Editorial Ilmu Sosial
Open AccessOA2022
Perubahan Longitudinal Faktor Otoritarian yang Dijelaskan oleh Keyakinan Politik dan Ketidakpercayaan terhadap Sains
Studi longitudinal di Selandia Baru menemukan bahwa kepatuhan otoritarian menurun seiring meredanya ancaman COVID-19, dengan kaum liberal menunjukkan penurunan yang lebih tajam dibandingkan kaum konservatif. Kepercayaan terhadap sains memediasi perubahan tersebut, menyoroti peran keyakinan politik dan ketidakpercayaan terhadap sains dalam dinamika otoritarian.
T. Winter; Benjamin C. Riordan; Boris Bizumic; J. Hunter; P. Jose; J. Duckitt; D. Scarfยท Frontiers in Political Scienceยท 2022ยท DOI 10.3389/fpos.2022.886732
Masalah inti
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan pergeseran signifikan dalam sistem keyakinan individu, termasuk dukungan terhadap kebijakan karantina wilayah, akibat ancaman virus yang dipersepsikan. Studi ini menyelidiki apakah sistem keyakinan tersebut, khususnya otoritarianisme, berfluktuasi sebagai respons terhadap perubahan ancaman COVID-19. Otoritarianisme dikonseptualisasikan sebagai seperangkat sikap yang mencakup kepatuhan terhadap otoritas, agresi terhadap kelompok luar, dan ketaatan pada norma konvensional. Para peneliti melakukan studi longitudinal di Selandia Baru, mengukur otoritarianisme pada dua titik waktu: selama puncak pandemi (Level Siaga 4) dan ketika ancaman rendah (Level Siaga 1, tanpa kasus komunitas yang diketahui). Sebanyak 888 partisipan melengkapi pengukuran orientasi politik, ketidakpercayaan terhadap sains, dan otoritarianisme pada kedua waktu tersebut. Studi ini mengajukan hipotesis bahwa (1) kaum liberal akan menunjukkan penurunan kepatuhan otoritarian yang lebih besar dibandingkan kaum konservatif seiring menurunnya ancaman, dan (2) perubahan otoritarianisme akan dimediasi oleh kepercayaan terhadap sains. Kerangka teoretis ini bersandar pada gagasan bahwa otoritarianisme sensitif terhadap ancaman eksistensial dan bahwa kepercayaan terhadap sains mungkin mendasari perbedaan politik dalam respons terhadap ancaman.
Inovasi
Studi ini menggunakan desain longitudinal dengan dua gelombang pengumpulan data di Selandia Baru. Gelombang 1 berlangsung selama Level Siaga 4 (karantina wilayah paling ketat, ketika ancaman COVID-19 tinggi), dan Gelombang 2 berlangsung selama Level Siaga 1 (ketika ancaman rendah, tanpa kasus komunitas yang diketahui). Sebanyak 888 partisipan merespons pada kedua titik waktu. Pengukuran mencakup otoritarianisme (kemungkinan menggunakan skala seperti skala Right-Wing Authoritarianism), orientasi politik (liberal-konservatif), dan ketidakpercayaan terhadap sains. Para penulis menggunakan analisis mediasi untuk menguji apakah perubahan kepercayaan terhadap sains menjelaskan hubungan antara orientasi politik dan perubahan otoritarianisme. Studi ini mengontrol potensi perancu dan memastikan presedensi temporal dengan mengukur variabel pada dua titik waktu yang berbeda. Sampel kemungkinan representatif bagi populasi Selandia Baru, meskipun rincian demografis spesifik tidak disediakan dalam abstrak. Desain longitudinal memungkinkan analisis perubahan dalam diri individu, memperkuat inferensi kausal tentang pengaruh ancaman terhadap sikap otoritarian.
Pendahuluan
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan pergeseran signifikan dalam sistem keyakinan individu, termasuk dukungan terhadap kebijakan karantina wilayah, akibat ancaman virus yang dipersepsikan. Studi ini menyelidiki apakah sistem keyakinan tersebut, khususnya otoritarianisme, berfluktuasi sebagai respons terhadap perubahan ancaman COVID-19. Otoritarianisme dikonseptualisasikan sebagai seperangkat sikap yang mencakup kepatuhan terhadap otoritas, agresi terhadap kelompok luar, dan ketaatan pada norma konvensional. Para peneliti melakukan studi longitudinal di Selandia Baru, mengukur otoritarianisme pada dua titik waktu: selama puncak pandemi (Level Siaga 4) dan ketika ancaman rendah (Level Siaga 1, tanpa kasus komunitas yang diketahui). Sebanyak 888 partisipan melengkapi pengukuran orientasi politik, ketidakpercayaan terhadap sains, dan otoritarianisme pada kedua waktu tersebut. Studi ini mengajukan hipotesis bahwa (1) kaum liberal akan menunjukkan penurunan kepatuhan otoritarian yang lebih besar dibandingkan kaum konservatif seiring menurunnya ancaman, dan (2) perubahan otoritarianisme akan dimediasi oleh kepercayaan terhadap sains. Kerangka teoretis ini bersandar pada gagasan bahwa otoritarianisme sensitif terhadap ancaman eksistensial dan bahwa kepercayaan terhadap sains mungkin mendasari perbedaan politik dalam respons terhadap ancaman.
Mengapa penting
Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritarianisme bersifat dinamis dan responsif terhadap ancaman eksistensial, dengan ideologi politik dan kepercayaan terhadap sains memainkan peran kunci dalam menjelaskan perbedaan individu dalam perubahan. Studi ini menyarankan bahwa fluktuasi otoritarianisme dapat bervariasi di seluruh spektrum politik karena sistem keyakinan yang mendasarinya, khususnya ketidakpercayaan terhadap sains. Hal ini berimplikasi pada pemahaman bagaimana masyarakat merespons krisis: selama periode ancaman tinggi, sikap otoritarian dapat meningkat secara menyeluruh, tetapi ketika ancaman menurun, kaum liberal dapat kembali lebih cepat karena kepercayaan mereka yang lebih besar terhadap sains. Temuan ini juga menyoroti pentingnya komunikasi sains dan kepercayaan dalam meredam kecenderungan otoritarian. Batasan meliputi konteks spesifik Selandia Baru, yang memiliki respons pandemi yang unik, dan ketergantungan pada pengukuran laporan diri. Penelitian selanjutnya harus mengkaji dinamika ini dalam konteks budaya lain dan mengeksplorasi mediator tambahan. Secara keseluruhan, studi ini berkontribusi pada literatur tentang otoritarianisme, ancaman, dan psikologi politik dengan menunjukkan perubahan longitudinal dan peran mediasi kepercayaan terhadap sains.
Siapa yang sebaiknya membaca
Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.
Membuka konten memberโฆ