Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholat…

Editorial Hukum

Open AccessOA2025

Penggunaan Bahasa di Pengadilan dalam Hukum Internasional: Pemikiran tentang Penerapan Pasal 9 Piagam Eropa untuk Bahasa Regional atau Minoritas di Hungaria

Studi ini mengkaji hak menggunakan bahasa minoritas di pengadilan berdasarkan Pasal 9 Piagam Eropa untuk Bahasa Regional atau Minoritas dan Pasal 6 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, menyoroti kelemahan struktural dan peran mahkamah konstitusi dalam menegakkan hak bahasa di Hungaria.
L. Gyeney· Hungarian Journal of Minority Studies· 2025· DOI 10.62152/hjms.2025.gyl

Masalah inti

Studi ini dibuka dengan wawasan filosofis Ludwig Wittgenstein: "Batas bahasaku berarti batas duniaku." Hal ini menegaskan pentingnya bahasa bagi komunitas minoritas. Penulis berargumen bahwa kelangsungan hidup bahasa minoritas tidak hanya bergantung pada keberadaan komunitas penutur, tetapi juga pada komitmen yang sadar dan terlembagakan terhadap kebijakan bahasa oleh negara. Penelitian ini berfokus pada dimensi spesifik penggunaan bahasa minoritas: hak untuk menggunakan bahasa sendiri di pengadilan. Studi ini membandingkan ketentuan Pasal 6 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (ECHR) dan Pasal 9 Piagam Eropa untuk Bahasa Regional atau Minoritas (Piagam Bahasa) sebagai kerangka normatif. Studi ini bertujuan menilai penerapan Pasal 9 di Hungaria, khususnya dalam proses pidana, perdata, dan administrasi, serta mengidentifikasi kelemahan struktural yang dapat melemahkan hak penggunaan bahasa di pengadilan.

Inovasi

Studi ini menggunakan metodologi doktrinal-hukum, menganalisis instrumen hak asasi manusia internasional dan regional, khususnya Pasal 6 ECHR dan Pasal 9 Piagam Bahasa. Studi ini mengkaji karakteristik linguistik proses pidana, perdata, dan administrasi untuk memahami bagaimana hak bahasa dioperasionalkan. Pendekatan studi kasus digunakan, dengan fokus pada Putusan Mahkamah Konstitusi Hungaria 2/2021. (I. 7.) AB, untuk menggambarkan interpretasi yudisial dan penegakan hak bahasa. Analisis dikontekstualisasikan dalam lingkungan hukum dan politik Hungaria, menyoroti peran mahkamah konstitusi dan mahkamah agung dalam menafsirkan hak bahasa sebagai "hak yang hidup." Studi ini juga mempertimbangkan pembatasan teritorial dan numerik, serta diskresi yudisial, sebagai faktor yang memengaruhi realisasi hak-hak tersebut.
Pendahuluan
Studi ini dibuka dengan wawasan filosofis Ludwig Wittgenstein: "Batas bahasaku berarti batas duniaku." Hal ini menegaskan pentingnya bahasa bagi komunitas minoritas. Penulis berargumen bahwa kelangsungan hidup bahasa minoritas tidak hanya bergantung pada keberadaan komunitas penutur, tetapi juga pada komitmen yang sadar dan terlembagakan terhadap kebijakan bahasa oleh negara. Penelitian ini berfokus pada dimensi spesifik penggunaan bahasa minoritas: hak untuk menggunakan bahasa sendiri di pengadilan. Studi ini membandingkan ketentuan Pasal 6 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (ECHR) dan Pasal 9 Piagam Eropa untuk Bahasa Regional atau Minoritas (Piagam Bahasa) sebagai kerangka normatif. Studi ini bertujuan menilai penerapan Pasal 9 di Hungaria, khususnya dalam proses pidana, perdata, dan administrasi, serta mengidentifikasi kelemahan struktural yang dapat melemahkan hak penggunaan bahasa di pengadilan.

Mengapa penting

Studi ini berargumen bahwa kelangsungan hidup bahasa minoritas memerlukan lebih dari sekadar komunitas penutur; hal itu menuntut komitmen yang sadar dan terlembagakan terhadap kebijakan bahasa oleh negara. Kelemahan struktural Pasal 9 Piagam Bahasa—seperti minimalisasi hak yang dapat ditegakkan dan diperbolehkannya pembatasan teritorial dan numerik—menimbulkan tantangan signifikan. Dalam lingkungan politik saat ini, mahkamah konstitusi dan mahkamah agung memiliki peran kunci dalam menafsirkan dan menegakkan secara efektif hak bahasa sebagai "hak yang hidup." Putusan Mahkamah Konstitusi Hungaria 2/2021. (I. 7.) AB menggambarkan bagaimana badan yudisial dapat membentuk realisasi praktis hak bahasa. Penulis menyarankan bahwa pendekatan yudisial yang lebih proaktif, dikombinasikan dengan kerangka normatif yang lebih jelas, sangat penting untuk memastikan bahwa penutur bahasa minoritas dapat sepenuhnya menggunakan hak mereka untuk memakai bahasa mereka di pengadilan. Hal ini sejalan dengan gagasan Wittgenstein bahwa memperluas dunia linguistik seseorang sangat penting bagi kelangsungan hidup komunitas minoritas.

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten member…