serta Humaniora Medis
Artikel ini mengkaji bagaimana bidang humaniora kedokteran hewan yang sedang berkembang dapat memberi masukan dan menantang humaniora kedokteran yang mapan, terutama terkait konsep agensi, persetujuan, dan status pasien dalam konteks multi-spesies.
Jane C. Desmondยท Frontiers in Veterinary Scienceยท 2022ยท DOI 10.3389/fvets.2022.780482
Masalah inti
Artikel ini dibuka dengan mengakui pertumbuhan humaniora kedokteran hewan dan antropologi kedokteran hewan, lalu mengajukan pertanyaan bagaimana bidang-bidang ini berhubungan dengan humaniora medis dan antropologi medis yang sudah mapan. Penulis mencatat bahwa 'humaniora medis' memiliki dua alur utama: satu yang memakai humaniora untuk memperbaiki pendidikan kedokteran dengan menumbuhkan empati dan ekspresivitas, dan satu lagi yang menerapkan kritik budaya untuk mendenaturalisasi ideologi yang mendasari kedokteran manusia. Pertanyaan sentralnya adalah apakah perkembangan humaniora kedokteran hewan dapat membentuk ulang humaniora medis (manusia), dan sebaliknya. Secara spesifik, artikel ini bertanya: dapatkah perluasan ini memaksa konsepsi ulang atas gagasan agensi, persetujuan, dan posisi 'pasien'? Apa kegunaan dan batasan dari gagasan 'humaniora medis' multi-spesies? Dan apa yang bisa ditawarkan pendekatan komparatif semacam itu bagi kedokteran hewan dalam praktik dan kurikulum? Untuk menjawabnya, penulis bersandar pada kerja lapangan selama bertahun-tahun di klinik dan ruang kelas kedokteran hewan.
Inovasi
Artikel ini didasarkan pada kerja lapangan etnografis penulis yang ekstensif di klinik dan ruang kelas kedokteran hewan selama bertahun-tahun. Pendekatan kualitatif ini memungkinkan eksplorasi mendalam atas praktik harian, interaksi, dan struktur institusional yang membentuk kedokteran hewan kontemporer, terutama dalam konteks Amerika Serikat. Metodologinya melibatkan observasi partisipatif dan kemungkinan wawancara, sehingga penulis dapat menganalisis peran yang dimainkan kekhususan spesies dan relasi dengan manusia dalam pemberian layanan kedokteran hewan. Dengan menempatkan hewan sebagai pusat praktik tersebut, penulis mengkaji pertanyaan tentang persetujuan, resistensi, kewajiban dokter hewan, dan peran keuangan, lalu membandingkannya dengan kedokteran manusia. Analisis komparatif ini menjadi dasar untuk mempertimbangkan efek memperluas humaniora medis agar mencakup lebih dari satu spesies.
Pendahuluan
Artikel ini dibuka dengan mengakui pertumbuhan humaniora kedokteran hewan dan antropologi kedokteran hewan, lalu mengajukan pertanyaan bagaimana bidang-bidang ini berhubungan dengan humaniora medis dan antropologi medis yang sudah mapan. Penulis mencatat bahwa 'humaniora medis' memiliki dua alur utama: satu yang memakai humaniora untuk memperbaiki pendidikan kedokteran dengan menumbuhkan empati dan ekspresivitas, dan satu lagi yang menerapkan kritik budaya untuk mendenaturalisasi ideologi yang mendasari kedokteran manusia. Pertanyaan sentralnya adalah apakah perkembangan humaniora kedokteran hewan dapat membentuk ulang humaniora medis (manusia), dan sebaliknya. Secara spesifik, artikel ini bertanya: dapatkah perluasan ini memaksa konsepsi ulang atas gagasan agensi, persetujuan, dan posisi 'pasien'? Apa kegunaan dan batasan dari gagasan 'humaniora medis' multi-spesies? Dan apa yang bisa ditawarkan pendekatan komparatif semacam itu bagi kedokteran hewan dalam praktik dan kurikulum? Untuk menjawabnya, penulis bersandar pada kerja lapangan selama bertahun-tahun di klinik dan ruang kelas kedokteran hewan.
Mengapa penting
Analisis berpusat pada implikasi temuan ini bagi humaniora kedokteran hewan maupun manusia. Penulis berargumen bahwa memasukkan kedokteran hewan ke dalam humaniora medis memaksa pemikiran ulang atas konsep-konsep fundamental: agensi menjadi terdistribusi di antara hewan, pemilik, dan dokter hewan; persetujuan digantikan oleh pengambilan keputusan melalui perwakilan dan asensus; dan 'pasien' dikonsepsikan ulang sebagai makhluk dengan derajat sentiens dan nilai sosial yang beragam. Humaniora medis multi-spesies dapat memperkaya kedua bidang dengan menyoroti antroposentrisme kedokteran manusia dan asumsi khas spesies dalam praktik kedokteran hewan. Namun, ada batasannya, seperti risiko menyederhanakan perbedaan secara berlebihan atau memaksakan kerangka manusia pada perawatan hewan. Pendekatan komparatif menawarkan manfaat praktis bagi pelatihan kedokteran hewan, dengan menumbuhkan refleksivitas tentang dilema etis dan dimensi sosial kesehatan hewan. Pada akhirnya, artikel ini menyerukan humaniora medis yang lebih inklusif yang mengakui kehidupan manusia dan hewan yang saling terjerat dalam kesehatan dan penyakit.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ