Jadwal Sholat

Memuat jadwal sholatโ€ฆ

Editorial Pendidikan

Open AccessOA2023

Memperkenalkan pedagogi komunikasi antarbudaya dan pertanyaan tentang liyan

Digest ini memperkenalkan edisi khusus Pedagogy, Culture & Society tentang pedagogi komunikasi antarbudaya, dengan argumen bahwa bidang ini terlalu lama berpegang pada model kompetensi yang esensialis yang menghapus perbedaan. Digest ini menyoroti dua tema yang terabaikan: yang tertindas berubah menjadi penindas dan kerangka normatif pedagogi kritis.
Maria Dasli; Ashley Simpsonยท Pedagogy, Culture & Societyยท 2023ยท DOI 10.1080/14681366.2022.2164339

Masalah inti

Makalah ini berfungsi sebagai pengantar untuk edisi khusus *Pedagogy, Culture & Society* berjudul 'Intercultural Communication Pedagogy and the Question of the Other'. Makalah ini muncul dari acara peluncuran Institute for Language Education di Moray House School of Education and Sport, University of Edinburgh. Para penulis, Maria Dasli dan Ashley Simpson, berargumen bahwa pedagogi komunikasi antarbudaya terlalu lama berpegang pada model kompetensi yang esensialis yang menghapus semua perbedaan. Mereka berpendapat bahwa untuk melawan efek-efek ini, perhatian yang lebih besar harus diberikan pada relasi etis yang paling pra-orisinal dan tak dapat disintesiskan antara diri dan liyan. Makalah ini bersandar pada debat-debat yang telah memproblematisasi model kompetensi, membahas dua tema sentral yang saling terkait yang cenderung terabaikan oleh debat-debat tersebut.

Inovasi

Makalah ini merupakan pengantar konseptual dan kritis, bukan studi empiris. Makalah ini berjalan melalui analisis teoretis atas debat-debat yang ada tentang pedagogi komunikasi antarbudaya dan model kompetensi. Para penulis terlibat dengan pedagogi kritis dan filsafat etika untuk memproblematisasi reduksi komunikasi antarbudaya menjadi kompetensi yang terukur. Metodologi ini melibatkan pembacaan cermat atas konsep-konsep kunci seperti 'liyan', penindasan, dan emansipasi, serta menyintesiskan konsep-konsep tersebut menjadi kerangka yang mempertanyakan asumsi normatif yang mendasari baik model kompetensi tradisional maupun pedagogi kritis. Makalah ini berpuncak pada pertanyaan-pertanyaan yang menggerakkan kontribusi untuk edisi khusus ini, dengan menawarkan ikhtisar atas makalah-makalah yang disertakan.
Pendahuluan
Makalah ini berfungsi sebagai pengantar untuk edisi khusus *Pedagogy, Culture & Society* berjudul 'Intercultural Communication Pedagogy and the Question of the Other'. Makalah ini muncul dari acara peluncuran Institute for Language Education di Moray House School of Education and Sport, University of Edinburgh. Para penulis, Maria Dasli dan Ashley Simpson, berargumen bahwa pedagogi komunikasi antarbudaya terlalu lama berpegang pada model kompetensi yang esensialis yang menghapus semua perbedaan. Mereka berpendapat bahwa untuk melawan efek-efek ini, perhatian yang lebih besar harus diberikan pada relasi etis yang paling pra-orisinal dan tak dapat disintesiskan antara diri dan liyan. Makalah ini bersandar pada debat-debat yang telah memproblematisasi model kompetensi, membahas dua tema sentral yang saling terkait yang cenderung terabaikan oleh debat-debat tersebut.

Mengapa penting

Para penulis berargumen bahwa pedagogi komunikasi antarbudaya harus bergerak melampaui model kompetensi yang esensialis dan juga secara kritis memeriksa batasan-batasan pedagogi kritis. Relasi etis antara diri dan liyan, yang bersandar pada filsafat Levinasian, disajikan sebagai relasi pra-orisinal dan tak dapat disintesiskan yang tidak dapat direduksi menjadi kompetensi atau kerangka normatif. Makalah ini membahas bagaimana yang tertindas dapat menjadi penindas ketika mereka mengadopsi gagasan budaya terunifikasi yang sama seperti yang mereka lawan, dan bagaimana misi emansipatoris pedagogi kritis dapat mengarah pada kerangka yang totalistik. Edisi khusus ini bertujuan mengeksplorasi ketegangan-ketegangan ini melalui berbagai kontribusi yang mempertanyakan liyan dan menawarkan cara-cara alternatif untuk memikirkan pedagogi komunikasi antarbudaya. Para penulis menyimpulkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggerakkan edisi khusus ini, seperti: Bagaimana kita dapat memperhatikan liyan tanpa mereduksinya menjadi sama? Apa implikasinya bagi pedagogi?

Siapa yang sebaiknya membaca

Pembaca Research Digest dan praktisi rumpun ini.

Membuka konten memberโ€ฆ